weak heroine - 31

1.1K 199 4
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


Seoyeon berjalan menyusuri jalan melaui gang, sesekali melirik ponselnya yang menampilkan maps, mengikuti petunjuk dari titik lokasi yang diberikan Humin padanya. Hari ini ia berjanji pada Humin dan Sieun bahwa ia akan datang ke basecamp mereka. Sebenarnya, ia sedikit ragu untuk pergi ke sana. Ia takut tidak diterima di kelompok itu. Tapi Seoyeon harus tetap melakukannya karena dia juga harus meminta maaf.

"Apa kamu yakin ini tempatnya?" tanya Heekyung ragu.

Seoyeon mengangguk, walaupun sebenarnya ia juga tidak yakin. "Humin bilang di sini tempatnya. Tapi, kenapa sepi ya?"

Heekyung mengedikkan bahunya. "Mungkin mereka belum datang?"

Karena sebelumnya, Seoyeon sudah berjanji tidak akan main sendirian atau tanpa Heekyung lagi, jadi setelah pulang les, Heekyung sudah menunggu di lobi Hero Academy begitu Seoyeon memberitahunya lewat pesan singkat bahwa hari ini ia akan menmui anak-anak Eunjang di basecamp mereka. Seoyeon juga sudah menceritakan permasalahannya, jadi Heekyung menawarkan diri untuk membantu Seoyeon meminta maaf.

Seoyeon menghela napas. Ia menatap gedung di depannya dengan tatapan nanar. "Baiklah, ayo kita masuk saja."

Seoyeon dan Heekyung akhirnya masuk ke dalam gedung itu.

Dengan hati-hati, Seoyeon dan Heekyung melangkah masuk ke dalam gedung yang tampak kosong dan suram itu. Debu dan bau hangus menyambut mereka, sisa-sisa dari kebakaran yang pernah melanda tempat ini. Mereka berdua menaiki tangga, menuju lantai dua, tempat yang ditunjukkan oleh Humin.

Saat mereka tiba di lantai dua, mereka melihat sebuah ruangan yang cukup luas, yang tampaknya menjadi markas bagi anak-anak Eunjang. Di dalam ruangan itu, mereka melihat Humin, Hyuntak, Gayool, Sieun, Juntae, dan Juyang.

"Seoyeon?" Humin memecah keheningan, menatap Seoyeon dengan ekspresi campuran antara terkejut dan lega.

Seoyeon mengangguk, lalu menatap satu per satu wajah anak-anak yang ada di sana. "Hai semuanya," sapanya dengan suara pelan.

Suasana kembali hening, hanya suara angin yang berdesir melalui jendela-jendela yang pecah yang terdengar. Heekyung, yang berdiri di samping Seoyeon, merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan itu.

Sieun mengangguk kecil, matanya menatap Seoyeon dengan lembut, meskipun ekspresinya tetap datar. "Senang kamu baik-baik saja."

Juntae dan Juyang hanya diam, pandangan mereka tertuju pada lantai. Kekecewaan masih terpancar jelas di wajah mereka. Gayool, seperti biasa, tampak santai dan sulit dibaca, menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tangan terlipat.

Hyuntak, dengan nada tegas, memecah kesunyian. "Kau saudari Geum Seongje. Kenapa kau berbohong waktu itu?"

Seoyeon menelan ludah, menatap Hyuntak. "Itu, sebenarnya...."

"Dia punya alasan." Heekyung menyela, berdiri di samping Seoyeon. "Seoyeon merasa tertekan dengan status Geum Seongje."

"Kamu tidak perlu berbohong," Juyang tiba-tiba angkat suara. "Kami ini teman-temannya. Kami akan mengerti."

"Aku tahu, maaf," Seoyeon berkata dengan suara bergetar. "Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku hanya... aku hanya takut."

"Takut apa?" tanya Hyuntak, meskipun nadanya sudah mulai melembut.

"Takut kalian akan membenciku? Saudaraku adalah bagian dari aliansi sementara kalian bertentangan dengannya...." Seoyeon menghela napas dalam-dalam.

Suasana kembali hening. Anak-anak Eunjang saling bertukar pandang, menyadari betapa rapuhnya Seoyeon. Humin, dengan lembut, mendekati Seoyeon dan menepuk pundaknya.

"Kami tidak akan membencimu, Seoyeon," kata Humin. "Kami semua menyayangimu. Kami hanya ingin kamu jujur pada kami."

"Iya, Seoyeon," tambah Juntae, suaranya pelan. "Kamu tidak perlu takut." Dia kemudian tersenyum ringis. "Tapi sungguh, itu luar biasa kamu adalah saudari kembar dari Geum Seongje."

"Benar, mereka bahkan tidak mirip," timpal Juyang.

Suasana tegang perlahan mereda, digantikan oleh kebingungan dan rasa penasaran. Anak-anak Eunjang saling berbisik, mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dapatkan.

"Jadi, kamu benar-benar saudara kembar Geum Seongje?" tanya Gayool, dengan nada santai seperti biasa. "Itu gila."

Seoyeon mengangguk lemah, masih merasa sedikit gugup. "Iya, tapi... aku harap itu tidak mengubah apa pun di antara kita."

"Tentu saja tidak," kata Humin, tersenyum meyakinkan. "Kami tetap temanmu, Seoyeon. Status saudaramu tidak ada hubungannya dengan itu."

Seoyeon mengangguk, merasa lega dan bersyukur. "Terima kasih, semuanya."

Kemudian, Seoyeon teringat pada Heekyung, yang sedari tadi berdiri diam di sampingnya. "Oh iya, kenalkan, ini Heekyung. Sahabatku." kata Seoyeon, menunjuk Heekyung. "Dia yang membantuku datang ke sini."

Heekyung tersenyum ramah dan membungkuk sedikit. "Halo semuanya. Senang bertemu dengan kalian."

"Annyeong," jawab anak-anak Eunjang serempak, menatap Heekyung dengan rasa ingin tahu.

"Baiklah, karena semuanya sudah jelas, bagaimana kalau kita pesan makanan?" kata Gayool, memecah keheningan. "Aku sudah lapar dari tadi."

"Ide bagus," kata Humin, mengangguk setuju. "Aku juga." Raut wajahnya menjadi super ceria.

"Jadi," kata Juntae, memecah keheningan, "bagaimana kalau kita pesan pizza?"

Semua orang tertawa, dan suasana tegang yang tadinya menyelimuti ruangan itu pun menghilang. Seoyeon merasa lega dan bahagia. Ia tahu bahwa ia telah membuat kesalahan, tetapi ia juga tahu bahwa ia telah mendapatkan pengampunan. Ia merasa diterima di kelompok itu, dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi teman yang lebih baik bagi mereka semua.

Seoyeon dan anak-anak Eunjang mulai berbicara satu sama lain, berbagi cerita dan tawa. Heekyung, yang merasa lega melihat Seoyeon diterima kembali, tersenyum tipis.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang