weak heroine - 44

876 149 1
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


Di kantor Yeouinaru, suasana tegang menyelimuti ruang rapat. Bae Jihoon tampak, gelisah. Rapat penting akan segera dimulai, tetapi Kang Jeongyeon, belum juga tiba. Ia telah mencoba menelepon Jeongyeon berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban.

"Di mana sih anak ini?" gumam Jihoon, melihat jam tangannya. "Rapat akan segera dimulai, aku jadi malas karena hanya sendirian."

"Terserah." Mengabaikan Jeongyeon yang tidak ada kabar. Jihoon masuk ke dalam ruang rapat.

Semua orang yang hadir di ruang rapat, termasuk Geum Seongje, Ji Hakho, Lee Sehan, dan Na Baekjin sendiri.

Tepat saat rapat akan dimulai, telepon Jihoon berdering. Membuat semua perhatian tertuju padanya. Jihoon menatap ke arah Baekjin, seolah meminta persetujuannya. Begitu mendapat anggukan singkat, Ia segera mengangkatnya.

"Jeongyeon, di mana kau?" tanya Jihoon,  kesal.

"Jihoon, aku di rumah sakit," jawab Jeongyeon, suaranya lemah.

"Rumah sakit?" tanya Jihoon, terkejut. "Apa yang terjadi?"

"Aku diserang oleh kelompok Jo Seungjin," kata Jeongyeon.

Jihoon terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Jo Seungjin?" ulangnya, suaranya gentar.

Mendengar nama itu, tatapan Baekjin menajam, menjadi lebih fokus. "Jihoon, speaker," pintanya.

Jihoon mengangguk dan segera mengalihkan panggilan ke mode speaker.

"Jeongyeon, katakan apa yang terjadi," kata Jihoon.

"Jo Seungjin menghadangku bersama dua orang lainnya, dan kurasa mereka adalah mantan geng Manwol."

"Jo Seungjin, brengsek," umpat Lee Sehan. Mengingat beberapa hari lalu dia juga dihajar oleh mereka, sampai dibuat babak belur, ditambah uang untuk bisnis aliansi juga di curi.

Seongje menongka dagu dengan bosan, sama sekali tidak berminat pada percakapan Jeongyeon dalam telfon. Sementara Hakho memperhatikan tapi tetap santai.

"Katamu, kau di rumah sakit, apa lukamu parah?" tanya Jihoon. Merasa khawatir. Baginya, Jeongyeon bukan hanya sekedar tangan kanan, tapi juga sahabat yang paling dekat dengannya.

"Nggak, bukan aku. Ini adik Geum Seongje," kata Jeongyeon, dari seberang telfon. Langsung mengambil seluruh atensi Seongje. "Dia kena tusuk."

Seperti kena pukulan telak dari belakang kepalnya, Seongje terguncang

Suasana di ruang rapat langsung berubah tegang. Semua orang terkejut dengan berita itu. Geum Seongje, yang duduk di samping Ji Hakho, langsung berdiri, wajahnya merah padam.

"Di mana adikku?" tanyanya, suaranya menggelegar.

"Di rumah sakit," jawab Jihoon. "Jeongyeon akan memberitahu lokasinya, akan kukirimkan alamatnya."

Geum Seongje segera keluar dari ruang rapat, mengabaikan begitu saja Baekjin, diikuti oleh Ji Hakho. Mereka berdua bergegas menuju rumah sakit, khawatir dengan kondisi Seoyeon.

Na Baekjin, yang duduk di kursinya, dengan tatapan serius. "Rapat hari ini dibatalkan."

Setelah kepergian Geum Seongje dan Ji Hakho, suasana di ruang rapat kantor Yeouinaru masih terasa tegang. Na Baekjin, dengan wajah serius, menatap Jihoon.

"Jihoon," kata Baekjin, suaranya tegas. "Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kebangkitan Manwol bukan sesuatu yang bisa kita abaikan lagi."

"Aku tahu," jawab Jihoon, mengangguk. "Aku akan segera mengirim orang untuk menyelidiki."

"Cari tahu apa tujuan Jo Seungjin dan siapa yang mendukungnya. Pastikan kau mendapatkan informasi secepat mungkin. Jangan membiarkan mereka mengganggu stabilitas kita."

Jihoon mengangguk lagi, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim pesan kepada orang-orangnya. Ia merasa khawatir dengan situasi ini. Kebangkitan Manwol bisa memicu perang antar geng yang akan merugikan semua pihak.

"Kau, Sehan. Kau tetap fokus untuk menemukan dana baru yang uangnya dirampas darimu itu."

Sehan mengangguk. Pasrah.

Sementara itu, di rumah sakit, Geum Seongje dan Ji Hakho tiba dengan tergesa-gesa.

"Di mana adikku?" tanya Seongje, panik, kepada seorang perawat.

"Anda keluarga pasien Geum Seoyeon?" tanya perawat itu.

"Ya, aku kakaknya," jawab Seongje, tidak sabar.

"Saat ini, pasien sedang ditangani di ruang operasi," kata perawat itu.

Geum Seongje dan Ji Hakho tiba di ruang tunggu rumah sakit, napas mereka terengah-engah. Seongje menatap sekeliling dengan panik, mencari adiknya. Matanya tertuju pada seseorang yang duduk di sudut ruangan, tampak cemas. Orang itu adalah Humin.

Melihat Humin di sana, kemarahan Seongje memuncak. Ia ingat telah memberi peringatan padanya, dan sekarang, adiknya terluka.

"Kau!" bentak Seongje, melangkah maju. "Ngapain kau di sini?"

Humin terkejut melihat Seongje. Ia berdiri. "Aku... aku menemani Seoyeon," jawabnya, suaranya gentar.

"Menemaninya?" ulang Seongje, matanya menyipit. "Kau yang menyebabkan ini terjadi, bukan?"

Humin menggelengkan kepala. "Maaf, aku..." kata-katanya terputus.

"Cukup!" potong Seongje, suaranya menggelegar. "Aku nggak peduli dengan alasanmu. Yang aku tahu, adikku terluka, dan kau ada di sini."

Seongje melayangkan tinju ke arah Humin. Humin, yang tidak siap, terhuyung ke belakang. Hakho, yang berdiri di samping Seongje, menahan lengannya.

"Seongje, berhenti!" kata Hakho, suaranya tegas. "Ini bukan waktunya untuk berkelahi."

"Tapi dia..." Seongje menunjuk Humin dengan jari telunjuknya, kemarahan masih membara di matanya.

"Aku tahu kau marah," kata Hakho, menenangkan Seongje. "Tapi, berkelahi nggak akan menyelesaikan masalah. Kita harus fokus pada Seoyeon."

Seongje berdecak kesal, mundur selangkah. "Kalau terjadi sesuatu pada adikku, kau yang akan bertanggung jawab."

Humin mengangguk, masih terkejut dengan serangan Seongje. Ia merasa bersalah, dan pukulan Seongje dia menerimanya. Amarah kaka laki-laki Seoyeon.

"Aku mengerti," katanya, suaranya pelan.

Suasana di ruang tunggu menjadi tegang. Mereka semua menunggu dengan cemas, berharap Seoyeon baik-baik saja.

Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi.

"Keluarga pasien Geum Seoyeon?" tanya dokter itu.

Seongje segera menghampiri dokter. "Ya, saya kakaknya," katanya. "Bagaimana keadaan adik saya?"

"Operasinya berjalan lancar," kata dokter itu. "Pasien dalam kondisi stabil, tapi kami masih harus memantau keadaannya."

Seongje menghela napas lega. "Terima kasih, dokter," katanya.

"Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan," kata dokter itu. "Kalian bisa menemuinya setelah dia sadar."

Seongje mengangguk, merasa lega. Ia menatap Humin.

"Kau. Pergi dari sini sekarang," suaranya lebih tenang, tapis sarat akan kemarahan.

"Aku harus menemui Seoyeon," balas Humin. Dia tidak ingin pergi, sebelum melihat secara langsung, bahwa Seoyeon baik-baik saja.

Seongje menatapnya dengan tajam. Lantas menghampiri Humin dan langsung menarik kerah seragamnya. "Kau nggak ngerti bahasa korea? kubilang pergi, brengsek!"

Hakho buru-buru merelai dengan menarik Seongje dari Humin. Dia lantas menatap Humin. "Untuk saat ini, Park Humin. Pergilah," katanya, lebih tenang.

Tangan Humin terkepal kuat, menahan rasa geram. Dia tidak ingin pergi, dia ingin melihat Seoyeon. Sementara di sisi lain, dia marah, menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab bagaimana Seoyeon terluka.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang