weak heroine - 58

799 121 4
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Di ujung lorong itu, ada tiga orang. Tepat ketika Na Baekjin dan eksekutif aliansi melangkah menyusuri lorong hingga jadi lebih dekat dengan orang-orang itu. Na Baekjin melepas kaca mata hitam, lalu dengan seringgaian dia menyapa "Halo, semuanya"

Tiga orang itu menoleh. Para eksekutif Cheongang. Aura yang mereka pancarkan berbeda. Tidak ada kesombongan remaja di sana, hanya ketenangan yang berbahaya dan tatapan mata yang sarat pengalaman, namun tampak sangat arogan.

"Siapa cecenguk-cecenguk ini?"

Mengabaikan pertanyaan itu, Na Barkjin justru mengajukan pertanyaan lain.

"Biar kutanya satu hal...apakah Han Changhee ada di atas?"

"Apa?" Salah satu eksekutif Cheongang mengerutkan alis jengkel, pria berkacamata itu menatap Na Baekjin dengan tatapan mencela, "kau gila ya, memang bos Changhee itu temanmu?"

Baekjin menghebuskan nafas bosan, membuat si pria kacamata jadi lebih kesal.

Jihoon diam-diam mengepalkan tangan, bersiap dengan tinju tidak terduga.

"Bagaimana kalian bisa naik ke sini?"

Begitu satu kalimat itu lolos dari si pria berkacamata, Jihoon melayangkan pukulan keras dengan telak ke wajahnya.

Namun, tampaknya tindakan gegabah Jihoon tidak sedikitpun membuat para eksekutif Cheongang terintimidasi.

Hakho memperhatikan dalam diam tapi penuh pengamatan dan analisis. Tentu saja, orang-orang ini bukan orang biasa. Lagak sombong Jihoon, tidak akan berguna di sini.

Sebuah pukulan balasan kemudian diterima oleh Jihoon. Rasanya lebih kuat, sampai membuatnya mundur secara paksa.

"Keparat!" cetus Jihoon dengan penuh murka.

"Kau pikir ini dimana? Beraninya cari gara-gara," kata si pria berkacamata. Tangannya yang habis meninju Jihoon masih terkepal kokoh. "Siapa kalian keparat sial?"

Pria di sebelahnya terkekeh pelan, menjawab untuk temannya. "Mereka orang  Yeongdeungpo."

Pria itu berambut panjang sepangkal leher, bertampang paling tengil dari dua pria beraut serius di sisinya. "Padahal hari ini kami berkumpul gara-gara kalian loh. Tapi terima kasih sudah datang sendiri." Seringaiannya penuh percaya diri dengan sorot mata meremehkan ke arah lawan. "Kupikir kalian itu bocah-bocah pengecut. Ternyata kalian nggak membuang-buang waktu ya. Nggak nyangka loh."

"Kalian ini hanyalah sekumpulan bocah ingusan yang baru kemarin sore," sahut si pria kacamata.

"Mungkin," balas Seongje dingin, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Tapi bocah ingusan ini yang sudah menjatuhkan orang-orang kalian di depan pintu."

Ketegangan di lorong itu semakin meningkat. Aura permusuhan terasa semakin pekat. Jihoon, yang sudah mengepalkan tinjunya erat-erat, siap membalas pukulan.

Hakho masih berdiri tenang di samping Baekjin, matanya mengamati setiap gerak-gerik lawan. Ia tahu bahwa ini bukan pertarungan biasa. Lawan mereka memiliki pengalaman dan perhitungan yang matang.

"Kalian benar-benar tidak tahu sopan santun," desis eksekutif Cheongang berkacamata. "Kalian akan menyesal datang ke sini."

"Kami tidak takut pada ancaman kosong," jawab Jihoon dengan nada meremehkan. "Kami datang untuk menyelesaikan masalah ini. Secara langsung."

Eksekutif Cheongang berambut panjang itu menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya. "Baiklah kalau begitu. Kalau kalian memang mencari masalah, kami tidak akan mengecewakan kalian."

Tiga lawan tiga, tanpa Baekjin. Dia tahu kemampuan para anak buahnya, dia sama sekali tidak meragukan kemampuan mereka, tapi dengan eksekutif Cheongang sebagai lawan, mungkin akan jadi sulit.

Baekjin memegang pundak Hakho. "Hakho, kuserahkan yang di sini padamu," katanya, melepaskan tanggung jawab pada orang nomor dua aliansi.

Baekjin melangkah masuk ke dalam lift vvip dan naik ke lantai atas sendirian.

Tanpa basa-basi, pertarungan pun dimulai.

Jihoon, dengan kecepatan dan kelincahannya, melancarkan serangan pertama. Pukulan dan tendangannya menghantam salah satu eksekutif Cheongang, membuatnya terhuyung ke belakang.

Hakho, dengan ketenangan dan keahlian bela dirinya, menghadapi lawannya dengan gerakan-gerakan yang terukur. Ia menghindari serangan-serangan brutal, lalu melancarkan serangan balik yang mematikan.

Seongje, dengan amarah dan kekuatannya yang luar biasa, menghancurkan lawannya dengan pukulan-pukulan yang menghancurkan. Ia tidak peduli dengan rasa sakit, hanya fokus pada satu tujuan: melumpuhkan lawannya.

Pukulan-pukulan keras beradu, suara tulang retak dan erangan kesakitan memenuhi gedung. Debu dan keringat bercampur, menciptakan suasana yang mencekam.

Di tengah pertarungan, Hakho berhasil melumpuhkan lawannya. Ia melompat mundur, dengan gerakan-gerakan yang terukur, berhasil mengalahkan lawannya. Ia berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah para eksekutif Cheongang.

Seongje, meskipun ekspresinya tampak santai dan tanpa emosi, namun setiap pukulan yang dia layangkan, dipenuhi oleh kekuatan dan semangat yang membara, menghancurkan lawannya dengan pukulan terakhir. Ia berdiri di atas lawannya yang tak berdaya, napasnya terengah-engah.

Pertarungan antara Jihoon dan eksekutif Cheongang  mencapai puncaknya. Mereka saling melancarkan serangan-serangan brutal, tidak ada yang mau mengalah. Namun, sayangnya kemampuan Jihoon masih jauh untuk bisa menang. Ketika dia mendapatkan pukulan telak dari lawannya dan nyaris jatuh, pikiranya dipenuhi oleh kemarahan dan kekecewaan. Perkelahian Hakho dan Seongje dengan lawan mereka masing-masing menunjukan sejauh apa mereka telah berkembang. Sementara dirinya seolah berjalan di tempat.

Melihat kekalahan Jihoon, Hakho turun tangan. Dan tidak butuh waktu lama bagi Hakho untuk menjatuhkan eksekutif Cheongang terakhir.

Hakho berbalik, menatap, Seongje dan Jihoon. "Kita sudah selesai di sini," katanya. "Mari kita pergi."

Mereka naik ke lantai atas. Menuju ruangan pemimpin Cheongang. Namun, begitu mereka sampai di sana, pertarungan sudah selesai.

Ruangan yang kacau dan darah dan lebam yang diderita dua pemimpin dari kelompok yang berbeda itu, membuktikannya.

"Sesuai penawaranmu. Aku anggap, perjanjiannya sudah disepakati," kata Baekjin final, mengahiri pembicaraan berat mereka dengan bangkit dari tempat duduknya.

Para eksekutif Cheongang nyaris maju karena tidak terima dengan apa yang terjadi pada bos mereka. Tapi Han Changhee langsung menghentikan mereka.

"Kesepakatan sudah dilakukan. Biarkan mereka pergi."

Ada kebingungan yang melanda mereka yang diambang pintu. Tidak hanya eksekutif Cheongang tapi juga anggota aliansi.

Na Baekjin memang berdarah, akibat segaris luka dari irisan pisau diwajahnya, tapi selain itu, tidak ada lebam atau bekas pukulan lain padanya. Sementara Han Changhee, terlihat sangat babak belur meski tubuhnya masih duduk dengan tegap.

Saat itu, baik Cheongang dan aliansi menyadari. Dengan tangan kosong, tidak ada yang bisa menyentuh Na Baekjin.

To Be Continued

A/n

Hai, akhirnya bisa up lagi.

Maaf ya kelamaan. Mood nulisku agak sedikit teralihkan.

Tapi tetap, aku bakal tepatin janji buat nyelesaiin cerita ini sampe tamat sebelum s2 tayang.

Jangan lupa tinggalkan vote dan komentar~

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang