109. Tournament

579 83 9
                                        

Angin malam yang dingin nan kencang tak menghambat dua lelaki yang nongkrong di teras villa dengan kopi di tangan mereka.

"Sob, tadi adek lu curhat ama gue" celetuk Aiku tiba-tiba cosplay orang Jakarta.

Barou mencerna ucapan Aiku lamat-lamat. Haruhi? Curhat? Gadis itu hanya curhat kalau ada sesuatu yang benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Kira-kira apa yang mereka bahas?

"Habistu?" tanya Barou singkat.

Aiku menceritakan setiap detail pembahasan mereka sebelumnya, disertai dengan komentar dari sudut pandangnya.

"Teiuka, kenapa kau daritadi kelihatan kayak orang overthinking? Perasaan Haruhi-chan baik-baik saja. Dokter juga bilang tidak ada masalah" ujar Aiku.

Barou menghela nafas sejenak. "... Belum 24 jam. Selain itu, bukankah orang yang akan menemui ajalnya biasanya nafsu makan bertambah, lalu bertindak yang tak seperti biasanya? Setelah dari rumah sakit, dia memanggilku dengan sebutan Onii-chan, bukan Aniki. Dia menggunakan sebutan itu setiap kali merasa terpuruk atau emosional atau sesuatu yang aneh pokoknya. Tindak tanduknya juga mencurigakan..."

Buagh!!

Aiku reflek nampol kepala hitam Barou karena gemas. "Ya itu yang kujelaskan tadi! Bukankah dia sangat terbebani karena kau? Dia merasa bersalah karena kau tidak bisa bermain dengan bebas. Menurutku itu yang menjadi alasan dia sentimental. Kau terlalu overthinking."

Barou terdiam cukup lama mendengar itu. Bahkan ia tidak mood untuk membalas tampolan Aiku. Ia seperti merasa ada yang kurang.

"Oke, kembali ke topik pertama. Agar kau tidak terlalu khawatir, apa yang harus dia lakukan? Apa yang kau ingin ada dalam diri adikmu agar kau merasa cukup tenang?" tanya Aiku. Meluruskan hubungan rumit kakak beradik ini mumet sekaligus menyenangkan karena ia bisa melihat sisi lain dari dua orang tsundere ini. Apalagi modelan kayak Barou.

Barou memikirkannya begitu keras sampai uratnya tercetak di pelipisnya.

"Hmm... Kalau kewarasannya nambah sampai 10 sendok makan kayaknya cukup" ujar Barou memperkirakan dengan perandaian yang aneh.

Sejak kapan kewarasan diukur dengan massa? Aiku pun cuman bisa sweatdrop mendengar itu. Tapi anehnya ia paham maksud Barou. Kurang lebih sama kayak sarannya kepada Haruhi.

Menurut Barou, Haruhi benar-benar jiplakan ibu mereka. Bahkan Haruhi merupakan versi yang lebih parah untuk kecerobohan ibunya. Ibunya punya ayah mereka yang protektif dan selalu mengingatkan untuk tidak ceroboh saat berinteraksi dengan laki-laki. Pasalnya Ayah mereka berlabel kekasih sehidup semati yang super bucin sama istri. Bahkan Barou masih ingat kelakuan ayahnya yang bikin malu-maluin. Yah, tapi Ayah mereka sangat keren ketika bertugas di lapangan. Barou pun bangga. Ketika bertemu dengan ibu mereka barulah otak ayahnya jadi konslet.

Untuk bagian suka bikin orang malu itu, sepertinya diturunkan juga kepada Haruhi. Bahkan ketika mode lapangan, Haruhi juga sekeren ayahnya. Tapi, kenapa Haruhi banyak mewarisi sisi memalukan orang tua mereka? Setelah dipikir-pikir, Haruhi merupakan kolaborasi sempurna antara ibu dan ayahnya. Baik buruknya diambil semua.

Barou bingung banget harus ngapain.

"Jika dia punya kekasih, kira-kira akan menambah atau mengurangi beban pikiranmu?" tanya Aiku.

Barou malas banget kalau harus berurusan dengan topik kekasih Haruhi. Sepertinya di bagian ini ia benar-benar mirip bapaknya.

Tunggu... Kekasih?

Kecerobohan ibu mereka bisa berkurang sedikit demi sedikit karena ada ayah mereka yang berlabel kekasih. Yah, jika Haruhi menikah sepertinya Barou agak sedikit banyak gak rela atau khawatir, tapi karena ada sumpah pernikahan yang sah, ia bisa tenang. Tergantung pasangannya juga siapa. Tapi kalau sekedar kekasih saja, seperti pacaran, Barou benar-benar dilema. Ia tidak ingin menghadapi kemungkinan adiknya akan dipermainkan oleh seseorang. Mungkin ia bisa menghajarnya, tapi bagaimana dengan perasaan Haruhi.

[Thief] Blue Lock x Female Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang