Ruang Medis
Rin membawa Haruhi pergi ke ruang medis usai menghindar dari Shidou dan Charles. Ia menuntun gadis itu untuk duduk di atas kasur yang disediakan.
"Kenapa ke ruang medis?" tanya Haruhi.
Rin membuka lemari obat seolah mencari sesuatu. "Nyari obat rabies."
"Aku gak habis kena gigit anjing gila kok..." ujar Haruhi sweatdrop.
Rin menoleh dan menghela nafas. Ia mengambil tisu basah dan duduk di samping Haruhi. Ia mengambil selembar tisu dan menyeka bekas genggaman Charles di pergelangan tangan gadis itu.
"Kenapa kau tidak mengabariku dulu kalau ingin kesini? Dengan begitu kau tidak perlu berurusan dengan mereka" ujar Rin dengan alis yang sedikit tertekuk. Tangannya memegang tangan Haruhi dan menyekanya dengan sentuhan lembut.
"Aku... hanya kepikiran untuk segera bertemu denganmu" ujar Haruhi. Ia tidak bisa bilang kalau ia habis berteleponan dengan Sae tadi.
"Memangnya ada perlu apa denganku?" tanya Rin yang sekuat tenaga menahan senyumnya.
"Aku habis teleponan sama Mamamu. Beliau khawatir karena kau belum menelponnya dan memberinya kabar. Habistu aku bilang kalau aku bakal menjengukmu dan mengabari beliau. Aku sudah mengatakan itu, artinya aku berjanji" ujar Haruhi.
Rin menghela nafas mendengar itu. Memangnya dia anak kecil yang harus diawasin? Justru Haruhi lah yang harus dijagain.
"Kalau begitu, aku akan—" Rin menghentikan ucapannya kala sesuatu terlintas di pikirannya.
Tunggu, kalau ia membiarkan Haruhi menepati janji itu, bukankah ia bisa bertemu dengannya secara berkala? Tapi bahaya juga membiarkan Haruhi datang ke stratum ini. Apalagi sekarang ada Charles yang lumayan merepotkan.
"Terserah kau ingin melakukannya atau tidak. Tapi, tiap kau ingin kemari, kau harus mengabariku terlebih dahulu. Repot juga kalau sampai ada pertumpahan darah. Padahal kalau tadi kau tidak memberiku isyarat, aku berniat mematahkan tangan mereka" ujar Rin dengan aura mencekam yang menguar dari dirinya.
"Kau sendiri juga kabari orang tuamu di rumah. Kasihan Mama khawatir. Kita cuman bisa ngabarin keluarga habis pertandingan kan?" ujar Haruhi.
Rin terdiam sejenak. "Aku sudah menelpon ibuku. Lebih tepatnya, ibuku yang menelponku duluan."
"Souka~ itu hal yang melegakan—"
"Karena Nii-san ingin memberikan nomor teleponnya padaku" tambah Rin.
Seketika aura Rin terasa makin mencekam. Haruhi meneguk ludahnya gugup.
"Setelah sekian lama, baru sekarang dia memberikan nomor telepon pribadinya?"
Rin terlihat sangat geram. Tatapan lelaki itu terlihat seperti ingin membunuh seseorang. Bahkan genggaman lembutnya pada tangan Haruhi kini mengerat.
Seketika perasaan bersalah menyelimuti Haruhi. Seandainya Sae melakukan itu karena perkataan Haruhi padanya, itu membuatnya makin makin merasa bersalah. Karena tindakan Sae seolah berlandaskan pada keinginan Haruhi, yang notabene bukan siapa-siapa dibandingkan Rin yang adik kandungnya.
Lihatlah seberapa marahnya Rin karena Sae baru mengirim nomor pribadinya. Jika Rin tau kalau Sae melakukan itu karena perkataannya, pasti Rin akan makin kecewa.
Mata Rin tanpa sengaja melihat mimik wajah Haruhi yang janggal. Aura mencekam dari dirinya berhenti menguar. Ia menatap bingung pada gadis yang memasang ekspresi kekalutan itu.
"Apa yang kau pikirkan, Haru?" tanya Rin padanya. Genggamannya juga makin melembut karena melihat wajah gadis itu.
Haruhi bingung mau menjawab apa. Ia ingin bilang kalau Sae sudah berubah dan menyebalkan karena menempatkan dirinya dalam posisi yang tidak jelas, namun ia tidak bisa mengatakan itu. Seolah itu juga mengatakan sesuatu yang lain, yaitu Sae lebih sering berhubungan dengannya dibandingkan dengan Rin.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Thief] Blue Lock x Female
FanfictionHaruhi, perempuan yang mulai menyukai sepak bola karena kagum dengan permainan seseorang. Namun ia tidak diperbolehkan ikut bertanding di klub sekolah hanya karena dia seorang perempuan. Haruhi juga sangat menyukai karuta. Telinganya sangat tajam da...
![[Thief] Blue Lock x Female](https://img.wattpad.com/cover/329789978-64-k875870.jpg)