weak heroine - 52

757 138 7
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Beberapa hari berlalu, dan kondisi Seoyeon mulai membaik. Di sisi lain, dunia berandalan bergejolak. Kemenangan Seongje atas Jo Seungjin telah mengguncang hierarki kekuatan. Nama Geum Seongje tiba-tiba melesat ke peringkat 4 di Shuttle Patch, sebuah platform daring misterius yang melacak dan memberi peringkat kepada para petarung terkuat di Yeongdeongpo.

Seoyeon menunjukkan ponselnya kepada Heekyung, yang sedang menemaninya. "Lihat ini," kata Seoyeon. "Nama Seongje ada di peringkat 4."
Heekyung menatap layar ponsel Seoyeon dengan bingung.

"Ah, Shuttle Patch, aku pernah dengar." Heekyung mengamati layar ponsel Seoyeon. "Ini adalah list peringkat para berandal Yeongdeungpo kan? Wah lihat, saudaramu ada di peringkat empat, Ji Hakho yang tadi di peringkat tiga dan..." Heekyung menutup mulutnya saat mencapai nama di peringkat dua. "Park Humin, wah...dia memang sehebat itu ya." Heekyung tampak kagum.

Park Humin. Seoyeon memejamkan mata sesaat sambil menarik napas dalam-dalam. Dia belum tahu kabar Humin sampai sekarang, cowok itu bahkan tidak mengangkat telfonnya.

Pandagan Seoyeon kembali tertuju pada list Shuttle Patch, yang kini ponselnya sudah berpindah tangan ke tangan Heekyung, yang menggulir daftar dengan penasaran.

Setiap berita yang melibatkan berandal, dengan cepat menyebar di kalangan anak-anak Yeongdeungpo.

Bagaimana mungkin sebuah situs daring bisa begitu akurat dalam menilai kekuatan seseorang? Bagaimana mereka tahu tentang pertarungan yang terjadi di jalanan gelap dan gudang terbengkalai?

Seoyeon, yang mendengar kabar tersebut, merasa penasaran dan bingung bagaimana platform itu bisa begitu akurat.

"Bagaimana mungkin sebuah situs daring bisa begitu akurat dalam menilai kekuatan seseorang?" gumam Seoyeon, suaranya pelan. "Bagaimana mereka tahu tentang pertarungan yang terjadi di jalanan gelap dan gudang terbengkalai?"

Heekyung mengangkat bahu. "Entahlah," katanya. "Mungkin mereka punya informan di mana-mana."

Seoyeon menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin," katanya. "Ini terlalu akurat. Mereka bahkan tahu tentang pertarungan Seongje dan Jo Seungjin, yang terjadi di dalam gudang tertutup."

Heekyung terdiam, menatap Seoyeon dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti mengapa Seoyeon begitu penasaran tentang Shuttle Patch.

"Kenapa kau begitu peduli?" tanyanya.

"Aku hanya penasaran," jawab Seoyeon, suaranya datar. "Aku ingin tahu siapa yang ada di balik ini"

Heekyung mengedikan bahu acuh, mengembalikan ponsel Seoyeon.

•••

Seoyeon dan Seongje keluar dari rumah sakit secara bersamaan. Mereka dijemput oleh orang tua mereka. Suasana di dalam mobil terasa tegang. Ayah mereka menatap kedua anaknya dengan tatapan khawatir.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ayah mereka, suaranya serius. "Kenapa kalian berdua terlibat dengan gangster?"

Seoyeon dan Seongje saling bertukar pandang, lalu membuang pandangan. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.

"Kami hanya..." Seoyeon mulai berbicara, tetapi kemudian berhenti.

"Sudahlah," kata Ibu mereka, memotong pembicaraan. "Anak-anak sudah cukup menderita. Biarkan mereka istirahat."

Pria itu menghela napas berat, tetapi tidak membantah. Ia tahu bahwa istrinya benar. Mereka berdua terdiam sepanjang perjalanan pulang, pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan dan kekhawatiran.

Suasana di dalam mobil terasa kaku dan canggung. Seoyeon dan Seongje duduk di kursi belakang, diam-diam merenungkan kejadian yang baru saja mereka alami. Ayah dan Ibu Geum duduk di depan, mencoba meredakan ketegangan dengan percakapan ringan, tetapi usaha mereka sia-sia.

Saat mobil memasuki halaman rumah, Seoyeon dan Seongje menghela napas lega. Mereka akhirnya bisa keluar dari suasana tegang ini.

"Kami langsung ke kamar," kata Seoyeon, suaranya pelan.

"Ya, kami lelah," tambah Seongje, mengangguk setuju.

Orang tua mereka mengangguk, mengerti. Mereka tahu bahwa anak-anak mereka membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memproses semua yang telah terjadi.

Seoyeon dan Seongje berjalan menuju kamar mereka masing-masing, meninggalkan orang tua mereka di ruang tamu. Mereka berdua merasa lega bisa sendirian, tetapi pikiran mereka masih dipenuhi dengan pertanyaan dan kekhawatiran.

Seoyeon duduk di tempat tidurnya, menatap ponselnya. Melihat pesan terakhir yang ia kirimkan pada Humin masih belum di balas.

Ia mencoba menghubungi Humin lagi, tetapi panggilannya tidak dijawab. Ia mengirim pesan lagi, tetapi tidak ada balasan.

"Humin, tolong jawab pesanku," gumam Seoyeon, matanya berkaca-kaca. "Aku khawatir padamu."

Ia merasa tidak berdaya, tidak mampu membantu Humin. Ia hanya bisa menunggu, berharap Humin akan baik-baik saja.

Seoyeon duduk di tempat tidurnya, menatap ponselnya dengan cemas. Ia telah mencoba menghubungi Humin berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban. Kekhawatiran mulai merayap di hatinya.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari Humin. Jantung Seoyeon berdegup kencang saat ia membuka pesan itu.

"Aku baik-baik saja," tulis Humin. "Jangan khawatir."

Seoyeon menghela napas lega. Ia merasa lega mendengar bahwa Humin baik-baik saja, tetapi ia juga merasa curiga. Pesan itu terlalu singkat dan tidak jelas.

Seoyeon segeraa menelfon Humin, kali ini Humin menjawab telfonnya. Belum sempat Humin mengatakan apa-apa, Seoyeon langsung mendesaknya dengan pertanyaan, "di mana kau?" tanya Seoyeon.

"Seoyeon..." suara Humin terdengar lirih.

"Aku ingin bertemu denganmu," kata Seoyeon, dengan suara lebih lembut.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara yang terdengar di antara mereka. Seoyeon hanya bisa mendengar helaan nafas berat Humin, sebelum akhirnya cowok itu menjawab.

"Taman, di dekat rumahmu."

Tanpa ragu, Seoyeon bangkit dari tempat tidurnya. Ia tahu bahwa ia harus menemui Humin, meskipun itu berarti ia harus pergi tanpa memberi tahu orang tuanya, juga Seogje.

Seoyeon berlari, mencoba mencapai taman secepat mungkin. Saat dia tiba di tepian, dia bisa melihat sosok Humin duduk di bangku taman sendirian.

Perasaanya bergejolak dengan rasa khawatir. Nafasnya naik turun karena adrenalin. Melihat Humin secara langsung seperti ini, membuatnya merasa senang sekaligus sedih.

Dengan langkah mantap, Seoyeon berjalan mendekati Humin, yang tampaknya masih belum menyadari kedatangannya.

Sementara itu, Humin menatap layar ponselnya muram, pada room chat nya dengan Seoyeon. Menuliskan sesuatu, "Jangan datang, mari bertemu besok" setelah mengirimkan kalimat singkat itu, Humin bangkit berdiri, hendak beranjak pergi.

Namun, sebelum dia melangkah, sesuatu menahannya dari belakang. Sepasang tangan melingkari pinggangnya, dan kemudian, disusul oleh bisikan pelan.

"Humin..."

"Aku sangat khawatir padamu."

Humin membeku.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang