⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Debu beterbangan di arena latihan. Keringat membasahi dahi kedua cowok itu. Seongje, dengan seringai khasnya, kembali berhasil menjatuhkan Wooyoung. Wooyoung, meski kesal, harus mengakui keunggulan sepupunya itu. Setiap kali mereka bertarung, Seongje selalu selangkah lebih maju.
Setelah pertarungan usai, mereka duduk beristirahat di pinggir lapangan. Seongje menatap Wooyoung dengan tatapan serius, sesuatu yang jarang dia lakukan.
"Kau memang hebat, shibal," kata Wooyoung, mengusap keringat di dahinya. "Entah bagaimana caranya, kau selalu bisa mengalahkanku."
Seongje menyeringai. "Tentu saja. Aku ini jenius."
Wooyoung mendengus. "Terserahlah. Tapi, ada apa? Tumben sekali kau serius begini."
Seongje menghela napas. "Begini, aku butuh bantuanmu."
"Bantu apa?"
"Aku ingin kau mengawasi Seoyeon."
Wooyoung mengangkat alisnya. "Seoyeon? Adik kembarmu? Memangnya kenapa?"
"Aku khawatir padanya. Akhir-akhir ini, dia sering terlibat dengan orang aneh. Aku ingin seseorang yang bisa menjaganya, dan karena kau sepupunya, aku pikir kau orang yang tepat."
"Kau tahu aku peduli pada Seoyeon," kata Wooyoung. "Tapi, kenapa nggak kau saja yang menjaganya?"
"Aku ada urusan lain," jawab Seongje, mengalihkan pandangannya. "Dan aku percaya padamu. Kau bisa menjaganya lebih baik dariku."
Wooyoung terdiam sejenak. Dia tahu Seongje sangat menyayangi Seoyeon, meskipun terkadang terlihat cuek. "Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan mengawasinya."
Seongje menepuk bahu Wooyoung. "Terima kasih, Wooyoung. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."
Setelah kesepakatan itu dibuat, suasana di antara mereka menjadi lebih santai. Wooyoung, yang masih terkesan dengan kemampuan Seongje, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Yak, Seongje," kata Wooyoung, "kau tahu, dengan kemampuanmu itu, kau seharusnya menjadi atlet. Kau pasti akan sangat sukses."
Seongje tertawa sinis. "Atlet? Yang benar saja. Aku nggak tertarik."
"Kenapa? Kau punya bakat alami," desak Wooyoung. "Kau selalu menang dalam setiap pertarungan."
"Itu hanya hobi," jawab Seongje, mengangkat bahu. "Aku punya tujuan lain dalam hidupku."
"Tujuan apa?" tanya Wooyoung, penasaran.
Seongje terdiam sejenak, lalu berkata, "Itu bukan urusanmu."
Wooyoung mendengus. "Tentu saja. Tapi, sayang sekali. Kau bisa menjadi atlet hebat."
"Sudah kubilang, aku nggak tertarik," ulang Seongje, dengan nada tegas. "Lagipula, menjadi atlet itu melelahkan. Aku lebih suka menikmati hidupku."
"Menikmati hidup?" Ejek Wooyoung.
Seongje hanya tersenyum tipis. "Terserah apa katamu. Yang penting, aku bahagia."
Wooyoung menggelengkan kepala, menyerah. "Baiklah, baiklah. Tapi, jangan menyesal nanti."
"Aku nggak akan menyesal," kata Seongje, berdiri. "Sekarang, aku harus pergi. Ingat, awasi Seoyeon."
"Tentu," jawab Wooyoung. "Aku akan menjaganya."
Seongje mengangguk, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan Wooyoung yang masih duduk di pinggir lapangan, menatap kepergian sepupunya dengan tatapan penuh tanya. Dia duduk di sana beberapa jam lagi.
Wooyoung melirik jam tangannya. Sudah waktunya Seoyeon pulang sekolah.
SMA Perempuan Seoyi, Wooyoung bergegas menuju gerbang sekolah itu. Tidak lama, para siswi mulai berhamburan keluar. Matanya mencari sosok Seoyeon di antara kerumunan.
Akhirnya, ia melihat Seoyeon berjalan keluar gerbang, wajahnya tampak lelah. Wooyoung melambaikan tangan, dan Seoyeon menoleh, matanya membelalak kaget.
"Wooyoung? Sedang apa kau di sini?" tanya Seoyeon, menghampiri sepupunya.
"Menjemputmu," jawab Wooyoung santai.
"Menjemputku? Kenapa?" Seoyeon mengerutkan kening.
"Seongje memintaku," kata Wooyoung, "Dia khawatir padamu, dan memintaku untuk mengawasimu."
Wajah Seoyeon langsung berubah kesal. "Mengawasiku? Aku bukan anak kecil yang perlu diawasi!"
"Aku tahu, aku tahu," kata Wooyoung, mencoba meredakan amarah sepupunya. "Tapi, kau tahu bagaimana Seongje. Dia selalu khawatir berlebihan."
"Khawatir berlebihan?" Seoyeon mendengus. "Dia bahkan tidak pernah berbicara padaku. Tiba-tiba saja menyuruhmu mengawasiku, ini aneh."
"Dia hanya peduli padamu, Seoyeon," kata Wooyoung. "Dia bilang kau terlibat dengan orang-orang aneh akhir-akhir ini."
"Orang aneh?" Seoyeon mengangkat alisnya. "Siapa yang kau maksud?"
"Entahlah," jawab Wooyoung. "Dia tidak memberitahuku detailnya. Tapi, dia sangat khawatir."
Seoyeon terdiam sejenak, tampak berpikir. "Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi, aku nggak butuh pengawasan. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Tentu saja," kata Wooyoung, tersenyum. "Tapi, anggap saja ini bantuan dari sepupumu yang tampan dan baik hati."
Seoyeon memutar bola matanya, tapi kemudian tersenyum tipis.
"Jadi, kau mau langsung pulang atau bagaimana?" tanya Wooyoung, memecah keheningan.
"Nggak, aku masih harus pergi bimbel," jawab Seoyeon, menghela napas. "Hari ini jadwalnya padat sekali."
"Oh, begitu," kata Wooyoung. "Mau kuantar ke tempat bimbel?"
"Nggak perlu," tolak Seoyeon halus. "Tempatnya dekat, aku bisa naik bus."
"Baiklah, kalau begitu hati-hati," pesan Wooyoung. "Kabari aku kalau ada apa-apa."
"Ya," jawab Seoyeon sambil tersenyum, lalu berbalik dan berjalan menuju halte bus.
Wooyoung menghela napas, menatap punggung Seoyeon yang semakin menjauh. Ia tahu bahwa mengawasi Seoyeon tidak akan mudah. Seoyeon adalah gadis yang mandiri dan keras kepala, dan dia tidak suka dikekang. Tapi, Wooyoung berjanji pada Seongje, dan dia akan menepati janjinya.
Wooyoung memastikan Seoyeon naik bus. Tapi kemudian dia diam-diam mengikuti bus tersebut. Sampai bus itu berhenti di halte area Noryangjin, tepat di depan sebuah gedung bimbel. Hero Academy.
Wooyoung melihat dari seberang jalan, Seoyeon masuk ke dalam gedung itu.
Hero Academy, dia memperhatikannya untuk beberapa saat, sampai kemudian di tidak sengaja melihat seseorang yang tidak asing.
Sedetik kemudian, Wooyoung mengerutkan kening. "Yoon Sieun? Apa yang dia lakukan di sini?" Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benak Wooyoung. Dia agak sedikit terkejut.
Terakhir kali mereka bertemu, Yoon Sieun telah membuatnya babak belur, meskipun tubuhnya kurus dan tampak lemah. Padahal Wooyoung adalah seorang petarung MMA terlatih.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
FanfictionRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
