⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Wooyoung, yang sejak tadi mengamati situasi, akhirnya angkat bicara. "Sepertinya kalian punya masalah yang cukup rumit. Tapi melibatkan Seoyeon, itu masalahku."
Suaranya tenang, namun penuh ketegasan. Wooyoung melirik Seoyeon, memastikan dia baik-baik saja, lalu kembali menatap Hakho, Humin dan geng Nakseong.
"Aku nggak perduli kalian mau melakukan apa, tapi aku nggak akan membiarkan kalian menyakiti Seoyeon," lanjut Wooyoung.
Yoon Nakseong menyeringai. "Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya mengancam kami?"
"Aku tidak mengancam. Aku hanya memperingatkan," jawab Wooyoung, matanya menatap tajam ke arah Yoon Nakseong.
Humin, yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. "Seoyeon, kau nggak perlu ikut campur. Ini urusanku."
"Aku khawatir," kata Seoyeon, berusaha melepaskan diri dari belakang Wooyoung.
"Nggak perlu khawatir. Akan ku selesaikan ini dengan cepat. Kalau sudah, apa kau mau pergi denganku ke kedai ayam yang biasa? Kudengar, tempat itu sudah dibuka lagi," kata Humin dengan suara tenang dan lembut, bahkan sambil tersenyum.
Seoyeon terkejut, namun senyum kecil muncul di wajahnya. "Baiklah, ayo pergi bersama."
Mendengar janji Humin, Seoyeon merasa sedikit lega. Dia tahu Humin adalah petarung yang kuat, dan dia percaya Humin bisa mengatasi masalah ini. Namun, kekhawatiran masih menyelimutinya.
Hakho, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara, "kau benar-benar menjadi akrab dengan Humin ya, Seoyeon." Dia tersenyum kecut. Pandangannya kemudian lurus menatap Humin.
"Nggak perlu lama-lama lagi. Gimana kalau kita segera selesaikan saja? Kau nggak mau buat Seoyeon menunggu lama kan? Humin."
"Baiklah, kalau begitu, mari kita selesaikan ini," kata Humin, matanya menatap tajam ke arah Hakho. Dia mengepalkan tangannya, bersiap untuk bertarung.
Hakho mengangguk, lalu melangkah maju. "Jangan salahkan aku, Humin. Ini bukan masalah pribadi."
Pertarungan sengit pun dimulai. Humin dan Hakho saling menyerang dengan brutal, menunjukkan keahlian bela diri mereka yang luar biasa. Pukulan dan tendangan saling beradu, menciptakan suara benturan yang keras.
Seoyeon dan yang lain menyaksikan pertarungan itu dengan tegang. Mereka tahu kedua petarung itu sangat kuat, dan mereka tidak tahu siapa yang akan menang.
Tiba-tiba, Sieun, Teo, Juyang, dan Juntae tiba di lapangan, diikuti oleh teman-teman Hakho. Mereka terkejut melihat pertarungan yang sedang berlangsung.
"Seoyeon?"
Juntae yang pertama kali menyadari keberadaan Seoyeon di lapangan itu. Terkejut karena mereka meninggalkan Seoyeon tapi justru dia yang sampai lebih dulu.
Tapi Seoyeon tidak membalas, dia terlalu fokus menyaksikan pertarungan Hakho dan Humin. Dia menghawatirkan keduanya, Humin dan Hakho, mereka berdua adalah temannya.
"Kalian!" Gayool dan Hyuntak datang menghampiri mereka.
Saat itu, barulah Seoyeon sadar akan kedatangan teman-temannya. Namun dia dibuat terkejut saat menemukan wajah mereka babak belur, terutama Juyang. Sementara Sieun adalah yang paling sedikit terluka.
"Kalian habis ngapain?" tanya Seoyeon. Kini, dia jadi khawatir pada mereka juga.
"Itu..." seloroh Juntae, sambil melirik ke arah anak-anak Daehyun. Dan Seoyeon langsung paham.
"Kalian ketemu mereka dimana? bukannya tadi naik taksi?"
"Kami kejebak macet, jadi kami turun," jelas Juyang.
"Kalian lari ke sini?" Seoyeon merespon terkejut. Dia kemudian menatap ke arah Sieun yang sejak awal hanya memperhatikan ke arah pertarungan.
Seoyeon menatap punggung Sieun, memperhatikan gelegatnya. Nafas cowok itu yang naik turun karena habis betarung dan berlari. Tangannya sedikit gemetar. Tapi, lebih dari semua itu, Sieun pasti menghawatirkan Humin.
Sementara itu, Wooyoung yang mengenali Sieun, lagi-lagi dibuat terkejut. Fakta bahwa Seoyeon mengenal Yoon Sieun, membuat Wooyoung khawatir.
"Sieun, kau nggak papa?" tegur Gayool, berhasil mengambil alih perhatian Sieun.
"Gayool..." Sieun hendak mengatakan sesuatu, tapi Gayool segera menyela.
"Ini pilihan Humin. Mari kita hargai," katanya.
Meski mereka juga khawatir, tidak ada yang berani membantah lagi.
Mengabaikan ketegangan yang melingkupi Eunjang dan Daehyun, Wooyoung menarik Seoyeon mundur ke dekat motornya.
"Wooyoung, ada apa?" tanya Seoyeon. Melirik ke arah pertarungan sejenak.
"Ayo pergi dari sini," kata Wooyoung.
"Apa? Nggak mau," kata Seoyeon. Dia menarik tangannya dari pegangan Wooyoung.
Wooyoung menggeram pelan. "Kenapa kau bergaul dengan orang-orang seperti mereka?" Wooyoung tampak frustasi. "Seoyeon, kupikir teman yang kau maksud itu..."
Ekspresi wajah Seoyeon langsung berubah datar. "Apa bedanya?"
Alis Wooyoung mengerut bingung, tidak mengerti dengan tanggapan Seoyeon.
"Kau dan Seongje. Bukannya kalian juga sama saja?"
Wooyoung terdiam, terkejut dengan kata-kata Seoyeon. Dia tahu dia dan Seongje tidak bisa dibilang cowok baik-baik, tapi dia tidak menyangka Seoyeon akan menyamakannya dengan orang-orang yang sedang bertarung di depannya.
"Seoyeon, ini berbeda," kata Wooyoung, suaranya pelan. "Aku dan Seongje... kami punya masalah kami sendiri. Tapi ini..." Dia menunjuk ke arah pertarungan. "Ini masalah yang lebih besar. Kau seharusnya tidak terlibat dengan mereka..."
"Benar. Aku sudah dikelilingi orang-orang sepertimu dan Seongje, apa salahnya menambah orang lagi?" kata Seoyeon sarkastik.
Wooyoung menghela napas berat, merasa frustasi dengan sifat keras kepala Seoyeon.
"Aku tidak akan pergi dari sini, sebelum mereka selesai. Jika kau mau pergi, silahkan. Terima kasih sudah mengantarku ke sini," kata Seoyeon, mengahiri pembicaraan mereka. Dan kembali ke kerumunan Eunjang.
Wooyoung sendiri, berdecak kesal ketika diabaikan begitu saja. Tapi dia tetap di sana, menunggu Seoyeon.
Sementara itu, pertarungan Humin dan Hakho masih berlangsung. Semua pandangan tertuju ke arah mereka tanpa teralihkan sedikitpun. Mencoba mengikuti aksi mereka. Keduanya sama-sama kuat.
Selama ini, Park Humin dan Ji Hakho telah menjadi topik hangat di shutle patch. Orang-orang bertanya-tanya, jika kedua orang itu bertarung, siapa yang akan menang?
Dalam urutan rangking, nama Ji Hakho berada tepat di bawah Na Baekjin. Dia adalah orang terkuat kedua setelah pemimpin Aliansi, di susul Jo Seungjin, Geum Seongje dan Bae Jihoon. Sementara itu, Park Humin, kekuatannya belum benar-benar di perkirakan. Tapi setelah dia mengalahkan Bae Jihoon, namanya dengan cepat menempati urutan ketiga. Dan sekarang, jika Humin berhasil mengalahkan Hakho, maka hanya ada Na Baekjin yang tersisa.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
FanfictionRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
