Ending

1.5K 137 21
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Hari itu, setelah menyelesaikan les tambahan yang cukup melelahkan, Seoyeon dan Sieun berjalan bersama menuju halte.

Langit sore mulai menggelap, lampu-lampu jalanan satu per satu mulai menyala. Mereka berdua larut dalam obrolan santai tentang pelajaran yang baru saja mereka pelajari, sesekali tertawa kecil mengingat tingkah laku guru mereka yang unik.

Tiba-tiba, langkah mereka terhenti saat melihat sosok yang familiar duduk sendirian di halte bus yang sepi. Itu adalah Na Baekjin. Sejak bubarnya Aliansi, mereka jarang bertemu, dan melihatnya di luar konteks pertempuran terasa sedikit aneh.

Dengan ragu, Seoyeon dan Sieun mendekati Baekjin. Pria itu mendongak saat mendengar langkah kaki mereka. Tidak ada aura dingin atau permusuhan yang terpancar dari wajahnya, hanya kelelahan yang tampak jelas.

"Baekjin?" sapa Seoyeon pelan.

Baekjin mengangguk kecil. "Geum Seoyeon, Sieun."

Suasana canggung menyelimuti mereka sejenak. Namun, Seoyeon merasa tidak ada alasan untuk menghindar. Ia duduk di bangku halte, diikuti oleh Sieun.

Obrolan di antara mereka awalnya terasa kaku, membahas hal-hal ringan seperti cuaca dan kegiatan sehari-hari. Namun, perlahan, percakapan mengalir lebih dalam. Mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal, mulai dari kesulitan belajar hingga pandangan mereka tentang masa depan.

Baekjin, yang biasanya irit bicara, mulai banyak bercerita tentang masa lalunya dan alasan di balik ambisinya. Seoyeon dan Sieun mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami sisi lain dari mantan ketua Aliansi itu. Mereka melihat penyesalan dan kelelahan yang mendalam dalam diri Baekjin, seolah beban berat telah lama ia pikul sendirian.

Ketika topik pembicaraan beralih ke pelajaran, Baekjin menunjukkan ketertarikan pada mata pelajaran yang sedang dipelajari Seoyeon dan Sieun. Ia bahkan ikut memberikan penjelasan dan sudut pandang yang berbeda, menunjukkan kecerdasan dan pengetahuannya yang luas. Dan Sieun dengan lihai, mengikuti arah pembicaraannya.

Pembahasan yang semakin mendalam dan kompleks membuat kepala Seoyeon sedikit berdenyut. Ia berusaha keras untuk mengikuti alur pemikiran Baekjin dan Sieun yang terkadang sulit ditebak. Namun, di sisi lain, ia merasa senang bisa bertukar pikiran dengan seseorang yang memiliki perspektif yang berbeda darinya. Ia merasa pengetahuannya bertambah dan sudut pandangnya semakin luas.

"Kalian...pasti akan jadi teman yang baik jika bertemu lebih awal dan dengan cara yang baik"

Kata-kata Seoyeon berhasil menarik atensi dua cowok yang sedang mendiskusikan pelajaran.

Seoyeon tersenyum ketika mereka menoleh bersamaan.

"Melihat kalian berdekatan seperti ini, kalian tampak seperti saudara"

Baekjin melirik Sieun sekilas dan tersenyum tipis "kau benar, mungkin kita bisa menjadi teman...sekarang"

Sieun menatap uluran tangan Baekjin. Hampir lima detik lamanya sebelum Sieun menyambut salam itu dengan hati yang lebih lapang.

Di moment itu ponsel Seoyeon tiba-tiba berdering. Nama Humin tertera di layar. Dengan senyum lebar, Seoyeon mengangkat panggilan itu.

"Seoyeon! Kau di mana? Aku dan yang lain sedang berkumpul di kedai ayam tosik Kau mau ikut?" suara Humin terdengar ceria di ujung telepon.

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang