weka heroine - 28

1.1K 212 4
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Di dalam game center yang ramai, Seoyeon dengan frustrasi menekan tombol-tombol mesin arcade. Beberapa pasang mata memperhatikannya, sebagian besar para anak laki-laki yang terpesona dengan kecantikannya.

"Lihat cewek itu, cantik banget ya?" bisik seorang cowok kepada temannya.

"Iya, siapa ya? Apa dia anak sekolah sini juga?" sahut temannya.

Humin yang mendengar percakapan itu, mendekat untuk melihat siapa yang sedang menjadi topik pembicaraan. Matanya membelalak kaget ketika melihat Seoyeon berdiri di depan mesin game.

"Seoyeon?" gumam Humin, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Seoyeon yang terlalu fokus pada game tidak menyadari kehadiran Humin. Ia terus memencet tombol dengan kasar, wajahnya terlihat tegang.

Humin masih terdiam, memperhatikan Seoyeon dari jauh. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu di tempat seperti ini, dalam keadaan yang tampak sedang kacau.

Humin memutuskan untuk mendekati Seoyeon. Ia ingin tahu apa yang sedang terjadi padanya.

"Seoyeon," sapa Humin dengan hati-hati.

Seoyeon menoleh, terkejut melihat Humin berdiri di belakangnya. "Humin? Sedang apa di sini?" tanyanya masih dengan keterkejutan.

"Aku yang seharusnya bertanya. Kau kenapa ada di sini? Dan kenapa terlihat seperti ini?" tanya Humin, menatap Seoyeon dengan tatapan khawatir.

Melihat sekeliling dan akhirnya sadar sedang jadi pusat perhatian, Seoyeon segera beranjak, sekaligus mengajak Humin ikut bersamanya keluar dari arcade.

Situasi menjadi lebih canggung saat hanya ada mereka saja. Seoyeon melihat ini adalah kesempatannya untuk meminta maaf dan menjelaskan pada Humin, tapi tiba-tiba dia merasa keluh.

"Mau ke sana?" tanya Humin, menunjuk ke arah kedai eskrim di seberang jalan. Dia meraih tangan Seoyeon saat gadis itu malah tertengun, lalu mengajaknya untuk menyebrang jalan.

Mereka duduk di salah satu meja kedai dengan eskrim yang telah mereka pesan, masing-masing dengan rasa berbeda.

Humin tampak menikmati eskrim miliknya, sementara Seoyeon belum benar-benar mencicipi miliknya. Hingga Humin menghabiskan eskrimnya, milik Seoyeon masih utuh, tapi sudah mencair.

"Humin..." panggil Seoyeon lirih.

Belum selesai Seoyeon menyusun kata-kata permintaan maafnya, Humin lebih dulu menyela, "tidak apa-apa."

Bingung, Seoyeon langsung menatap Humin.

"Kau pasti punya alasan. Iya, kan?" kata Humin.

Seoyeon menunduk lagi. Humin tampak sudah memaafkannya, Seoyeon bersyukur, tapi masih ada yang mengganjal dalam hatinya.

"Aku tidak bermaksud apa-apa dengan berbohong soal hubunganku dengan Seongje." Mengumpulkan keberanian, Seoyeon menatap Humin, ia sedikit tertengun melihat tidak ada kemarahan sama sekali di wajah cowok itu. "Sudah lama aku menyembunyikan bahwa Seongje adalah saudara kembarku. Bahkan sebelum adanya aliansi. Sebenarnya aku ingin jujur, memberitahu kalian, tapi perselisihan Eunjang dan aliansi..." Seoyeon menggeleng lemah. "Aku tidak bisa mengatakannya. Maaf."

"Yah, sudah kuduga kau punya alasan," kata Humin.

"Kau udah nggak marah lagi padaku?" tanya Seoyeon dengan sorot mata melas.

"Aku nggak pernah marah. Aku hanya agak bingung, waktu itu di atap..." jelas Humin.

"Ah, ya. Maaf soal itu juga. Karena Seongje saudaraku, jadi aku..."

"Kau pasti lebih khawatir padanya."

"Maaf."

"Jangan minta maaf lagi. Bukan kau yang salah."

Seoyeon menipiskan bibir. Diam sejenak sambil memperhatikan eskrim digelasnya yang sudah mencair.

"Bagaimana dengan Sieun? Apa dia sudah sembuh?" tanya Seoyeon, khawatir. Dia melihat bagaimana menghawatirkannya kondisi Sieun setelah berkelahi dengan Seongje. Itu parah. Seoyeon belum pernah melihat Sieun seperti itu.

Humin mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya. "Dia sudah sadar. Asal kau tahu, walau sakit begitu, dia masih saja belajar. Kayak orang mesum saja."

Seoyeon terkejut atas perkataan Humin. Dia mengejrap, dan kemudian ikut terkekeh saat Humin menampilkan cengirannya.

Situasi di antara mereka perlahan-lahan mencair. Humin mulai memberitahu Seoyeon banyak hal, bercerita random tanpa henti, seolah-olah ingin membuat Seoyeon menjadi nyaman lagi didekatntnya.

"Kau mau ganti eksrimnya? Sudah cair," ujar Humin.

"Boleh." Seoyeon hendak beranjak dari tempat duduk. Tapi Humin meraih gelas eksrim Seoyeon dan meminum eksrim cair itu dalam satu kali tegukan, membuat Seoyeon tercengang.

"Tunggu, biar ku pesankan lagi rasa yang sama," kata Humin, tersenyum lebar pada Seoyeon sebelum beranjak untuk memesankan eskrim baru untuk Seoyeon.

Sementara itu Seoyeon hanya bisa tersenyum bahagia di tempatnya, memperhatikan Humin yang sedang mempertimbangkan rasa eskrim lain untuk dirinya sendiri.

Seoyeon menghela napas legah. Dia tidak tahu akan semudah ini meminta maaf pada Humin.

Humin kembali dengan dua gelas es krim. "Ini eskrimu, rasa yang sama, vanila."

Seoyeon menerima salah satu gelas itu dengan senyum berterima kasih. "Terima kasih."

"Sama-sama," kata Humin penuh keceriaan, duduk kembali dan menikmati gelas eskrim keduanya.

Hening sejenak. Keduanya sibuk menikmati es krim masing-masing. Sesekali mereka saling lirik, melempar senyum kecil satu sama lain.

"Seoyeon..." panggil Humin, memecah keheningan.

"Ya?" jawab Seoyeon, menoleh ke arah Humin.

"Kalau kau mau ketemu Sieun, dia akan keluar dari rumah sakit besok," beritahu Humin.

"Ah, kalau begitu mungkin dia akan ikut kelas bimbel lagi, kan?" Ujar Seoyeon, dia tersenyum tipis. "Kurasa aku akan bicara dengannya jika bertemu"

Humin mengangguk. "Anak itu pasti sudah tidak sabar ingin belajar lagi."

Seoyeon mengangguk-angguk. "Syukurlah kalau begitu. Aku senang dia sudah sembuh."

Hening sejenak. Keduanya kembali menikmati es krim mereka.

"Humin..." panggil Seoyeon lagi.

"Ya?"

"Terima kasih untuk hari ini," ujar Seoyeon, tulus.

Humin tersenyum. "Sama-sama. Aku juga senang bisa menemanimu." Seoyeon balas tersenyum.

To Be Continued

A/n

Vote dan komentarnya jangan lupa~

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang