weak heroine - 35

1K 185 6
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

"Mereka berdua benar-benar monster," gumam Juntae, matanya tak berkedip dari pertarungan di depannya. "Aku nggak percaya Humin bisa sekuat ini."

"Hakho juga tidak main-main," sahut Teo, wajahnya tegang. "Pukulan mereka seperti menghancurkan beton."

"Ini gila," kata Juyang, menggelengkan kepalanya. "Aku nggam tahu siapa yang akan menang."

Sieun tetap diam, matanya terpaku pada Humin. Dia tahu Humin kuat, tapi dia tidak menyangka Humin bisa menandingi Hakho. Ada kekhawatiran yang tak terucapkan di matanya.

"Mereka berdua sangat kuat," kata Gayool, suaranya pelan. "Tapi aku khawatir Humin akan terluka."

"Dia bisa menjaga dirinya sendiri," kata Hyuntak, mencoba meyakinkan Gayool. "Dia sudah mengalahkan Bae Jihoon, kan?"

"Tapi Hakho berbeda," sahut Juyang tiba-tiba. "Dia orang terkuat kedua setelah Na Baekjin."

Di tengah lapangan, Humin dan Hakho terus bertukar pukulan. Mereka berdua terluka, tapi tidak ada yang mau menyerah.

"Kau benar-benar kuat, Humin," kata Hakho, terengah-engah. "Tapi aku nggak akan kalah."

"Aku juga nggak akan kalah," jawab Humin, matanya berkilat-kilat. "Aku punya alasan untuk menang."

"Alasan apa?" tanya Hakho.

"Aku punya teman-teman yang menungguku," kata Humin, matanya menatap ke arah Seoyeon dan yang lainnya. "Aku nggak bisa mengecewakan mereka."

Hakho terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kau benar-benar teman yang baik, Humin. Tapi itu nggak akan cukup untuk mengalahkanku."

Pertarungan kembali memanas. Humin dan Hakho saling menyerang dengan lebih brutal dari sebelumnya. Pukulan dan tendangan mereka semakin cepat dan kuat.

Tiba-tiba, Humin berhasil melancarkan pukulan telak ke wajah Hakho, membuatnya terhuyung mundur. Hakho terkejut, tapi dia segera bangkit dan kembali menyerang.

Pertarungan terus berlanjut. Kali ini, Hakho berhasil menjatuhkan Humin ke tanah. Humin terengah-engah, tidak mampu bangkit. Dia menatap ke arah teman-temannya yang khawatir.

"Hakho, maaf!" Seoyeon tiba-tiba berseru keras, sejenak membuyarkan ketegangan yang ada "Humin, semangat!!!"

Seruan Seoyeon memecah keheningan, memberi semangat pada Humin yang terbaring di tanah. Humin, yang tadinya menatap teman-temannya dengan tatapan pasrah, kini menatap Seoyeon dengan mata berkilat-kilat.

"Seoyeon..." gumam Humin, suaranya lemah.

"Semangat, Humin! Kau bisa!" teriak Seoyeon lagi, suaranya bergetar. "Kami semua percaya padamu!"

Sorakan Seoyeon memicu gelombang semangat di antara teman-teman Humin. Mereka semua mulai bersorak, memberikan dukungan pada Humin.

"Humin, bangkitlah!" seru Juntae.

"Jangan menyerah!" teriak Gayool.

"Kami semua ada di sini bersamamu!" kata Juyang.

Sieun, yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. "Humin, kau nggak sendirian."

Humin, yang mendengar sorakan teman-temannya, merasakan kekuatan baru mengalir dalam dirinya. Dia mengepalkan tangannya, mencoba bangkit.

"Aku... aku nggak boleh menyerah," gumam Humin, suaranya bergetar. "Aku punya teman-teman yang menungguku."

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang