weak heroine - 66

603 100 0
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


Sebelum kedatangan Alinasi ke Eunjang, ketika teman-temannya sibuk menyusun strategi. Seoyeon mengambil langkah berani. Tanpa memberitahu teman-temannya, ia menyelinap keluar dari sekolah dan mencari keberadaan Na Baekjin. Instingnya mengatakan bahwa sebelum pertempuran sesungguhnya dimulai, ada sesuatu yang perlu ia pahami tentang ketua Aliansi itu.

Seoyeon menelfon Na Baekjin dan mengajaknya bertemu. Itu menunda sejenak pertempuran. Mereka bertemu di sebuah bangunan terbengkalai di pinggiran area sekolah. Ia berdiri seorang diri di tengah ruangan yang remang-remang, menatap kosong ke luar jendela. Aura dingin dan kesepian terpancar kuat dari sosoknya.

"Na Baekjin," sapa Seoyeon pelan, membuat pria itu menoleh.

Ekspresi Baekjin tidak menunjukkan keterkejutan. Seolah ia sudah menduga kedatangan Seoyeon. "Geum Seoyeon. Ada apa?"

Seoyeon melangkah mendekat, menatap mata Baekjin yang tampak menyimpan kelelahan tersembunyi. "Aku ingin tahu... apa yang sebenarnya kau inginkan?"

Baekjin terdiam sejenak, sebelum menghela napas panjang. "Aku mencari seseorang yang layak."

Pengakuan itu membuat Seoyeon terkejut. "Seseorang yang layak? Maksudmu, menggantikanmu... kau ingin mengakhiri semua ini?"

Baekjin mengangguk lemah. "Aku lelah. Kekuatan ini... semua pertarungan ini... tidak ada habisnya. Aku hanya ingin seseorang yang cukup kuat untuk mengambil alih, agar aku bisa beristirahat."

Seoyeon menatap Baekjin dengan rasa iba yang tak terduga. Di balik topeng kekuatan dan kekejamannya, ternyata ada seorang pria yang lelah dan ingin melepaskan beban.

"Belum terlambat untuk mundur baik-baik, Baekjin," kata Seoyeon dengan nada lembut. "Kau bisa menghentikan semua ini sekarang."

Baekjin tertawa sinis. "Mundur baik-baik? Setelah semua yang kulakukan."

"Tapi setidaknya kau bisa mengakhiri kekerasan ini," balas Seoyeon. "Tidak perlu ada lagi pertumpahan darah."

Baekjin menatap Seoyeon dengan tatapan yang sulit dibaca. "Menjauhlah dari area pertarungan nanti, Geum Seoyeon."

"Apa maksudmu?" tanya Seoyeon bingung.

"Ini bukan urusanmu lagi," kata Baekjin. "Biarkan aku menyelesaikan ini dengan caraku sendiri."

Baekjin sudah membalikkan badan, mengisyaratkan bahwa percakapan mereka telah berakhir.

Tapi perkataan Seoyeon membuatnya berbalik lagi  "kurasa kau bersikap terlalu keras pada dirimu sendiri"

Baekjin menatapnya tanpa kata.

"Setelah semua yang kau lalui, bukankah seharusnya kau hidup dengan lebih tenang?"

Alis Baekjin mengerut "kau mencari tahu masa lalu ku?"

Seoyeon menelan ludah susah payah ketika Baekjin melangkah pelan mendekatinya.

"Aku hanya..."

"Jadi? Apa kau merasa kasihan?"

Seoyeon mengalihkan pandangan.

"Jangan," kata Baekjin. Suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya. "Aku tidak butuh itu."

Baekjin berbalik lagi, hendak pergi.

"Baekjin," panggil Seoyeon. "Aku masih berpikir bahwa pertempuran ini salah. Setelah Aliansi atau Eunjang menang, apa yang akan terjadi setelah itu?"

"Setelah itu..." tatapan Baekjin tertuju ke arah Seokhyeon yang muncul dipintu ruangan. "Jika Eunjang kalah, Eunjang akan menjadi bagian dari Aliansi dan berada di bawah perintahku," katanya. Dia menatap Seokhyeon yang menunjukan jam tangan, memberi isyarat bahwa semua orang sudah menunggu.

Sedikit menoleh ke belakang, pada Seoyeon, Baekjin melanjutkan kata-katanya, "jika aliansi kalah, kau bisa memutuskan apa yang kau ingin lakukan."

"Sekarang, kembalilah ke Eunjang, Geum Seoyeon."

Dengan perasaan campur aduk, Seoyeon meninggalkan bangunan itu. Ia tidak tahu harus mempercayai perkataan Baekjin atau tidak. Di satu sisi, ia melihat kelelahan dan keinginan untuk mengakhiri semua ini di matanya. Namun di sisi lain, ia juga merasakan ada sesuatu yang lebih rumit yang sedang terjadi.

Seoyeon kembali ke Eunjang, di mana teman-temannya sedang sibuk menyiapkan jebakan dan strategi pertahanan. Mereka tampak tegang namun juga penuh tekad.

Meskipun hatinya dipenuhi dengan informasi baru dan firasat yang tidak menentu, Seoyeon memilih untuk tidak mengatakan apa pun tentang pertemuannya dengan Na Baekjin. Ia tidak ingin membingungkan atau melemahkan semangat teman-temannya menjelang pertempuran. Ia merasa perlu memproses sendiri semua yang baru ia ketahui dan mencari tahu apa sebenarnya rencana Baekjin.

Seoyeon bergabung dengan teman-temannya, ikut membantu mempersiapkan pertahanan. Di benaknya, pertanyaan tentang penerus Baekjin dan permintaannya untuk menjauhi area pertarungan terus berputar. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi, dan ia harus mencari tahu apa itu sebelum semuanya terlambat. Pertempuran melawan Aliansi mungkin hanyalah bagian dari rencana yang lebih besar dari Na Baekjin.

Siang itu, suasana di Eunjang terasa sunyi namun penuh kewaspadaan. Semua persiapan telah selesai. Jebakan telah dipasang, strategi pertahanan telah disusun, dan setiap siswa telah diberi tugas masing-masing. Namun, ketegangan menjelang datangnya Aliansi masih terasa menggantung di udara.

Seoyeon duduk terpisah dari teman-temannya, pikirannya masih berkutat pada pertemuannya dengan Na Baekjin. Kata-kata Baekjin terus terngiang di benaknya.

Sieun menghampirinya, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Kau baik-baik saja, Seoyeon? Kau tampak melamun sejak tadi."

Seoyeon tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Aku hanya sedang memikirkan apa yang akan terjadi."

Sieun duduk di sampingnya. "Kita akan baik-baik saja. Kita sudah mempersiapkan semuanya."

"Aku tahu," jawab Seoyeon. "Tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak beres."

"Maksudmu tentang Baekjin?" tanya Sieun, seolah bisa membaca pikiran Seoyeon.

Seoyeon mengangguk pelan. Ia tidak bisa menceritakan percakapannya dengan Baekjin, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk merahasiakannya untuk saat ini.

Di sudut lain basecamp, Wooyoung tampak sedang berbicara serius dengan Seongje. Sejak kedatangan Seongje beberapa jam yang lalu, suasana di antara mereka sedikit canggung namun juga penuh harapan.

Semua orang bersiap di posisi masing-masing. Mereka menunggu dalam diam, jantung berdebar-debar, menanti kedatangan musuh.

Seoyeon berdiri di garis belakang bersama Juntae. Ia menatap ke arah gerbang sekolah, tempat Aliansi diperkirakan akan datang. Firasat buruknya semakin kuat.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin jelas. Debu mengepul di kejauhan. Aliansi datang.

Seoyeon menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia harus fokus pada saat ini, melindungi teman-temannya, dan mencari tahu apa sebenarnya rencana Na Baekjin. Malam sebelum badai telah berlalu, dan kini badai itu sendiri telah tiba. Eunjang siap bertarung.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang