weak heroine - 41

913 152 3
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Setelah perayaan ulang tahun Sieun di basecamp selesai, suasana mulai mereda. Mereka mulai mengobrol ringan.

Seoyeon memperhatikan teman-temannya, di antaranya ada Heekyung yang sepertinya telah berbaur dengan mudah.

Sementara itu, Seoyeon dan Sieun yang duduk berdampingan di sofa, agak menjauh dari yang lain. Seoyeon merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk bertanya pada Sieun tentang sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

"Sieun," kata Seoyeon, ragu-ragu, "boleh aku bertanya sesuatu?"

Sieun menoleh, menatap Seoyeon dengan tatapan lembut. "Tentu saja," jawabnya. "Ada apa?"

"Aku... aku penasaran tentang masalahmu dengan Wooyoung," kata Seoyeon, mencoba untuk tidak terdengar terlalu ikut campur. "Aku melihat kalian berdua di toserba beberapa waktu lalu, dan... kalian terlihat tegang."

Wajah Sieun langsung berubah serius. Matanya menatap lurus ke depan, seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Seoyeon bisa merasakan ketegangan di udara, dan dia langsung menyesali keputusannya untuk bertanya.

"Itu... itu rumit," kata Sieun, akhirnya, suaranya pelan. "Wooyoung... dia mengingatkanku pada seseorang."

Seoyeon mengerutkan kening. "Seseorang?" ulangnya. "Siapa?"

Sieun terdiam sejenak, seolah-olah dia sedang berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat. "Namanya Suho," katanya, suaranya bergetar. "Dia... dia adalah temanku."

Seoyeon bisa merasakan kesedihan yang mendalam dalam suara Sieun. Dia tahu ada sesuatu yang buruk terjadi pada Suho, dan dia tidak ingin menekan Sieun untuk bercerita lebih banyak.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Seoyeon, pelan.

Sieun menghela napas panjang. "Dia... dia terluka" katanya, suaranya hampir tidak terdengar. "Dia koma."

Seoyeon terkejut. Dia tidak menyangka Sieun memiliki masa lalu yang begitu tragis. Dia bisa melihat bahwa Sieun masih sangat terpukul oleh insiden Suho.

"Aku minta maaf, Sieun," kata Seoyeon, suaranya tulus. "Aku nggak tahu."

Sieun menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa," katanya. "Itu sudah lama sekali."

Tapi Seoyeon tahu itu tidak benar. Dia bisa melihat bahwa luka itu masih segar di hati Sieun.

"Wooyoung... dia mengingatkanku pada orang-orang yang terlibat dalam insiden itu," kata Sieun, suaranya bergetar. "Orang-orang yang membuat Suho koma."

"Apakah...apakah mungkin Wooyoung yang melakukan itu pada Suho?" Seoyeon mengenggam tangannya kuat-kuat,  merasa gelisah memikirkan sepupunya adalah orang yang membuat seseorang terluka hingga koma.

Sieun menunduk semakin dalam, rahangnya mengeras. Dia merasakan kemarahan dan kesedihan yang bercampur aduk, membuatnya sulit untuk berbicara. Dia tidak ingin berbohong pada Seoyeon, tetapi dia juga tidak ingin menyakiti perasaannya.

"Aku... aku nggak tahu," kata Sieun, suaranya berbisik. "Aku nggak tahu siapa yang melakukannya."

Seoyeon menatap Sieun dengan tatapan penuh simpati. Dia tahu Sieun sedang berjuang, dan dia tidak ingin membuatnya semakin tertekan.

"Nggak apa-apa, Sieun," kata Seoyeon, suaranya lembut. "Kau nggak perlu memberitahuku jika kau nggak mau."

Sieun mengangkat kepalanya dan menatap Seoyeon. Dia bisa melihat ketulusan di mata Seoyeon, dan dia merasa bersyukur memiliki teman seperti dia.

"Terima kasih," kata Sieun, suaranya bergetar. "Terima kasih sudah mengerti."

Seoyeon tersenyum tipis. "Tentu saja," katanya. "Aku akan selalu ada untukmu."

Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kebersamaan mereka. Seoyeon merasa lebih dekat dengan Sieun sekarang. Dia tahu Sieun adalah orang yang kuat, tetapi dia juga tahu dia memiliki luka yang dalam. Dia bertekad untuk menjadi teman yang baik untuk Sieun, dan membantunya mengatasi trauma masa lalunya.

Tiba-tiba, suara tawa Heekyung memecah keheningan. Seoyeon dan Sieun menoleh dan melihat Heekyung sedang bercanda dengan teman-teman yang lain. Seoyeon tersenyum tipis. Dia senang melihat Heekyung berbaur dengan baik.

"Heekyung sepertinya menikmati dirinya sendiri," kata Seoyeon.

Sieun, mengamati Heekyung. "Dia cepat beradaptasi."

Seoyeon mengangguk, lalu mengalihkan perhatiannya pada Sieun. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan hadiah ulang tahunmu? Apa kau menyukainya?" tanya Seoyeon, mencoba mencairkan suasana.

Sieun tersenyum, "Tentu saja, aku sangat menyukainya. Terima kasih banyak, Seoyeon."

"Syukurlah," kata Seoyeon, merasa lega. "Sebenarnya, aku membelinya bersama Humin. Dan ada cerita lucu di balik itu."

"Cerita lucu?" tanya Sieun, alisnya terangkat.

"Ya," kata Seoyeon, terkekeh. "Awalnya, Humin ingin membelikanmu kaos dengan gambar yang sangat aneh. Aku bahkan tidak tahu apa itu."

Sieun tersenyum kecil. "Benarkah? Gambar apa itu?"

"Entahlah," kata Seoyeon, menggelengkan kepala. "Aku tidak yakin itu gambar apa. Tapi yang jelas, itu sangat aneh."

"Untunglah kau mencegahnya," kata Sieun, tersenyum. "Aku tidak yakin aku akan memakainya."

"Tentu saja," kata Seoyeon. "Aku tahu kau lebih suka hadiah yang berguna dan bermakna."

"Benar sekali," kata Sieun, mengangguk setuju. "Buku catatan dan set alat tulis itu sangat sempurna. Aku pasti akan menggunakannya."

"Aku senang mendengarnya," kata Seoyeon. "Itu sebabnya aku memilihnya. Aku tahu kau suka belajar dan mencatat hal-hal penting."

"Kamu mengenalku dengan baik," kata Sieun, menatap Seoyeon dengan senyum tulus. "Terima kasih, Seoyeon."

"Sama-sama, Sieun," kata Seoyeon, merasa hangat di hatinya. "Aku senang bisa membuatmu bahagia."

Seoyeon merasa lega karena bisa mengalihkan topik pembicaraan dari masalah Wooyoung dan Suho. Dia ingin Sieun merasa bahagia di hari ulang tahunnya.

Seoyeon dan Sieun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman mereka. Suasana di basecamp masih ramai dan hangat, diwarnai dengan canda tawa dan obrolan ringan. Seoyeon merasa lega karena Sieun terlihat lebih rileks dan bahagia.

Mereka berdua berjalan menuju kelompok teman-teman yang sedang asyik bermain kartu. Heekyung terlihat sangat menikmati permainannya, tertawa lepas bersama yang lain. Seoyeon tersenyum melihat Heekyung yang tampak begitu nyaman.

"Sieun, Seoyeon, kemari. Ayo kita main kartu," panggil Juntae, sambil mengocok kartu.

Seoyeon mengangguk. Dia mengambil tempat duduk di samping Humin yang memberinya cela.

Mereka semua kemudian fokus pada permainan kartu. Seoyeon merasa senang bisa melihat Sieun tertawa dan menikmati waktu bersama teman-temannya. Dia tahu Sieun masih memiliki luka di hatinya, tetapi dia juga tahu Sieun adalah orang yang kuat.

Saat permainan kartu berlangsung, Seoyeon terus memperhatikan Heekyung. Dia kagum dengan kemampuan Heekyung untuk beradaptasi dengan cepat. Heekyung terlihat sangat cocok dengan kelompok mereka, seolah-olah dia sudah menjadi bagian dari mereka sejak lama.

"Heekyung sangat mudah bergaul," kata Seoyeon, berbisik kepada Humin.

"Ya," jawab Humin, sambil tersenyum. "Dia orang yang menyenangkan."

"Aku senang dia bisa bergabung dengan kita," kata Seoyeon. "Dia membuat suasana menjadi lebih hidup."

Mereka berdua tersenyum, lalu kembali fokus pada permainan kartu. Seoyeon merasa bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka. Mereka semua memiliki kepribadian yang berbeda-beda, tetapi mereka saling mendukung dan menghargai.

Setelah permainan kartu selesai, mereka semua memutuskan untuk memesan pizza. Mereka duduk melingkar di lantai, sambil menikmati pizza dan mengobrol tentang berbagai hal. Seoyeon merasa hangat dan nyaman berada di antara mereka.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang