weak heroine - 21

1.2K 196 3
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

"Coba ngomong."

Geum Seongje berbicara tanap menatap lawan bicaranya. Duduk membelakangi dua bawahannya yang datang membawa kabar tidak mengenakan yang sukses memicu kemarahannya.

Dua orang tersebut sudah ciut, menelan ludah susah payah sebelum salah satunya berbicara, "ada rumor soal preman Eunjang di Noryangjin. Jadi kita coba tunggu dan akhirnya ketemu. Ini." Dia menyerahkan ponselnya pada Seongje. Hasil foto yang mereka temukan sebagai bukti untuk memperkuat kata-katanya barusan

"Apa nih? Kau suruh aku main game mencari waly? Bercanda hah? Foto apaan nih?" omel Seungje.

Seon Jongwon, yang berdiri di samping Seongje, segera membantunya menemukan pelaku yang di maksud dalam foto dengan meng zoom tepat pada tas hitam dengan tulisan gold yang familiar, langsung menarik perhatian Seongje.

Tangan Seongje kemudian bergerak sendiri, melihat orang lain di dekat si pelaku pencuri tas. Ada seorang cowok berwajah pucat dan satu orang cewek.

"Kalian bilang, kalian ambil foto ini dimana?" tanya Seongje, lagi-lagi tanpa menatap lawan bicaranya. Tatapannya sepenuhnya fokus pada layar ponsel yang masih menampilkan foto yang sama.

"Noryangjin," jawab cowok pertama.

"Kami sudah selesai mencarinya, jadi timggal di tangkap saja," sahut cowok yang satunya.

Noryangjin, tidak salah lagi. Daerah tempat les Seoyeon.

"Sialan, Seoyeon. Ngapain kau ada di situ" batin Seongje menggeram. Menemukan sosok adik perempuannya duduk di samping si cowok pucat dan tampak menyapa si pencuri tas.

Tapi, bukan itu yang penting sekarang. Adalah bagaimana dia mendapatkan tas dan isi nya kembali lebih penting. Dia sudah menurunkan sedikit harga dirinya karena anak buahnya yang bodoh melalukan kesalahan. Dia akan menemukan pelaku yang mencuri tas tersebut lebih dulu dan memberikan pelajaran setimpal.

"Tunjukan jalannya."

Seperti ada api yang berkobar di sekitarnya. Kemarahan Geum Seongje membuat anak buahnya bergidik ngeri.

Tanpa menunggu lagi, dua anak buahnys segera menuntun Seongje ke tempat dimana mereka mengambil foto pelaku. Dari seberang jalan di depan halte tempat anak-anak yang baru pulang les menunggu bus.

"Ah, udah lama ya, nggak menangkap dan menghabisi cecenguk sialan." Ekpresinya berubah congkak. Seakan menikmati perasaan akan memukul orang.

Di seberang jalan. Tiga orang yang berjalan bersama hendak menuju halte menarik perhatian Seongje. Senyumnya langsung hilang saat menemukan Seoyeon adalah salah satu dari mereka. Adiknya itu di apit oleh dua anak bertampang cupu.

"Itu Eunjang kan?"

"Iya, benar. Oh..tapi anak itu..."

Belum selesai bawahannya menjawab, Seongje menyela, "yang waktu itu kan?"

"Benar. Dia si ular put..."

"Diam!"

Ketika tatapan Sieun bersibobrok dengannya, dalam hati, Seongje menghitung.

"Satu."

"Dua."

"Tiga."

Dan senyum benggisnya perlahan-lahan tersungging, berpadu dengan wajah congkak yang meremehkan.

"Berani juga bajingan itu."

Suara tawa kepuasan Geum Seongje membuat anak buahnya bergidik ngeri.

Ada aturan tidak tertulis. Bagi Geum Seongje untuk orang yang berani bertatapan dengannya lebih dari tiga detik, maka itu sama artinya dengan menantangnya berkelahi secara tidak langsung.

"Dia itu rising star yang sedang dirumorkan?

"Makanya masih terasa aura rokie nya. Tapi bisa-bisanya dia sok keren.

Seongje menghela napas ringan. "Padahal aku kemari karena masalahnya nggak beres-beres, tapi orang yang dicari nggak muncul, malah terlibat sama pecundang ya."

"Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku nggak perlu datang segala, ya kan?" Dia merasa sudah buang-buang waktu, tapi sepertinya karena mendapatkan mangsa, dia jadi tidak keberatan.

"Kalian seret dan bawa si pencuri itu sendiri..." pinta Seongje, seraya memperbaiki letak kaca matanya.

"Ke atas gedung itu. Besok, pukul tujuh." Dia menunjuk ke arah salah satu gedung terdekat dari tempat mereka berada saat ini.

"Bawa si pencuri bersama dua orang barusan."

"Bagaimana dengan yang satu lagi? Selain itu bagaimana caranya?"

Cowok yang bertanya barusan langsung mendapat tendangan tepat di wajahnya dari Seongje. Tanpa peringatan apa pun.

"Caranya? Aku juga nggak tahu tuh," kata Seongje dengan tatapan tajam. "Dan untuk orang yang satunya lagi, yang cewek, jangan bawa dia." Tanpa menunggu tanggapan apa pun lagi dari dua anak buahnya, Seongje langsung melenggang pergi begitu saja.

Seperginya Geum Seongje, cowok yang satunya segera membantu temannya yang baru saja kena pukul.

"Kau ini bego ya? Kau nggak tahu si Geum Seongje itu orangnya kayak apa. Malah nanyak kayak gitu. Goblok," omelnya pada temannya.

"Ya aku cuman reflek. Sialan. Sakit banget, bangsat," balasnya, jadi memgamuk sendiri. Sambil berdiri dibantu temannya.

"Eh, tapi kenapa dia meloloskan cewek itu? Cewek itu kan pacarnya Park Humin, selain itu dia udah berulang kali jadi batu sandung Aliansi."

"Mana kutahu. Pokoknya, besok kita harus bawa para cecenguk itu. Bagaimana pun caranya."

"Yaiyalah. Mana mau aku kena sama Geum Seongje lagi." Dia berdecih kesal. Mengusap pelan luka di wajahnya akibat tendangan sembrono Seongje tadi.

"Yaudah, kalo gitu kita ketemuan di sini besok sebelum pukul tujuh."

"Tapi tunggu, gimana kita nyeret dan bawa si ular putih?"

To Be Continued

A/n

Yey, akhirnya bisa up lagi. Udah beneran free yeorebun, jadi bisa sepenuhnya fokus buat nulis aja.

Btw, WHC s2 udah confrim ya kalao bakal tayang awal bulan tahun depan.  Semoga tidak mengecewakan, bakal lebih gokil dari season pertama, meskipun yang pertama alurnya melenceng banget dari alur manhwa.

Untuk fanfic ini sendiri, aku bakal sampein di arc Sieun vs Seongje. Udah bikin noteline buat alur kedepannya. Jadi see you~

Jangan lupa vote dan komentarnya~

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang