weak heroine - 43

892 140 7
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Humin merasa gugup saat berdiri di depan Hero Academy. Ia telah memutuskan untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama Seoyeon, dan menunggunya selesai les adalah langkah awal. Ia berharap kehadirannya akan menunjukkan perhatiannya, sekaligus memberikan kesempatan untuk mengobrol santai.

Sore itu, suasana di depan Hero Academy cukup ramai. Anak-anak dan remaja keluar dari gedung dengan wajah lelah namun puas. Humin mengamati setiap orang yang keluar, mencari sosok Seoyeon.

Setelah beberapa saat, akhirnya ia melihat Seoyeon keluar dari pintu utama. Wajahnya terlihat lelah, tapi saat melihat Humin, senyumnya langsung merekah.

"Humin? Sedang apa di sini?" tanya Seoyeon, menghampirinya.

"Aku... aku hanya ingin menemanimu pulang," jawab Humin, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Aku tahu lesmu pasti melelahkan."

Seoyeon tersenyum tipis. "Terima kasih," katanya. "Kau nggak perlu repot-repot."

"Nggak repot sama sekali," kata Humin, tersenyum. "Aku senang bisa menemanimu."

"Ngomong-ngomong, dimana Sieun?" Tanya Humin, sambil melonggokan kepala mengintip ke dalam Hero Academy.

"Masih di kelas, menyelesaikan tugas hari ini. Dia bilang duluan saja," kata Seoyeon, sambil menghela napas panjang.

"Memang Sieun itu ya, gila banget belajarnya," komentar Humin.

Mereka berdua mulai berjalan menyusuri trotoar. Suasana di antara mereka terasa nyaman dan santai. Mereka mengobrol tentang les Seoyeon, tentang teman-teman mereka, dan tentang hal-hal ringan lainnya.

"Lesmu pasti sangat sulit," kata Humin, mencoba memulai percakapan.

"Ya, lumayan," jawab Seoyeon. "Tapi aku suka tantangannya."

"Kau memang hebat," kata Humin, tulus. "Aku kagum dengan semangatmu."

Seoyeon tersenyum malu-malu. "Terima kasih," katanya.

Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kebersamaan mereka. Humin merasa jantungnya berdebar kencang. Ia merasa senang bisa berada di dekat Seoyeon, tapi ia juga merasa gugup. Ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.

Saat Humin dan Seoyeon berjalan menyusuri jalanan yang mulai sepi, suara gaduh dari gang sempit di sisi jalan menarik perhatian mereka. Mereka melihat sekelompok orang berkelahi, dan saat Humin mengamati lebih dekat, ia menyadari bahwa salah satu dari mereka adalah Kang Jeongyeon, tangan kanan Bae Jihoon.

Humin memperhatikan, matanya menyipit. Ia melihat bahwa Jeongyeon sedang dikeroyok oleh tiga orang, dan salah satu dari mereka adalah Jo Seungjin, mantan pentolan Hyungshin.

Seoyeon ragu-ragu. Ia tahu bahwa mereka memiliki hubungan yang rumit dengan Yuseon dan aliansi. Menolong Jeongyeon berarti ikut campur dalam urusan mereka.

"Humin, kita nggak tahu apa yang terjadi," kata Seoyeon, berusaha menahan Humin. "Mungkin ini bukan urusan kita." Dia tidak mau menambah masalah lagi untuk saat ini, apa lagi dengan aliansi.

Namun, Humin tidak mendengarkan. Ia melihat Jeongyeon terdesak dan babak belur. Ia tidak bisa tinggal diam. Tanpa berkata apa-apa, ia berlari masuk ke dalam gang dan menerjang Jo Seungjin.

"Humin!" seru Seoyeon, terkejut, lalu segera mengikuti Humin.

Humin mendaratkan pukulan keras ke wajah Jo Seungjin, membuatnya tersungkur. Dua orang lainnya menoleh, terkejut melihat kedatangan Humin.

Jo seungjin bangkit, menatap ke arah Humin sambil tersenyum miring, meremehkan. "Park Humin, apa sekarang kau jadi budak aliansi juga?"

"Bukan urusanmu," jawab Humin, matanya berkilat marah.

Perkelahian pun pecah. Humin, melancarkan pukulan dan tendangan, berusaha melindungi Jeongyeon.

Seoyeon, meski ragu-ragu, tidak bisa tinggal diam. Ia membantu Jeongyeon berdiri dan bersama-sama mereka melawan dua orang lainnya.

Pertarungan berlangsung sengit, dimana Seoyeon juga ikut turun tangan.
Setelah beberapa saat, Jeongyeon berhasil bangkit dan bergabung dalam perkelahian. Dengan tiga lawan tiga, mereka berhasil mendesak kelompok Jo Seungjin. Tapi Jo Seungjin sendiri tampaknya cukup kuat untuk ditumbangkan.

Semangat Humin membara setiap kali satu pukulan mendarat padanya. Pukulan Jo Seungjin hampir sama kuatnya dengan pukulan Ji Hakho. Mengingat dia pernah berkelahi mati-matian melawan Ji Hakho, kali ini mungkin akan berakhir demikian.

Meski Jo Seungjin bukan lagi bagian dari aliansi, tapi kekuatan bertarungnya, tidak ada yang diragukan. Dalam peringkat Shuttle Patch, Ji Hakho mungkin lebih unggul. Tapi Jo Seungjin tampaknya lebih punya banyak pengalam. Di antara eksekutif aliansi, Jo Seungjin adalah orang yang pertama kali berada di samping Na Baekjin saat penaklukan Yeongdeungpo melawan geng Manwol beberapa tahun silam.

Humin dan Jeongyeon berjuang keras melawan kelompok Jo Seungjin. Humin, dengan tekad yang membara, melancarkan pukulan demi pukulan, sementara Jeongyeon, meski terluka, tetap bertahan dan membantu Humin. Seoyeon, dengan gerakan lincah dan terukur, berhasil menahan dua anggota kelompok Jo Seungjin lainnya.

Namun, Jo Seungjin bukanlah lawan yang mudah. Pengalamannya sebagai mantan eksekutif Aliansi membuatnya memiliki kekuatan dan teknik bertarung yang luar biasa. Ia mampu menahan serangan Humin dan bahkan membalas dengan pukulan yang kuat.

Humin merasakan setiap pukulan Jo Seungjin, mengingatkannya pada pertarungan sengitnya melawan Ji Hakho. Ia menyadari bahwa Jo Seungjin bukanlah lawan sembarangan. Ia memiliki pengalaman dan kekuatan yang setara dengan petarung-petarung tangguh yang pernah ia hadapi.

"Kau nggak akan bisa menang, Park Humin," kata Jo Seungjin, menyeringai. "Kau hanya anak baru yang sok pahlawan."

"Aku nggak peduli," jawab Humin, matanya berkilat marah. "Kau pengecut yang menghajar satu orang dengan bergerombol, tidak pantas berkata begitu."

Humin melancarkan serangan bertubi-tubi, tetapi Jo Seungjin berhasil menghindar dan membalas dengan tendangan keras ke perut Humin. Humin terhuyung, merasakan sakit yang luar biasa.

"Humin!" seru Seoyeon, khawatir, sambil menahan lawannya.

Jeongyeon, melihat Humin kesakitan, melancarkan serangan terakhir ke arah Jo Seungjin. Namun, Jo Seungjin berhasil menahan serangannya dan membalas dengan pukulan telak ke wajah Jeongyeon, membuatnya terjatuh.

Jo Seungjin berdiri di atas Jeongyeon, menatap Humin dengan tatapan meremehkan. "Lihatlah budak aliansi ini," katanya. "Lemah dan nggak berguna."

Humin merasakan amarahnya memuncak. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit dan menerjang Jo Seungjin.

Pertarungan kembali berlanjut, tetapi kali ini Humin bertarung dengan lebih brutal. Ia tidak lagi memikirkan teknik atau strategi. Ia hanya ingin melampiaskan amarahnya kepada Jo Seungjin.

Pukulan demi pukulan mendarat di wajah dan tubuh Jo Seungjin. Jo Seungjin, meski kuat, mulai kewalahan menghadapi serangan Humin yang membabi buta.

Salah satu anggota Jo Seungjin yang menyaksikan Jo Seungjin hampir tumbang, mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Lalu berjalan ke arah Humin begitu dia mendaratkan satu pukulan telak yang menjatuhkan Seoyeon.

Mata Seoyeon membelakak saat dia melihat benda apa yang orang itu pegang, dan mungkin apa yang akan dklalukannya.

"Humin!"

Tepat saat sebilah cutter hendak menghantam bagian perut Humin dari samping, Seoyeon berdiri dan bergerak dengan cepat untuk menghadangnya, seolah menjadi perisai manusia bagi Humin.

Tepat saat Humin memukul jatuh Jo Seungjin, begitu pula Seoyeon jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang