weak heroine - 56

760 131 14
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Seoyeon, Heekyung, dan geng Eunjang memutuskan untuk pergi ke kedai ayam goreng Tosik yang sedang viral. Kedai itu ramai dengan pengunjung, dan aroma ayam goreng yang menggoda memenuhi udara.

Sambil menikmati ayam goreng, pikiran Seoyeon melayang ke pertemuannya dengan Baekjin dan Seokhyeon tadi sore, serta apa yang terjadi pada dua Mokha masih terasa janggal.

Sieun, yang peka terhadap perubahan suasana hati Seoyeon, menyadari ada sesuatu yang salah. "Kau baik-baik saja, Seoyeon?" tanyanya, suaranya lembut.

Seoyeon tersentak dari lamunannya. "Ya, aku baik-baik saja," jawabnya, mencoba tersenyum. "Hanya sedikit lelah."

Sieun menatap Seoyeon dengan tatapan curiga. Ia tahu bahwa Seoyeon menyembunyikan sesuatu, tetapi ia tidak ingin memaksanya untuk berbicara. "Jika ada sesuatu yang mengganggumu, kau bisa memberitahuku," katanya. "Aku akan mendengarkan."

Seoyeon mengangguk, merasa bersyukur memiliki teman seperti Sieun. "Terima kasih," katanya. "Aku akan mengingatnya."

Humin, yang duduk di sampinnya, juga memperhatikan Seoyeon. Ia melihat ekspresi wajahnya yang gelisah, dan ia merasa khawatir. Ia tahu bahwa Seoyeon sedang memikirkan sesuatu yang serius, dan ia ingin tahu apa itu.

"Kalian tahu tentang Duo Mokha?" tanya Seoyeon, suaranya tiba-tiba.

Juntae dan Juyang saling bertukar pandang, lalu menatap Seoyeon dengan tatapan bingung. "Duo Mokha?" ulang Juntae. "Mereka berdua adalah petarung terkuat di Yeoil."

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang mereka?" tanya Hyuntak, suaranya curiga.

"Aku melihat mereka terkapar pingsan di pinggir jalan," jawab Seoyeon, suaranya pelan. "Aku ingin tahu apa yang terjadi pada mereka."

Mata Juntae dan Juyang melebar, terkejut dengan pengakuan Seoyeon. "Apa?" seru Juntae. "Mereka kalah?"
"Nggak mungkin," tambah Juyang, menggelengkan kepalanya. "Mereka berdua tidak terkalahkan."

"Tapi itu yang kulihat," kata Seoyeon, suaranya tegas. "Mereka berdua terkapar pingsan, dengan luka-luka di tubuh mereka."

Juntae dan Juyang terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Humin, Hyuntak dan Gayool juga mulai menaruh minat pada topik.

"Apakah Na Baekjin?" tebak Juyang, menerka-nerka sambil menatap Juntae yang juga sedang berpikir.

"Eh, kurasa bukan," kata Seoyeon.

"Kenapa bukan?" tanya Gayool. Dia tampaknya memiliki kecurigaan saat menatap Seoyeon.

"Dua Mokha itu kuat. Mereka memang nggak masuk dalam rangking Shuttle Patch, tapi sudah jadi rahasia umum kalau mereka punya kemampuan setara bahkan melebihi eksekutif aliansi. Sejauh ini, satu-satunya yang bisa mengalahkan mereka hanya Na Baekjin," jelas Juntae.

"Kalau begitu, benar Na Baekjin," kata Hyuntak.

Juntae memiringkan kepalanya, meragukannya. "Aku meragukan itu. Soalnya, yang kudengar, baru-baru ini, Na Baekjin baru saja mengangkat Dua Mokha jadi pemimpin aliansi. Kurasa Na Baekjin nggak mungkin menghajar mereka sehari setelah pengangkatan."

"Kalau begitu siapa?" tanya Juyang.

"Mungkin mereka bikin masalah," sahut Hyuntak, tampaknya tidak begitu tertarik lagi.

"Sebaiknya kita nggak usah bahas soal ini lagi," sela Gayool, "masalah Aliansi juga bukan urusan kita."

Seoyeon dengan terpaksa menyetujui. Meskipun dalam pikirannya ia masih bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi. Jika saja masalah itu juga bisa berdampak untuknya dan teman-temannya.

Suasana di kedai ayam goreng itu kembali riang, tetapi pikiran Seoyeon masih dipenuhi dengan pertanyaan. Ia tidak mengerti mengapa Duo Mokha, yang dikenal sebagai petarung terkuat di Yeoil, bisa dikalahkan. Dan yang lebih penting, siapa yang cukup kuat untuk melakukan itu?

Ia teringat kata-kata Baekjin, "Ini bukan urusanmu." Kata-kata itu terdengar seperti peringatan, dan Seoyeon merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Bisa saja, Baekjin sudah tahu siapa pelakunya.

Seoyeon menghela napas berat. Gerakannya menarik perhatian Humin

"Seoyeon," panggil Humin, suaranya pelan. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

Seoyeon menoleh ke Humin, terkejut dengan pertanyaannya. "Hanya sedang memikirkan sesuatu" jawabnya, mencoba tersenyum. "Bukan hal penting kok."

Humin menatap Seoyeon dengan tatapan ragu. Ia tahu bahwa Seoyeon berbohong, tetapi ia tidak ingin memaksanya untuk berbicara. "Jika kau butuh bantuan, beritahu aku," katanya. "Aku akan melakukan apa pun untukmu."

Seoyeon mengangguk, merasa terharu dengan perhatian Humin, tapi dia tidak bisa memberitahunya.

Mereka berdua terdiam sejenak, saling bertukar pandang. Humin merasakan kekhawatiran yang terpancar dari mata Seoyeon, dan ia ingin tahu apa yang menyebabkannya.

"Seoyeon," panggil Humin lagi, suaranya lebih serius. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Aku nggak akan memaksamu untuk memberitahuku, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku selalu ada untukmu."

Seoyeon menatap Humin dengan tatapan sedih. Ia tahu bahwa Humin adalah teman yang baik, dan ia merasa bersalah karena tidak jujur padanya.

"Aku akan memberitahumu nanti," kata Seoyeon, suaranya pelan. "Tapi sekarang, aku belum siap."

Humin mengangguk, mengerti. Ia tidak ingin membuat Seoyeon merasa tertekan. "Baiklah," katanya. "Aku akan menunggu."

Mereka berdua kembali terdiam, menikmati kebersamaan mereka di tengah keramaian kedai ayam goreng. Namun, di dalam hati mereka, kekhawatiran dan pertanyaan terus berputar-putar. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang besar sedang terjadi, dan mereka harus bersiap-siap menghadapinya.

Sieun memperhatikan interaksi Seoyeon dan Humin yang saling berbisik. Ia melihat tatapan khawatir Humin dan senyum lembut Seoyeon, dan entah kenapa, ia merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengganggu perasaannya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Sieun mengalihkan pandangannya, mencoba mengabaikan perasaan aneh itu.

Namun, di sudut hatinya, ada perasaan lain yang mulai tumbuh. Perasaan yang tidak ia sadari, perasaan yang membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali melihat Seoyeon dan Humin bersama.

Sieun tidak mengerti mengapa ia merasa seperti ini. Ia selalu menganggap Seoyeon sebagai teman baik, dan ia tidak pernah merasa cemburu sebelumnya. Namun, sekarang, setiap kali ia melihat Seoyeon tersenyum pada Humin, hatinya terasa sakit.

Ia mencoba menyangkal perasaannya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya khawatir tentang Seoyeon. Namun, semakin ia mencoba menyangkalnya, semakin kuat perasaan itu.

Sieun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin merusak persahabatannya dengan Seoyeon dan Humin, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya. Ia merasa terjebak dalam dilema yang menyakitkan.

To Be Continued

A/n

Whc s2 tayang 25 april!

Cant wait!

Btw, aku udah nulis outline buat cerita ini sampe ending. Perkiraan bakal end di chapter 70 an. Aku bakal usahain buat rampungin cerita ini sebelum s2 tayang, seperti janjiku.

Jangan lupa vote dan komentarnya~

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang