88. Crazy?

1.3K 199 11
                                        

GOLLLL!!!

Manik ruby yang suram itu memantulkan cahaya dari siaran monitor yang diputar seharian di hadapannya selagi ia hanya bisa berbaring di kasur. Haruhi menonton ulang pertandingan Bastard Munchen vs Ubers berulangkali, selama 8 jam dari Barou pergi sampai sekarang.

Haruhi tidak balik ke kamar, ia dirawat di ruangan medis khusus yang ditangani Anri sendiri. Disana ia hanya bungkam, tak mengucapkan sepatah kata dengan mata yang tertuju pada sosok menyedihkannya yang muncul di monitor. Sungguh pertandingan yang memalukan.

Zzztttt

Pintu ruangan medis terbuka namun kepala Haruhi hanya bergeming, tak menengok sedikitpun, seolah tak merasakan kehadiran siapapun. Hampa.

"Keadaan?"

Suara datar nan dingin itu menelusuri indra pendengaran Haruhi. Ia mengetahui siapa yang datang, tapi ia tidak ingin menatap orang itu. Matanya hanya menatap lurus monitor di hadapannya.

"Mau ngerasain?" balas Haruhi cuek. Ah, sudah pasti gadis itu masih kesakitan.

Ego akan menganggap ia tidak pernah mendengar pertanyaan itu karena ia pernah melihat seorang lelaki yang menggunakan alat demonstrasi nyeri datang bulan. Kodratnya memang daya tahan wanita lebih kuat daripada laki-laki. Tapi kalau urusan fisik tentunya laki-laki lebih unggul. Makanya pekerjaan yang berat biasanya dibebankan kepada laki-laki.

"Menurutmu, bagaimana pertandingan hari ini?" tanya Ego.

"... Menyedihkan. Memalukan. Mengecewakan..." jawab Haruhi dengan sepersen jiwanya.

"Benar, biarpun kau punya stamina dan teknik yang bagus, ketika nyeri itu datang padamu, semuanya akan hancur. Itulah batasanmu sebagai wanita."

Alis Haruhi berkedut kala mendengar itu. Ia melirik tajam pada Ego. Apalagi lelaki itu menyinggung masalah gender disini. Tapi menyebalkannya ia tidak bisa memberikan bantahan apapun.

"Ini bukan tempat untuk orang-orang yang tenggelam dalam fantasi yang mustahil seperti orang bodoh.  Buka matamu" ujar Ego lalu melenggang pergi.

Biarpun perkataan Ego seperti itu, anehnya Haruhi dapat mengerti apa maksud dari ucapan lelaki itu. Keadaan dimana Haruhi yakin bisa bermain dengan baik dalam keadaan kram perut yang luar biasa, itu hanyalah sebuah fantasi untuk melewati rintangan yang mustahil. Tidak mungkin Haruhi bisa bermain dengan baik seperti biasanya dalam keadaan seperti itu. Harusnya Haruhi pergi menemui Anri untuk meminta obat pereda nyeri, atau kalau tidak sempat, dia bisa mengatakan sesuatu pada Noah.

Haruhi akui, ia terlalu sombong untuk ini. Seharusnya ia lebih sadar diri. Pantas saja Noah menginjak-injak harga dirinya. Yah, tentunya itu bukan hal yang pantas dilakukan di depan seluruh dunia. Tapi impact-nya benar-benar luar biasa. Pasalnya, jika Haruhi melapor pada Noah kalau ia merasakan kram perut, hal itu malah akan menurunkan eksistensinya sebagai striker dan membuat orang-orang menganggap itu karena dia seorang perempuan. Lagi-lagi masalah gender.

Haruhi menghela nafas panjang setelah Ego pergi. Kena roasting Ego bikin pikirannya berkecamuk. Haruhi pun bangkit dari pergi untuk membersihkan diri. Ia sampai tidak sadar kalau waktu sudah berlalu dengan begitu cepat.

Baru saja Haruhi ingin melangkahkan kaki untuk pergi, telinga tajamnya mendengar sesuatu dari ruangan tepat di sebelah ruangannya saat ini. Ya, ruangan Ego.

"Sebenarnya aku merasa sudah punya jawabannya, namun aku ingin tau secara langsung. Kenapa? Alih-alih menjadikannya kiper, bukankah lebih masuk akal jika kau menaruhnya di bangku cadangan? Dimana kerasionalitasan yang selalu kau banggakan?" tanya Ego pada master Bastard Munchen yang membuat gebrakan baru hari ini.

[Thief] Blue Lock x Female Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang