weak heroine - 68

618 106 0
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


Di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda, pertempuran antara Eunjang dan Aliansi mencapai puncaknya. Perlahan tapi pasti, dengan semangat pantang menyerah dan taktik cerdik, siswa-siswa Eunjang berhasil membalikkan keadaan. Kehadiran Seongje di pihak mereka memberikan dorongan moral dan kekuatan tambahan yang signifikan.

Satu per satu, anggota Aliansi mulai tumbang. Meskipun mereka memiliki jumlah yang lebih banyak, semangat mereka terkikis melihat kekalahan demi kekalahan. Para eksekutif Aliansi berusaha keras untuk mempertahankan barisan, namun gempuran dari Eunjang terlalu kuat.

Namun, di tengah kekalahan telak Aliansi, satu sosok tetap berdiri tegak dan tak terkalahkan: Na Baekjin. Dengan amarah yang membara dan kekuatan yang luar biasa, ia terus bertarung, merobohkan siapa pun yang berani menghadapinya. Bahkan Humin dan Suho yang mencoba menghentikannya kewalahan menghadapi keganasannya yang menggila. Bahkan, meski dengan segala taktik perlawan Sieun yang penuh jebakan.

Baekjin terus meraung, menantang siapa pun untuk melawannya. Matanya merah padam, dan setiap gerakannya memancarkan aura kehancuran. Para siswa Eunjang yang tersisa mulai gentar melihat kekuatan Baekjin yang seolah tak terbatas.

Seoyeon, yang menyaksikan kegilaan Baekjin dari kejauhan, merasa ada sesuatu yang salah. Ini bukan lagi pertarungan biasa. Baekjin tampak seperti orang yang kehilangan kendali, terus mencari pertarungan seolah itu adalah satu-satunya tujuan hidupnya.

Dengan tekad bulat, Seoyeon berlari menerobos sisa-sisa anggota Aliansi yang mulai mundur, menuju ke arah Na Baekjin. Ia melihat Sieun terengah-engah, berusaha menahan amukan ketua Aliansi itu.

"Baekjin! Hentikan!" teriak Seoyeon, suaranya nyaris tertelan derasnya hujan.

Baekjin menoleh, tatapannya kosong dan penuh amarah. "Kau lagi? Kau juga ingin bertarung?"

Seoyeon menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya ingin kau berhenti. Semua ini sudah berakhir."

"Berakhir?" Baekjin tertawa sinis. "Tidak akan pernah berakhir sampai aku menemukan seseorang yang bisa mengalahkanku! Bahkan anak yang kau banggakan itu..." Baekjin menunjuk ke arah Sieun yang sedang berusaha berdiri. "...tidak ada apa-apanya!"

Seoyeon menatap Baekjin dengan tatapan iba. "Kau salah, Baekjin. Bukan karena tidak ada yang bisa mengalahkanmu. Tapi karena kau tidak bisa menerima kekalahan. Bahkan Sieun, yang kau harapkan, tidak ingin bertarung dengan cara seperti ini."

Kata-kata Seoyeon seolah menusuk pertahanan Baekjin. Kegilaan di matanya sedikit meredup. Ia menatap Sieun yang berdiri dengan susah payah, lalu kembali menatap Seoyeon.

"Yang aku harapkan?" gumam Baekjin lirih, seolah baru menyadari sesuatu.

Hujan terus mengguyur wajahnya, bercampur dengan air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Kekuatan dan amarahnya perlahan surut, digantikan oleh kelelahan yang mendalam.

"Aku... aku lelah," kata Baekjin dengan suara serak. "Semua ini... aku lelah."

Ia menatap Seoyeon dengan tatapan kosong, kehilangan semua keganasannya. Ia menarik Seoyeon dan berbisik padanya, "Ini... ini saatnya bagimu."

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang