weak heroine - 24

1.2K 215 3
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


"Seoyeon..."

Suara lirih Juyang yang memanggilnya membuat hati Seoyeon mencelos. Dia masih duduk di samping Seongje yang masih belum sadar. Tangannya gemetar ketakutan karena saking cemasnya.

Pikirannya kacau. Dia juga menghawatir Sieun, Juntae dan Juyang, tapi Seongje adalah saudaranya.

"Sieun harus segera di bawah ke rumah sakit," cetus Humin. Suara dinginnya terasa menusuk hati Seoyeon, membuatnya bahkan tidak berani mendongkak untuk menatap Humin, Juntae atau pun Juyang.

"Ayo pergi," suara Humin terdengar lagi. Masih dalam intonasi dingin yang sama.

Dan selanjutnya, Seoyeon tidak lagi mendengar apa-apa selain hembusan angin yang lalu begitu saja.

Di atas atap itu. Orang-orang masih terdiam. Sampai kemudiam, seseorang yang tadi berjaga di depan pintu masuk dan membuyarkan suasana di sana.

"Kenapa kau tidak pergi dengan pacar dan teman-temanmu?"

"Nggak usah banyak tanya. Mending, kau bantu bawa Seongje ke rumah sakit sekarang," kata Seoyeon.

Salah satu dari cowok-cowok itu berdecih menanggapi Seoyeon, "memang kau siapa, hah? Beraninya memerintah sok bossy begitu."

Seoyeon menggigit bibirnya karena kesal, tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak langsung menghajar cowok barusan yang menyahutinya.

"Terus kalian mau biarin dia aja gitu? Nggak liat kondisinya gimana?" omel Seoyeon.

"Memang kau siapa? Apa pedulimu?" sahut cowok yang lain.

"Mending kau susul cowokmu sana!"

Seoyeon menggeretakan bibir, rasa kesalnya berubah jadi amarah. "Sial. Banyak bacot banget, bangsat."

Seoyeon sudah akan bangkit berdiri untuk menghajar cowok-cowok itu. Mereka menatapnya dengan tatapan remeh yang benar-benar menyebalkan.

"Berhenti."

Sahutan paruh Seongje yang baru saja sadar langsung menarik perhatian mereka.

Melupakan niatnya untuk menghajar anak buah Seongje, Seoyeon langsung kembali duduk di samping saudaranya itu dan membantunya bangkit mencapai posisi duduk.

"Ya, kau...ayo ke rumah sakit," ajak Seoyeon, mengambil sebelah lengan Seongje dan merangkulnya, membantunya untuk berdiri.

Tapi Seongje dengan cepat, mencegahnya, "nggak perlu."

Alis Seoyeon langsung menekuk tidak senang.

"Berikan kacamataku," kata Seongje. Kemudian menerima kaca matanya yang sebelumnya di berikan pada salah satu bawahnya sebelum dia mulai menghajar Juntae san Juyang tadi.

Geplakan pada kepala Seongje yang didalangi Seoyeon karena dia muak atas sikap Seongje saat ini membuat para anak buah Seongje terkejut bahkan ada yang melongo dan bergidik ngeri, menerka apa yang akan Seongje lakukan sebagai balasan atas sikap kasar Seoyeon.

Tapi, diluar dugaan. Seongje hanya memberikan tatapan tajam yang dibalas Seoyeon dengan tatapan tajam pula.

"Cewek, ini berani-beraninya..."

"Diam kau!" sela Seongje pada anak buahnya yang barusan berseloroh. "Kalian mending pergi sana!" Dengan tatapan tajamnya, dia mengusir.

"Tapi..."

Ngeri melihat tatapan Seongje yang tajam. Cowok satunya langsung menarik temannya yang hendak protes.

"Sudah, ayo pergi."

Sepeninggalkan anak buahnya, perhatian Seongje kembali beralih pada Seoyeon dan dia langsung di sungguhkan dengan ekspresi cemberut yang dipadukan dengan tatapan kesal adiknya.

"Berdiri sekarang. Kita ke rumah sakit," pinta Seoyeon.

"Nggak usah. Ini nggak ada apa-apanya..."

Mata Seoyeon melotot lebar. "Nggak ada apa-apanya? Kepalamu berdarah, goblok!"

Seongje meringis karena teriakan Seoyeon. Dia akhirnya bangkit berdiri. Lalu melepaskan sepenuhnya bajunya yang sudah sobek. Menampakkan beberapa lebam lainnya disana.

Mata Seoyeon menyipit makin tajam, sedikit ngeri. "Pokonya ayo ke rumah sakit. Gimana kalau kau kena luka dalam yang serius?"

"Nggak usah lebay."

"Aku serius, bangsat. Kalau kau mati karena luka dalam yang nggak di periksa itu gimana, hah!"

Seongje memutar bola mata malas. "Mending ayo pulang aja." Seongje menatap adiknya sesaat, memberi isyarat untuk segera bergerak sebelum dia berjalan lebih dulu.

Seoyeon cemberut dan kesal atas sikap Seongje, tapi dari tatapan matanya, sangat jelas dia masih menghawatirkan saudaranya tersebut.

"Dasar, keras kepala," dumel Seoyeon. Sebelum mengikuti Seongje, mengambil satu lengannya untuk dirangkulkan ke bahunya. "Sini ku bantu. Bisa gawat kalau kau oleng dan jatuh berguling ditangga. Malah jadi makin menyusahkan."

Seongje terkekeh, membuat Seoyeon jengkel.

"Tadi itu, seru juga," kata Seongje. Seoyeon melirik dengan alis bertaut kesal. "Ternyata si ular itu boleh juga, meski curang banget pakek barang."

Seoyeon langsung menanggapi, "kau seharusnya nggak melakukan itu pada mereka..." Ekspresi Seoyeon jadi muram. Dia merasa bersalah pada Sieun, Juntae dan Juyang. Mereka juga pasti marah padanya karena malah lebih menghawatirkan orang yang memukul mereka.

"Aku nggak bakal ngelakuin itu kalau bukan mereka yang cari masalah..."

"Apa maksudmu? Mereka bukan anak-anak yang suka cari masalah seperti kacung-kacungmu itu," kata Seoyeon, tidak terima.

"Nyatanya begitu. Karena bajingan rambut jabrik itu, kinerjaku jadi diremehkan si bangsat Lee Sehan."

"Apa sih maksudmu?"

"Bukan urusanmu..."

"Tidak!" kata Seoyeon lebih tegas. Kali ini dia sampai berhenti berjalan dan menatap Seongje. "Ada hubungannya dengan aliansi, kan?"

Seongje mengerang pelan. Dia benar-benar tidak ingin melibatkan Seoyeon atas masalah apa pun antara dia dan Alinasi. Tapi sikap Seoyeon sekarang menegaskan bahwa adiknya tersebut tidak akan mumdur begitu saja sampai dia tahu apa yang terjadi.

Seongje menghela napas pasrah, dia akhirnya memberitahunya, "Aku kehilangan barang penting. Tas hitam dengan bordiran tulisan Gold itu, berisi berkas dan uang yang akan dugunakan oleh Aliansi. Dan anak culun itu merampoknya dari anak buahku."

Ekspresi Seoyeon mengeruh tidak percaya. Juyang tidak mungkin melakukan itu.

Tunggu, Seoyeon ingat sesuatu.

"Itu bukan dia. Juyang tidak mencuri tas itu," beritahu Seoyeon. Sepertinya dia mulai paham apa yang sebenarnya terjadi. "Dia mengatakan tas itu milik seorang cewek."

Alis Seongje berkerut. "Jelaskan."

"Cewek itu merusak tas Juyang dan memberikan tasnya sendiri sebagai jaminan. Katanya dia akan mengambilnya nanti setelah mengganti tas Juyang yang dia rusak."

Seongje menggeleng tidak percaya. "Nggak mungkin. Memang ada banyak tas model begituan, tapi hanya satu yang memiliki bordiran Gold macam..." ekspresi Seongje langsung mengeras dengan tatapan tajam. Kata-katanya terhenti begitu saja saat dia mulai memahami situasi.

Sepertinya ada yang sedang mengadu domba, menyebalkannya, Seongje merasa dia telah diperalat.

"Aha, bangsat."

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang