⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Setelah tauran usai, lapangan sekolah Eunjang yang tadinya menjadi medan pertempuran kini tampak sunyi dan berantakan. Sisa-sisa hujan masih membasahi tanah, bercampur dengan lumpur dan jejak perkelahian. Beberapa siswa Eunjang terlihat saling membantu memapah teman-teman mereka yang terluka menuju kepinggiran lapangan, ke tempat yang kering.
Di tengah kesibukan itu, Seoyeon dan Humin duduk berdampingan di salah satu bangku yang masih kering di dekat lapangan. Mereka saling membantu mengobati luka masing-masing dengan perlengkapan medis seadanya. Wajah keduanya tampak lelah, namun ada kelegaan yang terpancar dari mata mereka.
Humin dengan hati-hati membersihkan luka gores di pipi Seoyeon dengan kapas dan antiseptik. Tatapannya lembut dan penuh perhatian, sesekali meniup pelan agar tidak terlalu perih. Seoyeon meringis kecil saat kapas menyentuh luka, namun ia membiarkan Humin merawatnya tanpa protes.
"Pelan-pelan," kata Humin lembut, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Kau pasti sangat kesakitan."
Seoyeon menggeleng pelan, menatap Humin dengan tatapan yang sama lembutnya. "Tidak separah yang kubayangkan. Yang penting, semua ini sudah berakhir."
Kini giliran Seoyeon untuk mengobati luka Humin. Ada memar kebiruan di lengan Humin dan beberapa luka lecet di tangannya. Seoyeon mengoleskan salep dengan hati-hati, berusaha tidak menyentuh area yang memar terlalu keras.
Saat jari-jari mereka bersentuhan tanpa sengaja, keduanya terdiam sejenak. Ada kehangatan dan kedekatan yang terasa begitu alami di antara mereka. Tatapan mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, hiruk pikuk di sekitar mereka seolah menghilang.
Humin tersenyum malu-malu, mengalihkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Seoyeon. "Kau hebat tadi, Seoyeon. Kau tampak seperti pemimpin yang hebat. Kau bisa jadi orang nomor satu Eunjang."
Seoyeon balas tersenyum. "Tapi aku bukan murid Eunjang, lagi pula kita semua hebat, Humin. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa."
Mereka kembali fokus pada kegiatan mengobati luka, namun kehangatan dan kedekatan di antara mereka tidak menghilang. Sesekali, mereka bertukar pandang dan tersenyum, seolah ada ikatan tak terlihat yang semakin menguat setelah melewati pertempuran yang berat ini.
Cara mereka saling merawat, perhatian dalam setiap sentuhan, dan tatapan lembut yang mereka berikan satu sama lain tidak luput dari perhatian beberapa teman mereka yang lewat. Ada aura romantis yang samar namun jelas terasa di antara Seoyeon dan Humin.
Gayool dan Hyuntak, saling bertukar pandang dan tersenyum kecil melihat kedekatan kedua sahabat itu. Mereka tahu, Seoyeon dan Humin memiliki ikatan yang lebih dalam dari sekadar persahabatan.
Setelah selesai mengobati luka masing-masing, Seoyeon dan Humin duduk berdampingan dalam diam, menikmati ketenangan setelah badai pertempuran mereda. Hujan sudah berhenti, dan sinar matahari mulai menembus celah-celah awan kelabu.
Seoyeon menyandarkan kepalanya di bahu Humin, merasa nyaman dan aman berada di dekat cowok itu. Humin membalasnya dengan merangkul bahu Seoyeon dengan lembut.
Dalam keheningan itu, tanpa kata-kata, mereka berbagi rasa lega, kelelahan, dan kedekatan yang semakin mendalam. Luka-luka fisik mungkin akan sembuh, namun ikatan emosional yang terjalin di antara mereka setelah melewati masa-masa sulit ini akan membekas lebih lama. Di balik luka pertempuran, benih-benih cinta dan kasih sayang mulai tumbuh.
Tak jauh dari tempat Seoyeon dan Humin saling merawat luka, Wooyoung dan Seongje berdiri bersandar di dinding gedung sekolah yang basah. Mereka berdua mengamati interaksi antara Seoyeon dan Humin dalam diam.
Di sisi lain, Sieun, yang telah menyadari bahwa dia memiliki perasaan khusus pada Seoyeon, tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa cemburu di wajahnya melihat kedekatan gadis itu dengan Humin.
Seongje, memasang ekspresi datar namun matanya tidak lepas dari interaksi saudarinya dengan Park Humin.
Setelah beberapa saat, Wooyoung yang berdiri di sampimgnya, akhirnya membuka suara, "Mereka... terlihat sangat dekat, ya?"
Seongje melirik Wooyoung dengan senyum tipis yang cenderung sarkastis. "Kau baru menyadarinya, Wooyoung?"
Wooyoung menghela napas. "Yah... aku tahu mereka dekat, tapi... ini berbeda."
Seongje kembali mengarahkan pandangannya pada Seoyeon dan Humin. Sebagai saudara kembar Seoyeon, ia memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang gadis itu.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Seongje?" tanya Wooyoung hati-hati. "Sebagai saudaranya... apa pendapatmu tentang hubungan Seoyeon dan Humin?"
Seongje terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan pertanyaannya. Kemudian, ia menjawab dengan nada sarkastis yang khas, "Oh, tentu saja. Mereka sangat cocok. Yang satu selalu ceria dan penuh semangat, yang lain selalu serius dan bertanggung jawab. Kombinasi yang sangat... membosankan."
Wooyoung mengerutkan kening, tidak yakin apakah Seongje serius atau hanya bercanda. "Kau tidak keberatan?"
Seongje mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Perkataanku tidak akan berguna, anak itu tidak pernah mendengrkanku. Dan soal Park Humin, aku sudah menyerah, terserah apa yang mau dia lakukan, selama dia bersikap baik pada Sepyeon..." Namun, ada jeda kecil sebelum ia melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih serius, "Lagipula, setidaknya Humin bisa diandalkan."
Mereka kembali terdiam, mengamati Seoyeon dan Humin. Meskipun Seongje memberikan komentar sarkastis, Wooyoung bisa merasakan bahwa jauh di lubuk hatinya, saudara kembar Seoyeon itu tidak lagi keberatan dengan kedekatan mereka. Mungkin, setelah semua yang terjadi, Seongje hanya menginginkan kebahagiaan untuk saudarinya. Terlepas dengan siapa ia menemukannya. Dan mungkin, Seongje juga melihat ketulusan dan kebaikan hati Humin yang bisa menjaga Seoyeon.
Sieun sendiri masih memperhatikan arah yang sama, ia tidak bisa menyangkal bahwa Seoyeon tampak bahagia berada di dekat Humin.
Suho yang datang memghampirinya dan langsung paham apa yang menyebabkan ekspresi muram di wajah Sieun, hanya bisa menghela napas berat dan menepuk bahunya sebegai bentuk dukungan.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
Fiksi PenggemarRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
