⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Awan gelap menutupi area Yeongdeungpo sepenuhnya, menjadikan sore itu lebih gelap dari biasanya.
Seoyeon yang mengamati keadaan langit dari balik jendela kelas bimbelnya mulai buru-buru membereskan peralatan belajarnya ketika guru akhirnya menyelesaikan sesi belajar sore itu.
Hujan turun bertepatan dengan tibanya Seoyeon di depan pintu utama gedung Hero Academy. Disampingnya, Sieun mulai mengeluarkan payung dari dalam ranselnya. Seoyeon melirik, begitu payung kuning itu sudah terbuka dan siap digunakan.
"Kau tidak bawa payung lagi?" tanya Sieun. Dia tampaknya menunggu untuk pergi bersama Seoyeon ke halte, tapi gadis itu hanya terpaku menatap hujan dengan gelisah. Tidak kunjung mengeluarkan payung miliknya sendiri.
Seoyeon tersenyum malu. "Entah kenapa aku selalu lupa membawa payung," katanya.
Sieun tidak terlalu banyak menunjukan reaksi tapi kemudian dia mengatakan, "tunggu di sini sebentar." Kemudian tanpa menunggu balasan Seoyeon, dia melangkah dibawah hujan dan pergi entah kemana.
"Dia mau pergi ke mana?" Pikiran Seoyeon bertanya-tanya, melihat Sieun pergi ke arah lain alih-alih ke arah halte.
Hujan semakin turun lebih deras. Seoyeon melangkah mundur ketika rintik yang jatuh ke tanah, memancar masuk ke tepi teras, membuat ujung sepatunya basah.
Hampir lima belas menit Seoyeon berdiri di sana, ketika dia melihat Sieun akhirnya kembali. Laki-laki itu mengambil tempat berdiri di sebelahnya lagi, menurunkan payung yang dia gunakan sejenak.
"Pakai ini," kata Sieun, menyerahkan payung lain pada Seoyeon.
Paham apa yang baru saja dilakukan Sieun, ekspresi wajah Seoyeon segera meringis. "Kau pergi membelikan payung? Kenapa tidak bilang dulu." Dia merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa," kata Sieun. Menyodorkan kembali payung yang dibelinya pada Seoyeon karena gadis itu tidak kunjung menerimanya.
Merasa sungkan, Seoyeon menerima payung pemberian Sieun dengan hati-hati. Dia kemudian membuka payung tersebut dan memayungi dirinya sendiri. Melangkah kebawah hujan bersama Sieun, dan mengikutinya menuju halte bus.
•••
Dalam perjalanan menuju rumah, Seoyeon tiba-tiba merasakan perasaan mengganjal.
Hujan masih turun dengan deras. Area komplek perumhan Daerim sepi dan suram.
Sejak turun dari bus, Seoyeon merasa ada seseorang yang mengikutinya. Dia berusaha mengabaikan perasaan itu, tapi beberapa kali tanda memberinya peringatan bahwa jelas ada seseorang yang mengikutinya secara diam-diam.
Dalam pikirannya, Seoyeon menebak-nebak siapa itu. Memiliki masalah dengan berandalan Yuseon dan Hyungshin membuat Seoyeon sulit untuk menebak dengan tepat. Mungkin, jika dia menoleh kebelakang untuk melihat orang itu mengenakan seragam sekolah mana, dia akan tahu.
"Yak, Geum Seoyeon!" Suara teriakan keras milik Seongje menerobos suara hujan dan memecah pikiran Seoyeon.
Seoyeon melihat saudaranya duduk di atas motornya tepat di depan gerbang rumah mereka. Basah kuyup oleh hujan yang telah mengguyurnya sepanjang perjalanan.
"Sedang apa kau? Cepat masuk!" pinta Seongje, sebelum dia membawa motornya masuk ke dalam parkiran rumah.
Mengabaikan perasaan mengganjalnya tadi, Seoyeon segera menuruti perkataan Seongje dengan bergegas menuju rumahnya.
Tidak tahu bahwa firasatnya memang tepat. Ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi, sejak Seoyeon menyelesaikan bimbel hingga dia turun dari bus.
Seoyeon dicegat Seongje saat dia hendak masuk ke dalam kamarnya. Dia segera mengerlingkan bola mata muak saat menemukan Seongje menghampirinya dalam keadaan shirtless dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Ngapain kau cuman berdiri bengong di depan tadi?" tanya Seongje.
Pikiran Seoyeon kembali teringat mengenai perasaan mengganjalnya. Dengan ekspresi mengeruh, dia mengungkapkan pikirannya pada Seongje. "Kurasa ada yang mengikutiku."
"Siapa?"
Seoyeon mengedikan bahu. "Entahlah. Tapi mungkin hanya perasaanku saja. Hujan membuatku agak gelisah."
"Kau nggak sedang terlibat masalah lagi kan?" tatapan mata Seongje menuntut.
Seoyeon memutar bola mata malas. "Nggak. Kau tenang saja, adikmu ini akan diam saja seperti perintamu, Tuan," kata Seoyeon dengan kemuakan. "Kekarang, pergi pakai bajumu, brengsek. Atau kau akan masuk angin." Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu tepat dihadapan Seongje.
Suara dering ponsel miliknya mengambil alih perhatian Seongje, membuatnya segera beralih dari saudarinya ke ponselnya yang tergeletak di meja.
Nama salah satu anak buahnya tertera dilayar sebagai penelpon. Menekan ikon hijau untuk menerima panggilan, Seongje menempelkan benda pipi ke samping telinganya, mendengarkan laporan atau informasi apa pun itu.
"......"
"Oke, kalau sudah kau ajak satu orang untuk ambil barangnya besok."
"......"
"Tidak, bawa ke basecamp lebih dulu. Aku harus mengeceknya sebelum diberikan pada Na Baekjin."
"......"
"Dengar, bawa barangnya dengan hati-hati. Jika terjadi sesuatu yang merugikan, kau tahu apa yang akan terjadi padamu kan?"
"......"
Panggilan diputus secara sepihak oleh Seongje. Dia kemudian meletakan ponselnya kembali ke atas meja dan pergi untuk membereskan dirinya sendiri. Sebelum Seoyeon menemukannya masih dalam penampilan yang sama dan mengomelinya.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
FanfictionRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
