weak heroine - 53

736 132 7
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


"Humin..." bisik Seoyeon, suaranya bergetar. "Aku sangat khawatir padamu."

Humin membeku, terkejut dengan kehadiran Seoyeon. Ia perlahan berbalik, menatap Seoyeon dengan tatapan bingung.

"Seoyeon, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Humin, suaranya pelan.

"Aku khawatir padamu," jawab Seoyeon, matanya berkaca-kaca. "Kau nggak mengangkat teleponku, kau nggak membalas pesanku. Aku takut terjadi sesuatu padamu."

Humin terdiam, menatap Seoyeon dengan tatapan bersalah. Ia tahu bahwa ia telah membuat Seoyeon khawatir, tetapi ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

"Maaf," gumam Humin, suaranya serak. "Aku... gara-gara aku..." dia menunduk, sulit melanjutkan kata-katanya.

Seoyeon tersenyum sendu. meraih tangan Humin. "Aku tahu," katanya lembut. "Aku tahu kau merasa bersalah."

Humin mendongak, menatap Seoyeon dengan tatapan terkejut. "Kau tahu?" tanyanya, suaranya pelan.

"Ya," jawab Seoyeon, mengangguk. "Aku tahu kau menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi padaku."

Humin menunduk lagi, merasa malu dan bersalah. "Ini memang salahku," gumamnya. "Jika aku tidak mengajakmu keluar hari itu..."

"Jangan salahkan dirimu, Humin," potong Seoyeon, suaranya tegas. "Ini bukan salahmu. Ini salah Jo Seungjin dan orang-orangnya."

Humin terdiam, menatap Seoyeon dengan tatapan bingung. "Tapi..."

"Tidak ada 'tapi'," kata Seoyeon, suaranya lembut namun tegas. "Aku nggak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri. Aku tahu kau hanya ingin melindungiku."

Humin terdiam, merasa terharu dengan kata-kata Seoyeon. Ia tidak menyangka Seoyeon akan begitu pengertian.

"Terima kasih," gumam Humin, suaranya bergetar. "Kau... kau sangat baik."

Seoyeon tersenyum tipis, meremas tangan Humin. Perhatianya kemudian teralihkan oleh beberapa luka dan lebam di wajah Humin, rasa khawatirnya segera naik lagi. Ia menangkup pipi Humin, melihat luka di wajahnya dengan lebih teliti sembari meringis.

Humin mengulum bibirnya, menghindari tatapan mata Seoyeon yang tajam terarah langsung padanya.

Seoyeon meraih bahu Humin dan menyuruhnya duduk kembali di bangku taman. "Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana," katanya, suaranya tegas.

Alis Humin bertaut. "Seoyeon, mau pergi kemana?" tanyanya.

Tanpa menjawab, Seoyeon berlari pergi, meninggalkan Humin yang menurut dan tetap duduk di bangku taman. Beberapa saat kemudian, Seoyeon kembali dengan obat.

"Duduk yang benar," perintah Seoyeon, suaranya lembut namun tegas. Ia mulai membersihkan luka-luka di wajah Humin dengan hati-hati, mengoleskan obat dan menempelkan plester.

Humin meringis kesakitan, tetapi ia tidak melawan. Dia membiarkan Seoyeon merawatnya, merasa terharu dengan perhatiannya.

"Maaf," gumam Humin, suaranya pelan. "Aku membuatmu khawatir."

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang