⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Di tengah ketegangan dan persiapan yang terus berlanjut, Hakho mendapatkan kabar bahwa Seoyeon ingin bertemu dengannya.
Hakho setuju untuk bertemu di sebuah taman kota yang sepi, jauh dari keramaian sekolah dan potensi mata-mata dari kedua belah pihak. Ia merasa pertemuan ini penting, bukan hanya karena persahabatannya dengan Seoyeon, tapi juga karena dia butuh untuk menjadi rileks untuk sejenak.
Saat Seoyeon tiba, Hakho sudah menunggunya di bawah pohon rindang. Wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya, dan ada guratan kesedihan di matanya.
"Hakho," sapa Seoyeon pelan, menghampirinya.
"Seoyeon," balas Hakho dengan nada lesu.
"Terima kasih sudah mau bertemu." Kata Seoyeon. Hakho tersenyum dan mengangguk.
Keduanya terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk memulai percakapan yang canggung ini.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Seoyeon akhirnya, mencoba mencairkan suasana.
Hakho menghela napas. "Seperti yang kau lihat."
"Hakho, kenapa kau tidak pergi dari Aliansi?" tanya Seoyeon, tatapannya penuh harap. "Kau tidak harus melakukan ini, Hakho."
Hakho menundukkan kepalanya. "Aku tidak bisa, Seoyeon. Aku punya hutang budi pada Baekjin."
"Hutang budi?" Seoyeon mengerutkan kening.
Hakho mengangkat wajahnya, menatap Seoyeon dengan mata yang penuh kesedihan. "Kau ingat aku pernah mengatakannya padamu kan?"
Seoyeon mengangguk. "Ya, tapi kau tidak pernah memberitahuku intinya."
"Ini tentang kakakku."
Seoyeon terdiam, menunggu Hakho melanjutkan ceritanya. Ia tahu Hakho memiliki seorang kakak yang sangat ia sayangi.
Hakho bercerita tentang saudaranya. Tentang penaklukan Manwol yang awalnya dimulai karena amarah Hakho yang meledak karena kakanya dibuat lumpuh oleh pemimpin Manwol. Dan Baekjin menawarkan bantuan, mengumpulkan anggota Aliansi dan memberi jalan untuk Hakho membalaskan dendam kakanya. Dia bercerita sampai hampir tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Seoyeon terkejut mendengar pengakuan Hakho. Ia tidak pernah tahu tentang hal ini. Ini menjelaskan kesetiaan Hakho yang begitu kuat pada Na Baekjin.
"Kakakmu... bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Seoyeon dengan nada prihatin.
"Dia baik-baik saja sekarang. Dia sudah sembuh, meskipun tidak sepenuhnya. Insiden itu merengut mimpinya. Kau tahu? Dia ingin menjadi pemain sepak bola, tapi karena cedera kakinya, dia tidak bisa melakukannya lagi," jawab Hakho.
"Maaf, Seoyeon, Aku tidak bisa berpaling darinya setelah apa yang dia lakukan untuk keluargaku."
Seoyeon mengerti sekarang. Bagi Hakho, ini bukan hanya soal kekuasaan atau ideologi, tapi tentang rasa terima kasih dan loyalitas yang mendalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
FanfictionRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
