⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Seoyeon termenung di kamarnya, memikirkan tentang pertemuaan dengan Baekjin.
Na Baekjin. Ketua Aliansi itu bagaikan teka-teki yang membuatnya semakin penasaran. Kekuatan, karisma, dan aura dingin yang terpancar dari setiap gerak-geriknya menimbulkan pertanyaan besar di benaknya: siapa sebenarnya orang ini?
Pertanyaan itu semakin mendesak menjelang konfrontasi besar antara Aliansi dan Eunjang. Seoyeon merasa, untuk bisa menghadapi musuh sekuat Na Baekjin, ia perlu tahu lebih banyak tentangnya. Kelemahan, kekuatan, atau bahkan sekadar latar belakangnya bisa menjadi celah yang krusial dalam pertempuran yang akan datang.
Tiba-tiba, ingatan Seoyeon melayang pada sebuah percakapan samar yang pernah ia dengar. Tentang seseorang di balik shuttle patch, sebuah komunitas daring tertutup yang dikenal memiliki jaringan informasi yang luas dan akurat di kalangan siswa SMA. Mereka seolah memiliki mata dan telinga di mana-mana, mengetahui seluk-beluk berbagai sekolah dan individu.
"Mungkin mereka tahu sesuatu tentang Na Baekjin," gumam Seoyeon, matanya berbinar penuh harapan.
Keesokan harinya, Seoyeon tiba di basecamp Eunjang dengan Wooyoung di sisinya. Suasana di sana terasa lebih tenang dari biasanya, namun aura persiapan untuk kemungkinan terburuk tetap terasa kental. Ketika mereka masuk, Humin yang sedang berbincang dengan Sieun dan beberapa anak lain segera menghampiri mereka.
"Seoyeon! Kau sudah datang," sapa Humin lega, lalu matanya beralih pada Wooyoung di sampingnya. "Wooyoung juga ikut?"
Wooyoung mengangguk singkat sebagai jawaban.
Saat itulah, mata Suho yang berdiri tak jauh dari Humin tertuju pada Wooyoung. Ada keterkejutan yang jelas terlihat di wajahnya, sampai kemudian, ekspresi wajahnya berubah datar..
"Kau..." gumam Suho, langkahnya terhenti. "Bukankah kau... Wooyoung?"
Wooyoung yang tadinya tampak tenang, kini menegang. Matanya membulat melihat Suho, dan raut wajahnya berubah menjadi campuran antara keterkejutan dan rasa bersalah.
Humin yang menyadari perubahan suasana, menatap keduanya dengan bingung. "Suho, kau kenal Wooyoung?"
Suho mengangguk pelan, tatapannya tak lepas dari Wooyoung. "Kami... punya sejarah." Lalu ia menoleh pada Seoyeon sekilas.
Sieun lalu datang memghampiri mereka. "Seoyeon, kenalkan, ini Ahn Suho. Dia... teman lamaku."
Mata Seoyeon agak membelakak. "Ah, jadi ini yang namanya Suho?" Dia melirik Sieun dan segera mendapat anggukan. Seoyeon mengulurkan tangannya dengan ramah. "Senang bertemu denganmu, Suho."
Suho membalas uluran tangan Seoyeon dengan senyum tipis. Setelah itu, perhatiannya kembali tertuju pada Wooyoung.
"Sudah lama sekali," kata Suho, nada suaranya bercampur antara keheranan dan sedikit getir.
Wooyoung menghela napas panjang, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap Suho. "Suho... aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, dan di tenpat ini."
Suasana di sekitar mereka menjadi canggung. Gayool, Hyuntak, dan yang lainnya saling bertukar pandang, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Seoyeon sendiri merasa ada sesuatu yang besar tersembunyi di antara kedua orang yang saling berhadapan sekarang.
Seoyeon masih belum tahu apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu, antara Sieun dan Wooyoung, dan sekarang, Wooyoung dan Suho juga.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Wooyoung, berusaha memecah keheningan. mengangkat kepalanya, menatap Suho dengan ekspresi penyesalan. "Maksudku, kudengar kau sempat...." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "...kau kembali."
Suho mengangguk. "Ya, aku kembali. Ada banyak hal yang perlu kuluruskan." Tatapannya beralih tajam pada Wooyoung. "Termasuk tentang apa yang terjadi dulu."
Wooyoung tampak semakin tidak nyaman. Ia mengalihkan pandangannya, sebelum akhirnya kembali menatap Suho dengan mata penuh penyesalan. "Suho... aku minta maaf." Suaranya terdengar berat. "Aku tahu kata-kata tidak akan cukup, tapi... aku benar-benar menyesal atas semua yang terjadi waktu itu."
Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini diwarnai dengan rasa bersalah dan penyesalan. Humin dan teman-temannya hanya bisa menyaksikan interaksi yang sarat akan masa lalu itu. Mereka tahu, pertemuan tak terduga antara Suho dan Wooyoung ini pasti akan membawa pengaruh besar pada dinamika kelompok mereka, terutama menjelang pertarungan besar yang sudah di ambang pintu.
Pertanyaan tentang "apa yang terjadi dulu" kini menggantung di udara, menunggu untuk dijawab.
Seoyeon merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan. Ia menatap bergantian antara Suho dan Wooyoung, mencoba membaca situasi. Ada luka lama yang belum sembuh di antara keduanya, dan pertemuan tak terduga ini jelas membukanya kembali.
"Mungkin... kita bisa membicarakan ini nanti," sela Sieun pelan, berusaha mencairkan suasana yang semakin tidak nyaman.
Suho menghela napas, mengalihkan pandangannya dari Wooyoung. "Ya, mungkin nanti lebih baik."
Wooyoung mengangguk setuju, tampak lega dengan jeda yang ditawarkan. Namun, raut penyesalan di wajahnya masih jelas terlihat.
Seoyeon, meskipun penasaran dengan masa lalu keduanya, merasa ada hal yang lebih mendesak saat ini. Pertemuan dengan Na Baekjin dan persiapan untuk menghadapi Aliansi jauh lebih penting daripada mengorek luka lama.
"Suho," kata Seoyeon, menarik perhatian pemuda itu. "Senang bertemu denganmu. Sieun banyak bercerita tentangmu." Ia berusaha bersikap ramah dan tidak terpengaruh oleh ketegangan yang baru saja terjadi. "Kami sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan konfrontasi dengan Aliansi. Kudengar kau juga cukup kuat."
Suho menoleh pada Seoyeon, ekspresinya kembali tenang. "Aku akan membantu sebisa mungkin. Eunjang adalah rumah bagi Sieun, jadi itu juga berarti penting bagiku."
Mendengar itu, Sieun menatap Suho dengan tatapan penuh terima kasih. Kehadiran Suho memberikan rasa aman dan dukungan yang besar.
"Baiklah," kata Seoyeon, mengangguk mantap. "Semakin banyak kekuatan yang kita miliki, semakin besar peluang kita." Seoyeon menoleh pada Wooyoung "Wooyoung, kau juga..."
"Aku akan pergi sekarang," kata Wooyoung, memutus ucapan Seoyeon, membuat alis gadis itu berkerut tidak senang. "Aku punya janji bertemu Seongje." Dia tersenyum manis, lalu mengacak pucuk rambut Seoyeon yang langsung menarik atensi Humin dan Sieun.
"Telfon aku kalau sudah mau pulang," pesannya.
"Tapi, Wooyoung..."
"Dah, Seoyeon."
Seoyeon menghembuskan napas berat melihat kepergian Wooyoung. Tadinya dia ingin mengajak Wooyoung untuk jadi bagian dari pasukan Eunjang.
"Sudahlah." Ia menghela napas pasrah.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
FanfictionRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
