weak heroine - 37

997 175 6
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Aroma ayam goreng yang menggoda menusuk hidung saat Seoyeon dan Humin memasuki kedai ayam favorit mereka. Kedai itu tampak ramai, namun mereka berhasil mendapatkan tempat duduk di sudut.

"Akhirnya kita bisa ke sini lagi," kata Humin, tersenyum lebar. "Aku sudah lama merindukan ayam goreng di sini."

"Aku juga," jawab Seoyeon, tersenyum. "Tapi, kau yakin sudah baik-baik saja? Wajahmu masih sedikit lebam."

"Aku baik-baik saja," kata Humin, melambaikan tangannya. "Jangan khawatir. Aku sudah terbiasa dengan ini."

Seorang pelayan datang mengambil pesanan mereka. Setelah memesan ayam goreng dan minuman, mereka terdiam sejenak.

"Ngomong-ngomong," kata Humin, memecah keheningan, "bagaimana kau mengenal Ji Hakho?"

Seoyeon tersenyum tipis. "Itu cerita panjang," katanya. "Kami bertemu secara tidak sengaja."

"Secara tidak sengaja?" tanya Humin, mengangkat alis. "Maksudmu, kalian bertemu dalam perkelahian?"

Seoyeon tertawa kecil, lalu menggeleng. "Nggak, bukan perkelahian," kata Seoyeon, sambil tersenyum mengenang. "Kami bertemu saat SMP. Saat itu, aku sedang berjalan pulang dari sekolah, dan tiba-tiba sekelompok berandalan,  menghadangku. Mereka mulai menggangguku, dan aku tidak cukup tangguh untuk melawan."

"Lalu, Ji Hakho datang menyelamatkanmu?" tanya Humin, matanya berbinar.

Seoyeon mengangguk. "Ya," katanya. "Dia tiba-tiba muncul dan menghajar semua berandalan itu. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi padaku jika dia tidak datang."

"Wah, dia itu memang orang baik ya," kata Humin. "Pantas saja kau sangat menghormatinya."

Seoyeon tersenyum. "Ya," katanya. "Dia seperti kakak laki-laki bagiku."

"Aku mengerti," kata Humin. "Dia pasti orang yang sangat penting dalam hidupmu."

"Ya, dia memang begitu," kata Seoyeon. "Dia salah satu orang yang paling penting dalam hidupku."

Mereka terdiam sejenak, menikmati kebersamaan mereka. Kemudian, Humin bertanya, "Apakah kau menyukainya?"

Seoyeon terkejut dengan pertanyaan itu. Dia tidak pernah memikirkan Ji Hakho dengan cara seperti itu. "Aku... aku nggak tahu," katanya, tergagap. "Aku nggak pernah memikirkannya dengan cara seperti itu."

"Kau nggak pernah memikirkannya sebagai lebih dari sekadar teman?" tanya Humin.

Seoyeon menggelengkan kepalanya. "Nggak," katanya. "Dia selalu menjadi temanku, dan aku nggak pernah memikirkannya sebagai orang lain."

Humin mengangguk. "Aku mengerti," katanya. "Tapi, kau tahu, dia sepertinya sangat perduli padamu."

"Bukan hanya peduli," lanjut Humin, "dia bahkan memperingatkanku."

Seoyeon mengerutkan kening. "Memperingatkanmu tentang apa?"

"Tentangmu," jawab Humin, menatap Seoyeon. "Dia bilang, jika aku menyakitimu, kami akan berhadapan lagi. Dia sangat protektif padamu."

Seoyeon terdiam, terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia tahu Ji Hakho peduli padanya, tetapi dia tidak menyadari bahwa dia begitu protektif.

"Dia... dia mengatakan itu?" tanya Seoyeon, suaranya pelan.

Humin mengangguk. "Ya," katanya. "Dia sangat serius. Dia beneran nggak main-main."

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang