⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Di ruang perawatan, setelah memastikan kondisi Seoyeon stabil, Seongje tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi. Ia merasa Na Baekjin dan aliansi terlalu lambat dalam menangani masalah Jo Seungjin dan Manwol. Terlebih lagi, ia merasa Baekjin lebih mementingkan bisnis daripada keselamatan adiknya.
"Aku nggak bisa menunggu lagi," gumam Seongje, matanya berkilat penuh amarah. "Aku akan menangani mereka sendiri."
Ji Hakho, yang mendengar gumaman Seongje, menatapnya dengan tatapan khawatir. "Seongje, jangan gegabah," katanya. "Kita nggak tahu apa yang mereka rencanakan."
"Aku nggak peduli," balas Seongje, suaranya dingin. "Mereka menyakiti adikku, dan mereka akan membayar untuk itu."
Seongje beranjak dari sisi ruang Seoyeon di rawat. Karena sudah ada orang tuanya yang menjaga Seoyeon di dalam. Dia bergegas keluar dari rumah sakit. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menghadapi Manwol sendirian, jadi ia memutuskan untuk mencari bantuan. Ia teringat pada sepupunya. Wooyoung.
Ia segera menghubungi Wooyoung dan menceritakan tentang serangan terhadap Seoyeon dan rencananya. Wooyoung, yang juga sangat peduli pada Seoyeon, langsung setuju untuk membantu.
"Kita akan menemukan mereka," kata Wooyoung, suaranya penuh tekad. "Dan kita akan membuat mereka menyesal telah menyakiti Seoyeon."
Seongje dan Wooyoung mulai menyusun rencana. Mereka tahu bahwa mereka harus berhati-hati, karena Manwol mungkin memiliki sekutu yang kuat. Mereka memutuskan untuk mencari informasi tentang markas Manwol dan rencana mereka.
Seongje dan Wooyoung, dengan tekad bulat, mulai menyusuri jalanan kota, mencari petunjuk yang mengarah pada keberadaan Jo Seungjin dan markas Manwol. Mereka menggunakan jaringan informasi yang mereka miliki, bertanya kepada orang-orang yang mungkin tahu sesuatu, dan mengamati setiap sudut kota yang mencurigakan.
Setelah hampir tiga hari pencarian, mereka akhirnya mendapatkan petunjuk yang menjanjikan. Seorang informan yang mereka temui menyebutkan sebuah gedung terbengkalai di pinggiran kota, yang diduga menjadi tempat persembunyian Manwol.
"Gedung itu," kata Wooyoung, menatap peta di ponselnya. "Itu pasti tempatnya."
"Kita harus segera ke sana," kata Seongje, matanya berkilat penuh amarah. "Kita nggak boleh memberi mereka waktu untuk kabur."
Mereka berdua bergegas menuju gedung tersebut, mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang mungkin mereka temui. Saat mereka tiba di lokasi, mereka bersembunyi di balik semak-semak, mengamati situasi.
Tiba-tiba, pintu gedung terbuka, dan beberapa orang keluar. Orang-orang bertampang preman itu. Seongje dan Wooyoung menyadari bahwa mereka telah menemukan sarang Manwol.
"Kita harus bergerak sekarang," bisik Seongje.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah maju, mereka melihat sebuah motor besar hitam berhenti di depan gedung. Jihoon dan Jeongyeon, tampak serius dan siap bertempur.
Seongje dan Wooyoung terkejut melihat Jihoon dan Jeongyeon di sana. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan mereka.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Seongje, menghampiri Jihoon dan Jeongyeon.
"Kami sedang mencari Jo Seungjin," jawab Jihoon, matanya tajam. "Kami mendapat informasi bahwa dia bersembunyi di sini."
Jihoon menatap Seongje dan Wooyoung dengan curiga. Ia tahu bahwa Seongje memiliki dendam pribadi terhadap Manwol dan Jo Seungjin karena adiknya, jadi dia pasti datang bukan atas dasar kepentingan aliansi.
"Kita memiliki tujuan yang sama," kata Jihoon. Dia dan Seongje saling menatap dengan ketidak sukaan antara satu sama lain. Atmosfer di antara mereka menegang.
Jeongyeon menelan ludah tanpa sadar. Dihadapannya, Bae Jihoon dan Geum Seongje sedang bersitegang. Hanya dengan mereka berdua, seolah-olah telah mewakili Yuseon versus Ganghak.
Di sisi lain, Wooyoung menyadari ketegangan mereka. Mengamati Jihoon dan menilainya.
"Kita mungkin harus bekerja sama. Jo Seungjin mungkin memiliki sekutu yang kuat selain Manwol."
Kata-kata Jeongyeon menggantung di udara, memecah ketegangan yang menyelimuti mereka. Jihoon dan Seongje saling bertukar pandang, ketidakpercayaan dan keengganan terpancar jelas dari mata mereka. Wooyoung, di sisi lain, mengamati Jihoon dengan tatapan menilai, mencoba memahami motif di balik kehadirannya.
"Kerja sama?" dengus Seongje, nada suaranya sinis.
"Ini juga urusan aliansi," balas Jihoon, suaranya dingin.
Seongje menyemburkan tawa meremehkan. "Bukanya karena para sampah itu membuat cecenguk ini babak belur?" Seongje menuding ke arah Jeongyeon, sampai kemudian tatapan menajam. "Dan karena menolong si bangsat lemah ini, adikku jadi korban."
Jeongyeon merasa kesal sampai mengepalkan tangan kuat-kuat, tapi apa yang Seongje katakan, memang benar. Geum Seoyeon terluka saat ikut campur saat mencoba membantunya.
"Persetan dengan aliansi, persetan dengan Na Baekjin. Akan kulakukan ini sendiri, jadi minggir," desis Seongje, matanya menyala dengan amarah. Dia tidak peduli dengan aliansi atau rencana apa pun yang mungkin dimiliki Jihoon. Ia hanya ingin membalas dendam atas apa yang terjadi pada Seoyeon.
Jihoon menatap Seongje dengan tatapan tajam, tidak terpengaruh oleh amarahnya. "Kau nggak bakal bisa melakukan ini sendiri," katanya, suaranya dingin. "Jo Seungjin bukan lawan yang bisa diremehkan, kau juga tau itu kan? Apalagi ada anggota Manwol. Kau mungkin membutuhkan semua bantuan yang bisa kau dapatkan."
Jihoon telah memperhitungan hal ini. Awalnya dia tidak yakin untuk melawan Jo Seungjin dan Manwol, jadi hari ini dia datang hanya untuk memastikan lokasi. Tapi, menemukan Geum Seongje di sini, itu membuat sedikit perbedaan. Dan orang yang bersama Seongje ini, tampaknya juga punya kemampuan.
"Aku nggak butuh bantuanmu," balas Seongje, suaranya penuh kebencian. "Aku akan menghabisi mereka sendiri, dan kau nggak bisa menghentikanku."
Wooyoung, yang berdiri di samping Seongje, menatap Jihoon dengan tatapan menilai. Ia tahu bahwa Jihoon memiliki motif tersembunyi, tetapi ia juga tahu bahwa mereka membutuhkan bantuan.
Wooyoung menghentikan Seongje. "Seongje, dengarkan," kata Wooyoung, suaranya tenang namun tegas. "Kita nggak tau jumlah orang yang ada di dalam, dan kalau benar soal si Jo Seungjin itu orang yang kuat lebih darimu, kau akan kewalahan menghadapi orang-orangnya dan kalah kemudian. Tidak ada salahnya menambah orang."
Seongje menatap Wooyoung dengan tatapan tidak percaya. "Bekerja sama dengan mereka?" tanyanya, suaranya dipenuhi kebencian. "Kau gila? Aku nggak mau."
"Pikirkan Seoyeon, kau melakukan ini untuknya kan?" balas Wooyoung.
Seongje berdecak kesal. Dia membalikan badan dan menatap langsung Bae Jihoon. Sorot matanya masih memancarkan ketidak sukaan yang tajam.
"Terserah, asal jangan menyusahkan," kata Seongje akhirnya, membuang pandangan dan berbalik. Berjalan memasuki gedung lebih dulu.
Lalu, Wooyoung, Jihoon dan Jeongyeon mengikutinya.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
FanfictionRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
