BRAKK!!!
Suara dentuman keras membuat seluruh penghuni rumah keluar dari kamar mereka dan mendatangi sumber suara.
Terkejutlah Haruhi dan Shiho kala melihat meja makan yang terbelah dua di hadapan kakak sulung mereka. Terlihat Barou yang sedang naik pitam dengan urat yang berada di pelipis dan lehernya.
"Aniki! Apa yang kau lakukan?! Kalau marah jangan melampiaskannya ke barang!!" hardik Haruhi yang tidak habis pikir dengan sikap kakaknya yang tidak seperti biasa.
Shiho hanya bisa diam melihat kedua kakaknya yang marah. Ia dapat melihat tangan kakak sulungnya yang mengepal erat dan handphone lelaki itu yang terdampar sembarangan di lantai.
"Dasar, apa yang kau pikirkan sampai merusak meja?" Haruhi ngedumel sambil membereskan meja yang sudah terbagi menjadi dua bagian itu. Meja kayu itu memang sudah rapuh karena sudah bertahun-tahun dipakai. Mungkin itu alasan Barou untuk memilih meja itu sebagai pelampiasan amarahnya.
"Ah, Shiho. Kau jangan mencoba mengangkatnya. Kalau tidak hati-hati kayunya bisa masuk ke dalam tanganmu" ujar Haruhi mencegah adik bungsunya untuk membantunya.
Menerima nasihat dari kakaknya, Shiho mengambil sapu untuk membersihkan serpihan kayu dari lantai.
"Hari ini, kalian berdua tidak boleh pergi kemana-mana" ujar Barou dengan penuh penekanan.
Ucapan tidak masuk akal itu menghentikan pergerakan Haruhi maupun Shiho. "Huh?"
"Kalian tidak boleh keluar dari rumah ini. Mungkin sampai beberapa hari kedepan" ujar Barou.
"Tapi sekolahku-"
"Aku akan membuat surat izin" potong Barou terhadap ucapan adik bungsunya.
"Tunggu." Haruhi menghentikan langkah Barou yang sedang menuju pintu rumah. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tajam dan heran.
"Apa yang terjadi?" tanya Haruhi yang merasa ada sesuatu yang janggal.
"Kau tidak perlu tau. Dengar, jangan pernah kalian membuka TV, paket data, dan medsos hari ini sampai beberapa hari kedepan. Jangan keluar rumah. Jika membutuhkan sesuatu aku yang akan keluar. Jika kalian melanggar,..."
Barou menatap tajam kedua adiknya secara bergantian dengan penuh ancaman. "Aku akan mematahkan tangan kalian."
Ancaman itu membuat Haruhi maupun Shiho terkejut. Seumur hidup mereka tidak pernah mendengar ucapan Barou yang seperti itu diutarakan kepada mereka, bahkan untuk bercanda sekalipun. Pasti ada sesuatu yang besar sampai lelaki itu berani mengancam mereka dengan begitu kejam.
Barou mengambil handphonenya yang tergeletak di lantai. Ia masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian lalu keluar dengan masker dan kacamata hitam di wajahnya. Orang lain mungkin akan mengiranya sebagai pedofil. Kemudian lelaki itu pergi ke semua ruangan yang ada di rumahnya, lalu keluar rumah dan mengunci pintunya.
"Nee Onee-chan, ada apa dengan Nii-chan?" tanya Shiho yang sangat kebingungan.
"Tidak tau. Aku akan membuka handphoneku dan mencari tau" ujar Haruhi mengabaikan ancaman Barou.
"Eh?! Tapi nanti Nii-chan-"
"Tak apa. Aku takkan membiarkannya menanggung beban sendirian. Pasti ada sesuatu" ujar Haruhi sambil pergi ke kamarnya untuk mengambil handphonenya.
Haruhi tidak menemukan benda kotak itu di atas mejanya. Ia mengobrak-abrik kasurnya dan mejanya untuk mencari keberadaan handphonenya.
"Kusso!" umpatnya keras yang bisa didengar oleh adiknya. Sepertinya Barou mengambil handphone mereka. Lelaki itu tau pasti kalau sangat mungkin bagi Haruhi untuk mengabaikan ancamannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Thief] Blue Lock x Female
FanfictionHaruhi, perempuan yang mulai menyukai sepak bola karena kagum dengan permainan seseorang. Namun ia tidak diperbolehkan ikut bertanding di klub sekolah hanya karena dia seorang perempuan. Haruhi juga sangat menyukai karuta. Telinganya sangat tajam da...
![[Thief] Blue Lock x Female](https://img.wattpad.com/cover/329789978-64-k875870.jpg)