weak heroine - 39

866 156 0
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Na Baekjin berdiri dari kursinya dan berjalan mengelilingi meja, mendekati Seoyeon. Dia menatapnya dari atas ke bawah, seolah menilai kekuatannya. "Kau berani sekali datang ke sini sendirian," katanya. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku?"

Seoyeon tidak gentar. Dia menatap Na Baekjin dengan tatapan tajam. "Aku tidak takut padamu," katanya. "Aku tahu kau bukan orang yang tak terkalahkan."

Na Baekjin tertawa. "Kau benar," katanya. "Aku bukan orang yang tak terkalahkan. Tapi aku orang yang sangat berbahaya. Dan kau, Geum Seoyeon, baru saja membuat dirimu menjadi musuhku."

Seoyeon tidak menjawab. Dia tahu dia telah mengambil risiko besar dengan datang ke sini. Tapi dia tidak menyesalinya. Dia tahu dia harus menghentikan Na Baekjin, demi kebaikan semua orang.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Na Baekjin. "Apakah kau akan menyerangku? Atau apakah kau akan lari?"

Seoyeon tidak bergerak. Dia tahu dia tidak bisa mengalahkan Na Baekjin dalam pertarungan langsung. Tapi dia juga tahu dia tidak bisa lari. Dia harus mencari cara lain untuk menghentikannya.

"Aku tidak akan melakukan keduanya," kata Seoyeon. "Aku akan mencari cara untuk menghentikanmu, tanpa menggunakan kekerasan."

Na Baekjin mengangkat alisnya. "Oh ya?" katanya. "Dan bagaimana kau akan melakukan itu?"

Seoyeon tersenyum tipis. "Itu bukan urusanmu," katanya. "Tapi aku janji, aku akan menghentikanmu."

Na Baekjin tertawa. "Kau yakin?" katanya. "Kau pikir kau bisa menghentikanku? Aku punya kekuasaan, pengaruh, dan uang. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau."

"Kekuasaan, pengaruh, dan uangmu tidak berarti apa-apa bagiku," kata Seoyeon. "Aku tidak takut padamu. Aku akan menghentikanmu, tidak peduli apa pun yang terjadi."

Na Baekjin menatap Seoyeon dengan tatapan tajam. Dia bisa melihat tekad di matanya. Dia tahu dia tidak bisa meremehkan gadis ini.

"Baiklah," kata Na Baekjin. "Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan menang."

Dia berbalik dan berjalan menuju mejanya. "Kau boleh pergi sekarang," katanya. "Tapi ingat, Geum Seoyeon, ini belum berakhir."

Seoyeon mengangguk dan berbalik untuk pergi. Dia berjalan keluar dari kantor Na Baekjin, merasa lega karena telah menyelesaikan misinya. Tapi dia juga merasa khawatir. Dia tahu Na Baekjin tidak akan menyerah begitu saja.

Saat dia berjalan menuju lift, dia melihat Kwon Seokhyeon berdiri di dekat pintu. "Kau baik-baik saja?" tanya Kwon Seokhyeon.

"Ya," kata Seoyeon. "Terima kasih sudah membantuku."

Kwon Seokhyeon mengangguk. "Sama-sama," katanya. "Tapi hati-hati. Na Baekjin adalah orang yang berbahaya."

"Aku tahu," kata Seoyeon. "Aku akan berhati-hati."

Dia masuk ke lift dan menekan tombol lantai dasar. Saat pintu lift menutup, dia menghela napas lega. Dia tahu dia telah mengambil risiko besar, tapi dia juga tahu dia telah melakukan hal yang benar.

Seoyeon melangkah masuk ke rumah, merasa lelah dan tegang setelah pertemuannya dengan Na Baekjin. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi dia tahu dia harus bersiap untuk segala kemungkinan. Saat dia berjalan menuju dapur, dia mendengar suara tawa dan obrolan. Dia melihat ibunya sedang berbicara dengan Wooyoung.

"Seoyeon, kamu sudah pulang!" kata ibunya, tersenyum. "Wooyoung baru saja datang berkunjung."

"Hai," sapa Wooyoung, melambai singkat padanya.

Seoyeon tersenyum tipis. "Hai."

Seoyeon duduk di meja dapur dan bergabung dengan ibunya dan Wooyoung. Mereka berbicara tentang hal-hal biasa, seperti pekerjaan dan sekolah. Seoyeon mencoba untuk bersikap normal, tetapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan cemas yang mengganggunya.

Dia tahu dia tidak bisa menceritakan pertemuannya dengan Na Baekjin kepada siapa pun. Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir, dan dia tidak yakin apakah dia bisa mempercayai Wooyoung. Wooyoung selalu bersikap baik padanya, tetapi dia juga dekat dengan Geum Seongje, saudara laki-laki Seoyeon. Seoyeon tidak tahu apakah Geum Seongje terlibat dalam urusan Na Baekjin, dan dia tidak ingin mengambil risiko.

"Seoyeon, kamu terlihat lelah," kata ibunya. "Apakah kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja," kata Seoyeon. "Aku hanya sedikit lelah."

"Kalau begitu, kamu harus istirahat," kata ibunya. "Kamu bisa berbicara dengan Wooyoung nanti."

"Baiklah, Bu," kata Seoyeon.
Dia bangkit dari meja dan pergi ke kamarnya. Dia menutup pintu dan bersandar di dinding, menghela napas panjang. Dia merasa lega bisa sendirian, tetapi dia juga merasa khawatir. Dia tahu dia harus mencari cara untuk menghentikan Na Baekjin, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya.

Dia duduk di tempat tidurnya dan mengeluarkan ponselnya. Dia menatap layar ponselnya, berpikir tentang siapa yang bisa dia ajak bicara. Dia ingin berbicara dengan Humin, tetapi dia tahu Humin akan khawatir. Dia juga ingin berbicara dengan teman-temannya yang lain, tetapi dia tidak ingin melibatkan mereka dalam masalahnya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk menelepon Seongje. Dia tahu dia tidak bisa mempercayai Seongje sepenuhnya, tetapi dia berharap dia bisa memberikan beberapa informasi tentang Na Baekjin.

Dia menekan tombol panggil dan menunggu Seongje menjawab.
"Halo?" kata Seongje.

"Kau sedang apa? Aku ingin bicara," kata Seoyeon.

"Ada apa? Bicara saja," kata Seongje, terdengar khawatir.

"Aku ingin bertanya sesuatu tentang Na Baekjin," kata Seoyeon.

"Na Baekjin? Kenapa kau bertanya tentang dia?" tanya Seongje, terdengar curiga.

"Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang dia," kata Seoyeon. "Dia orang yang berbahaya, kan?"

"Ya, dia orang yang sangat berbahaya," kata Seongje. "Karena itu, kau jangan pernah terlibat dengannya." Nada suaranya benar-benar terdengar seperti peringatan.

Seoyeon agak terdiam sejenak sampai suara Seongje kembali terdengar.

"Kenapa kau bertanya?"

"Hanya penasaran. Bukankah dia sangat terkenal." Seoyeon mengerlingkan bola mata, mambuat dalih atas kebohonganya.

"Pokoknya, jangan pernah terlibat dengannya."

"Iya, iya" dia memutar bola mata malas. "Kau, jangan pulang telat," katanya, sebelum memutus panggilan.

Seoyeon menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya panjang. Langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang