weak heroine - 47

786 138 3
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Di ruang perawatan rumah sakit, suasana hening dan dingin menyelimuti. Seoyeon terbaring lemah di tempat tidur, wajahnya pucat dan tubuhnya masih terasa sakit. Beberapa hari terlewati sejak insiden penyerangan itu, dan meskipun operasinya berjalan lancar, proses pemulihannya masih panjang.

Tiba-tiba, pintu ruang perawatan terbuka, dan Sieun masuk. Wajahnya datar seperti biasa, tetapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Ia membawa sebuket bunga, meskipun ekspresinya tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Hai," sapa Sieun, suaranya pelan.

Seoyeon tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. "Hai, Sieun," balasnya. "Terima kasih sudah datang."

Sieun meletakkan bunga di meja samping tempat tidur dan duduk di kursi di samping Seoyeon. Ia menatap Seoyeon dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sieun, suaranya terdengar khawatir.

"Lumayan," jawab Seoyeon. "Masih sedikit sakit, tapi aku baik-baik saja."

Sieun terdiam, menatap Seoyeon. Ia teringat pada Suho, yang juga terbaring di rumah sakit. Kenangan itu membuatnya sedih dan marah. Dalam momen itu, dia bertanya-tanya bagaimana keadaan Suho saat ini.

"Sieun," tegur Seoyeon, suaranya pelan, mencoba menarik perhatian temannya yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sieun tersentak, kembali ke dunia nyata. Ia menatap Seoyeon, mencoba menyembunyikan emosinya. "Maaf," katanya, suaranya datar. "Aku hanya... memikirkan sesuatu."

"Apakah itu tentang Suho?" tanya Seoyeon, suaranya lembut. Ia tahu bahwa Sieun sangat peduli pada Suho, dan ia tahu bahwa kondisi Suho pasti membuatnya khawatir.

Mata Sieun berkilat, tetapi ia tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya, menatap ke luar jendela.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Seoyeon, mencoba memecah keheningan.

Sieun menunduk dalam "Aku nggak tahu," jawabnya, suaranya pelan.

Seoyeon tersenyum sendu, memahami perasaan Sieun. Ia tahu betapa berartinya Suho bagi Sieun, dan ia tahu bahwa ketidakpastian tentang kondisinya pasti sangat menyakitkan.

"Aku mengerti," kata Seoyeon, suaranya lembut. "Tapi, kau jangan menyerah. Kau harus tetap berharap."

"Mungkin kita bisa mengunjunginya nanti?" usul Seoyeon, mencoba memberi harapan pada Sieun.

Mata Sieun melebar, terkejut dengan usulan Seoyeon. Ia tidak menyangka Seoyeon akan mengajaknya mengunjungi Suho.

"Mengunjunginya?" ulang Sieun, suaranya pelan.

"Ya," jawab Seoyeon, tersenyum tipis. "Kita bisa pergi bersama. Aku juga ingin melihatnya. Suho, temanmu."

Sieun terdiam, menatap Seoyeon dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia merasa terharu dengan kebaikan Seoyeon, tetapi ia juga merasa ragu. Ia tidak tahu apakah ia siap untuk melihat Suho lagi.

"Aku... aku nggak tahu," kata Sieun, suaranya bergetar. "Aku agak takut..."

"Takut apa?" tanya Seoyeon, suaranya lembut.

"Takut melihatnya dalam kondisi seperti itu," jawab Sieun, suaranya pelan. "Aku nggak tahu apakah aku bisa menahannya."

Seoyeon mengerti perasaan Sieun. Ia tahu betapa sulitnya melihat orang yang disayang menderita.

"Aku akan bersamamu," kata Seoyeon, meraih tangan Sieun. "Kita akan menghadapinya bersama-sama."

Sieun menatap Seoyeon, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia merasa berterima kasih atas dukungan Seoyeon.

"Terima kasih," kata Sieun, suaranya bergetar. "Aku... aku akan ikut denganmu."

Seoyeon tersenyum tipis, merasa lega. Ia tahu bahwa mengunjungi Suho akan sulit bagi Sieun, tetapi ia juga tahu bahwa itu penting baginya.

"Baiklah," kata Seoyeon. "Kita akan pergi setelah aku keluar dari rumah sakit."

Sieun mengangguk, merasa sedikit lebih tenang. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi ini. Ia memiliki Seoyeon di sisinya.

Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kebersamaan mereka. Seoyeon merasa senang bisa membantu Sieun, dan Sieun merasa berterima kasih atas dukungan Seoyeon.

"Seoyeon," panggil Sieun, suaranya pelan.

"Ya?" jawab Seoyeon.

"Terima kasih," kata Sieun, suaranya tulus. "Kau adalah teman yang baik."

Seoyeon tersenyum tipis. "Sama-sama," katanya. "Kita adalah teman."

Mereka berdua kembali terdiam, menikmati kebersamaan mereka. Mereka tahu bahwa mereka akan menghadapi banyak tantangan di masa depan, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka akan menghadapinya bersama-sama.

Saat suasana hening dan penuh kehangatan menyelimuti ruang perawatan, pintu kembali terbuka. Kali ini, Ibu Seoyeon masuk, membawa senyum lembut dan tatapan penuh kasih sayang. Ia membawa keranjang buah dan beberapa makanan ringan, mencoba membawa sedikit keceriaan ke dalam ruangan yang suram.

"Seoyeon, sayang," sapa Ibu Seoyeon, suaranya lembut. "Bagaimana perasaanmu hari ini?"

"Aku baik-baik saja, Ibu," jawab Seoyeon, tersenyum tipis. "Hanya sedikit lelah."

Ibu Seoyeon mendekati tempat tidur Seoyeon dan meletakkan keranjang buah di meja samping tempat tidur. Ia kemudian menatap Sieun, yang duduk di kursi di samping Seoyeon.

"Siapa temanmu ini, Seoyeon?" tanya Ibu Seoyeon, suaranya ramah.

"Ibu, ini Sieun," kata Seoyeon, memperkenalkan. "Dia temanku. Kami satu kelas bimbel."

Sieun berdiri dan membungkuk hormat. "Senang bertemu dengan Anda, Nyonya," katanya, suaranya datar namun sopan.

Ibu Seoyeon tersenyum hangat. "Senang bertemu denganmu juga, Sieun," katanya. "Terima kasih sudah menemani Seoyeon."

Sieun mengangguk singkat.

Ibu Seoyeon menatap Sieun dengan tatapan penuh perhatian.

Ibu Seoyeon tidak terlalu lama berada di dalam ruangan, karena wanita itu pamit keluar sebentar setelah mendapat telfon. Sepertinya perihal pekerjaan.

Setelah Ibu Seoyeon pergi, suasana di ruang perawatan kembali hening. Seoyeon menatap Sieun.

"Sieun," panggil Seoyeon, suaranya pelan.

"Ya?" jawab Sieun, menatap Seoyeon.

"Apakah kau tahu di mana Humin?" tanya Seoyeon. "Aku belum melihatnya sejak aku sadar."

Sieun terdiam sejenak, tampak ragu. Ia mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Seoyeon.

Seoyeon menatap Sieun, merasa ada sesuatu yang mengganjal, dan ia merasa Sieun menyembunyikan sesuatu.

"Sieun" tegur Seoyeon, kali ini lebih bertekad.

Sieun menghela napas berat. "Humin. sepertinya dia sedang memburu Jo Seungjin."

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang