Rumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik.
Weak Hero Class | Fanfiction
Geum Seoyeon ft All Char WHC
Alternative
⚠️Warning⚠️ Kata-kata kasar dan tidak beradab bertebaran, dimohon untuk tidak meniru. Sekian-
000
Kabar tentang kekalahan Cheongang menyebar bagai api di padang ilalang di kalangan anak muda Yeongdeungpo. Kekalahan geng dewasa yang selama ini disegani oleh para berandalan remaja tentu saja menimbulkan kehebohan tersendiri. Tak lama berselang, desas-desus lain mulai berembus kencang: Aliansi kini mengincar Eunjang.
Mendengar rumor yang semakin meresahkannya, Seoyeon memutuskan untuk mencari tahu langsung dari sumbernya. Ia menghubungi Na Baekjin dan mengatur pertemuan di Yeoinaru, tepi Sungai Han yang menjadi saksi bisu banyak pertemuan penting di antara para penguasa jalanan.
Angin sore yang lembut membelai permukaan sungai yang tenang saat Seoyeon tiba. Tak lama kemudian, sosok tinggi Baekjin muncul, berdiri dengan kedua tangan di saku celananya, menatap lurus ke arah sungai.
"Baekjin," sapa Seoyeon, langkahnya mendekat.
Baekjin menoleh, tatapannya datar namun tidak sedingin biasanya saat berhadapan dengan Seoyeon. "Kau datang," katanya singkat.
"Rumor tentang Cheongang..." Seoyeon memulai, namun Baekjin memotongnya.
"Sudah selesai," katanya. "Mereka nggak akan mengusik Yeongdeungpo lagi."
Seoyeon menghela napas lega, namun kekhawatirannya belum sepenuhnya hilang. "Lalu... rumor tentang Eunjang?" tanyanya hati-hati.
Baekjin mengalihkan pandangannya kembali ke sungai. "Aliansi sedang bergerak," jawabnya tanpa menatap Seoyeon. "Ada beberapa hal yang perlu diluruskan."
Seoyeon mengerutkan kening. "Apakah harus dengan cara berkelahi?" tanyanya, nada suaranya mengandung harapan agar ada cara lain. "Apa nggak bisa masalah diselesaikan dengan cara lain?"
Baekjin akhirnya menoleh, menatap Seoyeon dengan tatapan yang sulit dibaca. "Ini dunia kami, Seoyeon. Bagi berandalan, berkelahi seringkali menjadi satu-satunya bahasa yang dimengerti. Kata-kata bisa diputarbalikkan, janji bisa diingkari, tapi pukulan... pukulan akan meninggalkan bekas yang nyata."
Seoyeon terdiam, mencoba memahami logika kejam di balik kata-kata Baekjin. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mengubah cara pandang dunia yang telah Baekjin geluti sejak lama.
"Tapi pasti ada cara lain," kata Seoyeon, meskipun nadanya terdengar lebih seperti pertanyaan retoris. "Apa nggak bisa kalian cari jalan tengah?"
Baekjin menoleh, menatap Seoyeon dengan tatapan serius. "Kadang-kadang, Seoyeon, yang namanya jalan tengah itu nggak ada. Ada pihak yang ingin mengambil segalanya, dan satu-satunya cara untuk mempertahankan diri adalah dengan melawan." Ia kembali menatap sungai, sorot matanya tampak jauh.
Baekjin kembali menatap sungai, seolah melihat masa depan yang penuh dengan pertikaian. "Kau harus memperingatkan mereka, Geum Seoyeon," katanya setelah beberapa saat. "Peringatkan Eunjang untuk bersiap-siap. Pertarungan akan datang."
Seoyeon menelan ludah, merasakan firasat buruk. Ia tahu bahwa pertempuran antara Aliansi dan Eunjang tidak akan terhindarkan. Dan ia khawatir, bukan hanya untuk teman-temannya di Eunjang, tapi juga untuk Seongje yang kini berada di pihak Aliansi.
Baekjin bangkit berdiri. "Kau bilang, kau akan melawanku..." kata Baekjin, mengambil kembali perhatian Seoyeon. "Bukannya ini saat yang tepat?"
Ekspresi Seoyeon langsung berubah datar. "Apa kau pikir, aku bermaksud melawanmu dengan tinju atau berkelahi secara langsung?" Seoyeon memutar bola mata. "Mana bisa aku menang kalau begitu?"
Baekjin terkekeh. "Yah, aku hanya menerka." Ia kembali menatap sungai, sorot matanya tampak jauh.
"Lalu, apa yang akan terjadi?" tanya Seoyeon, suaranya cemas, merasakan kekhawatiran yang tersirat dalam nada suara Baekjin. Meskipun ia seringkali berselisih dengannya, ia bisa merasakan beratnya situasi.
Baekjin mengalihkan pandangannya kembali pada Seoyeon. "Perang," jawabnya singkat, namun kata itu terasa berat menggantung di udara.
"Kau harus menjauh dari ini, Seoyeon," kata Baekjin tiba-tiba, nadanya lebih tegas dari sebelumnya. "Jangan ikut campur. Ini bukan urusanmu."
Seoyeon mengerutkan kening, tidak mengerti perubahan sikap Baekjin. "Well, apa perdulimu?"
Baekjin terdiam sejenak, menatap Seoyeon dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang berkecamuk di dalam dirinya, sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
"Ini berbahaya," kata Baekjin akhirnya, mengalihkan pandangannya kembali ke sungai.
"Siapa pu tahu itu. Tapi apa peedulimu kalau aku ikut terlibat?"
Baekjin menghela napas berat. Ia tahu bahwa Seoyeon benar. Ia tidak pernah menunjukkan kepedulian padanya secara langsung. Namun, entah sejak kapan, ada perasaan tanggung jawab yang tumbuh dalam dirinya setiap kali melihat gadis itu dalam bahaya. Mungkin karena keberaniannya, mungkin karena tatapan matanya yang tidak pernah menyerah, atau mungkin karena hal lain yang tidak bisa ia definisikan.
"Sudahlah," kata Baekjin, suaranya lelah. "Dengarkan saja aku kali ini. Jauhi Eunjang untuk sementara waktu. Biarkan Aliansi menyelesaikan masalah ini."
"Tidak!" bantah Seoyeon dengan tegas. "Itu adalah wilayahku. Teman-temanku ada di sana. Aku nggak akan meninggalkan mereka. Memang siapa kau, memerintahku?"
Baekjin menatap Seoyeon dengan tatapan frustrasi. Ia tahu bahwa ia tidak bisa memaksa gadis itu. Dia keras kepala.
"Kalau begitu, berhati-hatilah," kata Baekjin akhirnya, suaranya lebih lembut. "Dan ingat apa yang kukatakan. Perang akan datang."
Seoyeon menatap Baekjin dengan tatapan penuh pertanyaan, namun ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban yang lebih jelas. Ia mengangguk pelan. "Aku mengerti," katanya, meskipun hatinya dipenuhi dengan keraguan dan kekhawatiran.
Setelah percakapannya yang tegang dengan Baekjin di tepi Sungai Han, Seoyeon merasa semakin gelisah. Perang antara Aliansi dan Eunjang terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
•••
Murid pindahan baru. Rumor yang bagai riak kecil yang lama kelamaan membesar, mengguncang ketenangan SMA Eunjang. Bisik-bisik penasaran menyebar dari satu kelas ke kelas lain, memenuhi koridor dengan gumaman spekulasi. Siapa dia? Dari mana asalnya? Kenapa tiba-tiba pindah di tengah semester seperti ini?
Siuen, yang biasanya tenggelam dalam dunianya sendiri di sudut kelas, terusik oleh keramaian yang tak biasa ini. Ia mencoba mengabaikannya, fokus pada coretan-coretan di bukunya. Namun, namanya terucap, lirih namun cukup jelas untuk menusuk perhatiannya.
"...katanya namanya Ahn Suho."
To Be Continued
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.