weak heroine - 38

913 157 4
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Di ruang biliar siang itu, suara dentingan bola biliar beradu memenuhi ruangan. Sieun, Juntae, Hyuntak, Gayool, Juyang, dan Teo sedang asyik bermain. Tanpa kehadiran Humin, suasana terasa sedikit berbeda.

"Hyuntak, di mana Humin?" tanya Sieun, memecah keheningan.

Hyuntak mengangkat bahu. "Menjemput Seoyeon, dia bilang begitu di telfon," jawabnya, sambil membidik bola. "Mingkin sebentar lagi dia datang."

"Seoyeon juga akan datang?" tanya Juyang, dia agak antusias.

"Mungkin," kata Hyuntak, tidak begitu perduli.

Teo, yang baru-baru ini bergabung dengan geng mereka, menatap mereka dengan rasa ingin tahu. "Geum Seoyeon, dia beneran pacarnya Humin?"

Suasana tiba-tiba menjadi tegang karena mereka terkejut dengan pertanyaan Teo.

"Itu hanya rumor," kata Sieun, dengan nada datar. "Mereka hanya teman."

"Tapi mereka terlihat sangat dekat," kata Teo, tidak menyerah. "Kemarin juga saat perkelahian dengan Ji Hakho."

"Mereka memang dekat," kata Hyuntak, menghela napas. "Tapi mereka nggak pacaran."

"Ngomong-ngomong soal Ji Hakho, gimana ya, Seoyeon bisa kenal dengannya. Mereka juga keliatannya akrab," ujar Juntae.

"Selain saudaranya Geum Seongje, dia juga berteman dekat dengan Ji Hakho," kata Juyang, terkagum-kagum. "Aku nggak bakal kaget lagi jika dia ternyata kenal dekat Na Baekjin juga."

"Sudahlah. Jangan terlalu ikut campur," kata Gayool.

Tiba-tiba, pintu ruang biliar terbuka dan Humin masuk, sendirian. Wajahnya tampak kecewa.

"Lho, Humin? Mana Seoyeon?" tanya Juntae.

Humin menghela napas dan menggelengkan kepala. "Dia nggak bisa datang," katanya. "Ada urusan mendadak."

"Urusan apa?" tanya Sieun, penasaran.

"Dia nggak memberitahuku," kata Humin. "Dia hanya bilang itu penting."

Suasana kembali hening. Teo menatap Humin dengan rasa ingin tahu, tapi dia tidak berani bertanya lebih lanjut.

"Ya sudah, kita lanjutkan saja permainan ini," kata Gayool, mencoba mencairkan suasana.

Mereka kembali bermain biliar, tapi pikiran mereka melayang-layang. Teo masih penasaran tentang hubungan Humin dan Seoyeon, sementara yang lain bertanya-tanya tentang urusan mendadak Seoyeon.

Sementara itu, Seoyeon berdiri di tepi jalan, memandangi gedung-gedung tinggi yang menjulang di Yeoinaru. Dia tahu Na Baekjin memiliki kantor di salah satu gedung itu, tetapi dia tidak tahu yang mana. Dia menghela napas, merasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

"Bagaimana aku bisa menemukannya?" gumamnya pada diri sendiri.

Dia sudah bertekad untuk menemui Na Baekjin hari ini dan berbicara padanya.

"Ah, aku haus," keluh Seoyeon, dia sudah berjalan kesana kemari sejak tadi tanpa hasil apa pun. Dia mengamati sekelilingnya, sampai dia melihat sebuah kafe. Dia segera pergi ke sana dan duduk di meja dekat jendela setelah memesan segelas minuman dingin.

Dia merasa frustrasi karena tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba, dia teringat pada Seongje. Saudara laki-lakinya, mungkin tahu di mana kantor Na Baekjin.

"Nggak, nggak boleh." Seoyeon segera menggeleng, mengusir ide gila yang terlintas di benaknya sesaat itu. "nggak boleh ada yang tahu aku pergi menemui Na Baekjin." Dia menghembuskan napas panjang dengan berat.

Seoyeon menyesap minumannya, matanya terus mengamati orang-orang di sekitarnya. Dia merasa seperti sedang diawasi, tetapi dia tidak tahu siapa yang mengawasinya. Dia memutuskan untuk tetap tenang dan menunggu kesempatan yang tepat.

Dia melihat seorang cowok berpakaian rapi keluar dari salah satu gedung dan berjalan menuju kafe. Dia memakai seragam SMA Yeoil.

"Tunggu, Na Baekjin itu bersekolah di SMA Yeoil kan?"

Seoyeon menatap cowok berseragam SMA Yeoil itu dengan cermat. Dia ingat bahwa Na Baekjin adalah alumni SMA Yeoil, dan mungkin cowok ini tahu sesuatu tentangnya.

Ketika cowok itu lewat di dekat mejanya, Seoyeon memanggilnya. "Permisi," katanya.

Cowok itu berhenti dan menatapnya, tampak agak terkejut yang di sadari Seoyeon.

"Ada apa?" tanya cowok itu, dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya seolah-olah dia tidak berekasi terkejut sebelumnya, membuat Seoyeon curiga.

"Seragammu, kau dari Yeoil kan?"

"Ya."

"Kalau begitu, kau pasti kenal Na Baekjin..."

"Kau mau bertemu Na Baekjin?"

Alis Seoyeon mengerut, dia menjawab dengan ragu, "y...ya."

Cowok itu memperbaiki letak kacamatanya. "Ikut aku."

Seoyeon menatap cowok itu dengan curiga. "Kenapa aku harus ikut denganmu?" tanyanya.

Cowok itu tersenyum tipis. "Aku tahu di mana Na Baekjin berada," katanya. "Jika kau ingin bertemu dengannya, kau harus ikut denganku."

Seoyeon ragu-ragu. Dia tidak tahu apakah dia bisa mempercayai cowok ini. Tapi dia juga tidak punya pilihan lain. Dia ingin bertemu Na Baekjin, dan cowok ini mungkin satu-satunya cara.

Dia melihat nametag di seragam cowok itu -Kwon Seokhyeon-

"Baiklah," kata Seoyeon, akhirnya. "Tapi jika kau berbohong, kau akan menyesalinya."

Kwon Seokhyeon mengangguk dan mulai berjalan. Seoyeon mengikutinya, merasa gugup dan waspada.

Setelah beberapa menit, mereka berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Dan masuk begitu saja ke lobi dan berjalan menuju lift. Kwon Seokhyeon menekan tombol 25 dan menunggu pintu lift terbuka.

Seoyeon tetap diam dan waspada, mengawasi cowok di depannya. Sampai akhirnya lift berhenti di lantai 25 dan ia di bawa ke sebuah kantor besar dengan pemandangan kota yang menakjubkan.

Na Baekjin duduk di belakang meja, menatapnya dengan tatapan tajam.

"Keluarlah, Kwon Seokhyeon," pinta Na Baekjin, dan tanpa membantak, Kwon Seokhyeon keluar begitu saja, menyisakan Seoyeon seorang diri di dalam bersama Na Baekjin.

"Geum Seoyeon," kata Na Baekjin. "Apa yang membawamu ke sini?"

"Bisakah kau berhenti," kata Seoyeon tegas. Dia menatap langsung ke arah Na Baekjin yang membalasnya dengan senyum miring dan tatapan yang misterius. Entah apa arti tatapan itu.

"Aku ingin memperingatkanmu," kata Seoyeon, dengan suara mantap. "Aku tidak ingin kau memprovokasi orang lain."

Na Baekjin tertawa kecil. "Kau pikir kau bisa memperingatkanku?" katanya. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku."

"Tentu saja, tapi ada satu hal yang kutahu. Kau, Na Baekjin, orang yang berbahaya. Bajingan sinting yang memprovakasi orang lain untuk saling bertengkar," kata Seoyeon. "Aku udah muak denganmu."

"Dan apa yang akan kau lakukan?" tanya Na Baekjin, dengan nada meremehkan. "Apakah kau akan menghentikanku?"

Seoyeon menatap Na Baekjin dengan tatapan tajam. "Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan," katanya.

Na Baekjin tersenyum sinis. "Benarkah?" katanya. "Kalau begitu, mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan."

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang