107. Birthday

732 83 4
                                        

"Bagaimana cara agar Aniki tidak mengkhawatirkanku?"

Tatapan Haruhi menerawang lurus ke depan dengan kesedihan yang tersirat. Senyum cerianya luntur dari paras rupawan itu. Aiku pun sadar kalau Haruhi sudah memikirkannya cukup lama sebelum gadis itu membuka suara kepadanya.

"Aku paham dia khawatir karena aku adiknya. Orang tua kami juga sudah lama meninggal. Pasti pundaknya berat dengan tanggung jawab sebagai anak sulung. Tapi, aku kan sudah besar..." Haruhi berhenti sebentar untuk menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian gadis itu berkata dengan suara lirihnya. "... Kuharap dia bisa menghabiskan waktu untuk dirinya bersenang-senang."

Aiku menghela nafas pelan dan berpikir keras. Tentu ia cukup paham garis besar dari sudut pandang Barou. Tapi, melihat Haruhi yang tidak ingin menjadi beban untuk kakaknya itu membuat dirinya harus memutar otak mencari kalimat yang bagus.

"Menurutku, cara agar dia tidak khawatir lagi, tidak ada."

Haruhi refleks menoleh kala mendengar ucapan itu. Kenapa Aiku berpikir seperti itu?

"Soalnya, seperti yang kau bilang, dia anak sulung dan orang tua kalian sudah meninggal. Kalian hanya punya satu sama lain. Bagaimana bisa dia tidak selalu memikirkanmu?

Bayangkan jika posisi kalian tertukar, bukankah Haruhi-chan juga akan seperti itu? Yah, aku akui Barou memang agak berlebihan. Tapi, itu menunjukkan betapa berharganya Haruhi-chan bagi dirinya. Jika aku punya adik seperti Haruhi-chan, tentu akan kusayang sepenuh hati. Tapi karena abangmu itu tsundere, dia juga kesusahan menyampaikan seberapa sayangnya dia padamu.

Cara agar dia tidak khawatir, tentu tidak ada. Tapi, cara untuk mengurangi kekhawatirannya pasti ada. Kalau untuk itu, bagaimana jika kau tanyakan sendiri pada abangmu? Kira-kira apa yang harus kau lakukan agar dia tetap tenang?"

Haruhi terlihat sedikit enggan kala mendengar dua kalimat terakhir Aiku. Gadis itu sedikit memalingkan wajahnya. "... Memangnya karena apa lagi aku mengajak Aiku berbicara?..."

Gumaman itu terdengar jelas di telinga Aiku. Lelaki itu hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan dua bersaudara ini.

'Sama-sama tsundere ternyata' batin Aiku. Meskipun tidak sekental tsundere-nya Barou, Haruhi yang ceria dan perhatian itu ternyata punya sisi tsundere juga. Aiku jadi penasaran sifat ini nurun dari bapak atau mamak mereka. Yah, tapi kebanyakan orang juga tsundere sama keluarga sendiri.

"Tapi jujur saja, Haruhi-chan itu terlalu lengah. Apalagi sama orang yang dikenal" ujar Aiku.

Maap ya mas, sudah banyak yang jadi korban ketololan dia.

Rin: penat gue penat

"Lengah? Kenapa aku harus sewaspada itu sama orang yang kukenal?" tanya Haruhi.

Aiku menghela nafas. Apakah dia jadi korban selanjutnya?

"Ambilnya dari sudut pandang seorang perempuan. Sebagai perempuan, kau ada banyak poin-poin yang membuatmu harus tetap waspada, bahkan kepada orang yang kau kenal" ujar Aiku.

Haruhi mengusap tengkuknya, memikirkan lamat-lamat perkataan Aiku yang mengundang banyak pertanyaan.

Rin: lu remed

Aiku memperhatikan gadis rupawan itu dari samping. Wajah Haruhi benar-benar seperti pahatan yang sempurna. Jika disebutkan detailnya rasanya masih akan kurang untuk menjelaskan kecantikannya. Pantas saja Barou sangat was-was melihat anak ini tumbuh dewasa.

Gadis ini terlihat sangat cantik ketika bersenang-senang. Manik ruby-nya yang bersinar-sinar serta senyum manisnya yang merekah indah benar-benar sangatlah mempesona dan menyegarkan. Ia merasa Haruhi kurang memiliki momen bersenang-senang seperti ini dalam hidupnya. Atau sudah lama semenjak terakhir kalinya.

[Thief] Blue Lock x Female Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang