weak heroine - 55

785 136 5
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


Setelah beberapa hari pemulihan, Seoyeon merasa fisiknya sudah cukup kuat untuk kembali berlatih. Ia merindukan sensasi pukulan dan tendangan, keringat yang mengalir, dan rasa puas setelah latihan keras. Ia juga merasa perlu meningkatkan kemampuan bela dirinya.

Dengan tekad bulat, Seoyeon kembali ke gym lama tempatnya pernah berlatih bela diri. Tempat itu masih sama seperti dulu, dengan ring tinju di tengah ruangan, samsak-samsak yang tergantung di dinding, dan aroma keringat yang khas.

Pelatihnya, seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap dan tatapan mata yang tajam, menyambutnya dengan senyum hangat. "Seoyeon, lama tidak bertemu," katanya. "Bagaimana kabarmu?"

"Baik, Cochi-nim," jawab Seoyeon, tersenyum. "Aku ingin berlatih lagi."

"Tentu saja," kata Pelatih. "Kau selalu diterima di sini. Tapi, apa kau yakin sudah pulih sepenuhnya?"

"Ya, aku baik-baik saja," jawab Seoyeon, meyakinkan pelatihnya. "Aku hanya ingin menjaga diri."

Pelatih mengangguk, mengerti. Ia tahu bahwa Seoyeon adalah gadis yang kuat dan mandiri. "Baiklah," katanya. "Mari kita mulai dengan pemanasan."

Seoyeon mengikuti instruksi pelatihnya, melakukan serangkaian gerakan pemanasan untuk mempersiapkan tubuhnya. Ia merasakan otot-ototnya yang kaku mulai meregang, dan pikirannya menjadi lebih fokus.

Setelah pemanasan, mereka mulai berlatih teknik dasar bela diri. Seoyeon memukul dan menendang samsak dengan penuh semangat, melampiaskan semua frustrasi dan kekhawatirannya. Ia merasakan adrenalin mengalir dalam darahnya, dan ia merasa hidup kembali.

Pelatihnya mengamati Seoyeon dengan cermat, memberikan koreksi dan saran. Ia terkesan dengan kemajuan Seoyeon, dan ia tahu bahwa gadis itu memiliki potensi besar.

"Kau semakin kuat, Seoyeon," kata Pelatih, menghentikan latihan sejenak. "Tapi kau harus lebih fokus pada teknikmu. Kekuatan saja tidak cukup."

Seoyeon mengangguk, mengerti. Ia tahu bahwa ia harus meningkatkan tekniknya jika ingin bertahan di dunia yang kejam ini.

"Aku mengerti," katanya. "Aku akan berlatih lebih keras."

Mereka melanjutkan latihan mereka, dan Seoyeon memberikan yang terbaik. Ia memukul dan menendang dengan lebih fokus, mencoba memperbaiki tekniknya. Ia merasakan tubuhnya lelah, tetapi ia tidak menyerah.

Setelah beberapa jam latihan, mereka akhirnya selesai. Seoyeon merasa puas dan lelah, tetapi ia juga merasa lebih kuat dan percaya diri.

"Terima kasih, Cochi-nim," kata Seoyeon, membungkuk hormat. "Aku merasa lebih baik sekarang."

"Sama-sama, Seoyeon," jawab Pelatih, tersenyum. "Kau selalu diterima di sini. Jangan ragu untuk datang kapan saja."

Seoyeon mengangguk, tersenyum. Ia tahu bahwa ia akan sering kembali ke gym ini. Ini adalah tempatnya untuk melatih tubuh dan pikirannya, untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang penuh bahaya.

Setelah latihan yang melelahkan, Seoyeon berjalan pulang dengan langkah ringan. Ia merasa lebih segar dan percaya diri setelah melampiaskan semua energinya di gym. Namun, ketenangan itu segera sirna ketika ia melihat dua sosok terkapar pingsan di pinggir jalan.

Mata Seoyeon melebar saat ia mengenali seragam yang mereka kenakan. Seragam Yeoil yang langsung mengingatkannya pada Na Baekjin.

"Apa yang terjadi pada mereka?" gumam Seoyeon, mengerutkan kening. Melihat mereka tidak sadarkan diri dengan luka ditubuh mereka, tidak mungkin mereka kalah dalam pertarungan biasa.

Karena mereka berasal dari Yeoil, Seoyeon memutuskan untuk menghubungi Seokhyeon, tangan kanan Na Baekjin. Ia tidak bisa membiarkan orang-orang yang pingsan ini begitu saja.

Setelah menelfon Seokhyeon, Seoyeon menunggu di dekat dua orang itu dengan gelisah. Tempat itu sepi, sama sekali tidak ada orang yang lewat. Sampai beberapa saat kemudian, seseorang akhirnya datang. Seoyeon berharap itu Seokhyeon.

Memang benar yang datang adalah Seokhyeon, tapi cowok itu tidak sendiri, ada Na Baekjin bersamanya, dengan wajahnya dingin dan tanpa ekspresi.

"Apa yang terjadi?" tanya Baekjin, suaranya datar, saat dia tiba di hadapan Seoyeon yang memasang ekspresi merengut.

"Aku juga nggak tahu," jawab Seoyeon, menunjuk ke arah dua orang yang terkapar. "Aku menemukan mereka seperti ini."

Baekjin mengamati dua orang yang pingsan dan langsung menyadari siapa mereka. Seragam Yeoil yang sama, dua pria berbadan tegap, yang satu berambut cepak dan yang lain berambut panjang. Duo Mokha.

Sorot mata Baekjin benjadi lebih tajam, lalu menghela napas. "Mereka kalah," katanya, suaranya pelan.

"Bisakah kau segera membawa mereka alih-alih berkomentar seperti itu?" Kata Seoyeon, alisnya terangkat. Dia kemudian melirik Seokhyeon yang sedang memeriksa dua Mokha.

"Ngomong-ngomong, siapa mereka? Melihatmu sampai repot datang sendiri begini..."

"Mereka duo Mokha"

Bukan Baekjin yang menjawab, melainkan Seokhyeon. Cowok itu berdiri lagi lalu menatap Baekjin dan melapor "kurasa mereka akan sadar tidak lama lagi"

"Kalau begitu, kau tunggu sampai mereka sadar," perintah Baekjin.

"Dua Mokha, kurasa aku pernah mendengarnya," ujar Seoyeon, mencoba mengingat.

Baekjin menatap Seoyeon dengan tatapan misterius. "Ini bukan urusanmu," katanya, suaranya dingin. "Sebaiknya kau pergi."

"Kenapa?" tanya Seoyeon, tidak terima. "Mereka terluka, dan aku ingin tahu apa yang terjadi."

"Kau nggak perlu tahu," kata Baekjin, suaranya tegas. "Ini adalah masalah internal Aliansi."

Seoyeon menatap Baekjin dengan tatapan curiga. Ia tahu bahwa Baekjin menyembunyikan sesuatu, dan ia tidak suka itu.

"Lagi pula kenapa kau berjalan-jalan sendirian? Ini hampir malam" kata Baekjin. Dia melirik ke arah perut Seoyeon yang pernah ditusuk.

"Kau nggak perlu tahu," balas Seoyeon, sambil tersenyum manis, mengejek dengan mengembalikan kata-kata yang sama.

Baekjin mendengus, tidak terkesan dengan ejekan Seoyeon. Ia tahu bahwa Seoyeon adalah gadis yang keras kepala, dan ia tidak akan menyerah begitu saja.

"Geum Seoyeon," kata Baekjin, suaranya lebih lembut. "Sebaiknya kau pulang, Ini bukan tempat yang aman untukmu."

"Memang apa perdulimu?" Balas Seoyeon sarkas. Sebelum berlalu pergi begitu saja tanpa mengakatan apa-apa lagi.

Sementara itu, Seokhyeon melirik ke arah Baekjin yang masih menatap punggung Seoyeon yang semakin menjauh.

Aneh. Satu kata yang bisa Seokhyeon simpulkan atas sikap Baekjin barusan, sikapnya yang tidak biasa seolah Seokhyeon baru saja melihat sisi lain dari sosok Na Baekjin yang hebat.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang