weak heroine - 40

961 158 2
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Seoyeon dan Humin berjalan menyusuri pusat perbelanjaan yang ramai. Mereka berdua memiliki misi yang sama: mencari hadiah ulang tahun untuk Sieun. Humin, yang dekat dengan Sieun, ingin memberikan sesuatu yang istimewa. Sementara Seoyeon, yang juga ingin menunjukkan apresiasinya, ikut menemani Humin.

Saat mereka memilih-milih di sebuah toko pakaian, pikiran Seoyeon melayang pada Sieun dan Wooyoung di toserba tempo hari. Ia masih merasa sedikit bingung dengan sikap Wooyoung dan interaksinya dengan Sieun. Ia juga penasaran dengan Sieun, yang tampaknya memiliki banyak sisi yang belum ia ketahui.

"Humin," kata Seoyeon, memecah keheningan. "Boleh aku bertanya sesuatu tentang Sieun?"

"Tentu saja," jawab Humin, mengalihkan perhatiannya dari sebuah kalung. "Ada apa?"

"Aku... aku penasaran dengan latar belakangnya," kata Seoyeon. "Dia sepertinya memiliki banyak cerita."

Humin tersenyum tipis. "Ya, dia memang begitu," katanya. "Sieun pindah ke sekolah kita di awal semester. Dia langsung menarik perhatian semua orang."

"Karena apa?" tanya Seoyeon, penasaran.

"Pertama, karena dia menghajar pentolan songong di kelasnya," jawab Humin, terkekeh. "Anak itu selalu membuat masalah, dan Sieun memberinya pelajaran yang setimpal."

"Dia seperti seorang pahlawan," komentar Seoyeon, terkesan.

"Ya," kata Humin, mengangguk setuju. "Tapi bukan itu saja yang membuat kami menyukainya. Dia juga sangat baik dan perhatian."

"Benarkah?" tanya Seoyeon, sedikit terkejut. "Dia terlihat agak dingin."

"Itu hanya topengnya," kata Humin. "Di balik itu, dia orang yang sangat peduli pada teman-temannya."

Seoyeon terdiam, merenungkan kata-kata Humin. Dia teringat pada saat Sieun membantunya melawan Ji Hakho. Sieun memang terlihat dingin, tetapi tindakannya menunjukkan bahwa dia peduli.

"Dia juga sangat cerdas," lanjut Humin. "Dia selalu mendapatkan nilai bagus, dan dia tahu banyak hal."

"Kalau yang itu aku tahu" kata Seoyeon. "Tapi kenapa dia pindah sekolah?"

Humin terdiam sejenak. "Kudengar, ada masalah dengan sekolah lamanya."

"Masalah apa?" Tanya Seoyeon, penasaran.

"Aku tidak bisa memberitahumu. Itu hak Sieun, maaf."

"Oh, baiklah," kata Seoyeon, mengangguk mengerti. Dia menghargai privasi Sieun dan tidak ingin memaksanya untuk mengungkap rahasia yang tidak ingin dia bagikan.

"Tapi yang jelas, dia pindah karena suatu alasan," kata Humin. "Dan dia tidak pernah membicarakannya sejak itu."

"Aku mengerti," kata Seoyeon. "Aku tidak akan bertanya lebih jauh."

Mereka berdua terdiam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Seoyeon masih penasaran dengan masa lalu Sieun, tetapi dia tahu dia harus menghormati keputusannya untuk tetap diam.

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang