"Iya, aku lapar."
Rin menatap gadis mungil dalam dekapannya dengan suara yang seperti benang kusut di kepalanya. Jujur saja, ia merasa kalut kala peringkat Haruhi menyalip dirinya. Apalagi Isagi berada di peringkat yang sama dengannya. Dua hal itu benar-benar membuatnya panas.
Akan tetapi, Haruhi yang datang kepadanya dengan sosok kucing terlantar ini membuat Rin luluh begitu saja. Ingin sekali rasanya Rin dihajar oleh seseorang agar pikirannya benar-benar jernih, tidak memusingkan berbagai kekalutannya.
Ah, sebenarnya Rin tau cara dihajar yang menguntungkan baginya. Yaitu dihajar oleh Barou setelah mencium Haruhi. Dipikir-pikir, hal itu tidak merugikan dirinya.
Tapi ... Bagaimana dengan Haruhi?
Tangan Rin terangkat dan menangkup wajah rupawan sang gadis. Ibu jarinya secara alami mengelus pipi gadis itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Lelaki itu menatapnya dengan lekat. Jika Haruhi punya pengelihatan super seperti X-Ray, mungkin ia bisa melihat lambang hati di tatapan Rin kepadanya. "Haru..."
Haruhi bergumam pelan merespon panggilan itu. Tatapan polosnya menatap lurus pada teman masa kecilnya yang sudah lebih besar darinya.
"Apa keinginanmu untuk menikah dengan Sae ... masih ada?" tanya Rin dengan sedikit jeda antar kalimatnya.
Haruhi memiringkan kepalanya bingung. Sebelumnya Sae juga mengungkit masalah pernikahan dengannya. "Kenapa dengan itu?"
"Jawab saja. Masih, atau tidak?" tanya Rin tegas. Tak menginginkan jawaban selain Ya atau Tidak.
Haruhi berpikir lamat-lamat mengenai pertanyaan itu. "Dulu aku memang berkata seperti itu. Itu karena Sae-nii terlihat sangat keren saat bermain bola dan aku ingin selalu bermain bola dengannya. Tapi, sepertinya aku tak perlu menikah hanya untuk selalu bermain bola."
Rin masih kurang puas dengan jawaban itu.
"Oke, lupakan soal itu. Pertanyaan lain, jika kau memiliki seorang anak, siapa yang kau inginkan untuk menjadi ayah dari anak itu?" tanya Rin serius.
"Kenapa pertanyaanmu berputar-putar? Bukankah kau bisa menanyakan aku ingin menikah dengan siapa nantinya?" tanya Haruhi sambil mengangkat sebelah alisnya. Bingung kenapa Rin tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang menurutnya dalam dan rumit.
Sebenarnya memang seperti itu intinya. Tapi Rin ingin menstimulan kondisi nyata di masa depan. Karena, setelah dipikir-pikir, rasanya seorang ibu lebih sayang kepada anaknya daripada suaminya. Ini cukup pro kontra, tapi setidaknya menurut Rin seperti itu.
"Anggap saja aku menanyakan itu" sahut Rin.
Haruhi bergumam pelan sambil memegang dagunya, memikirkan pertanyaan Rin.
"Bukankah itu urusan kedepannya? Aku masih 16 tahun, jadi menurutku masih terlalu cepat memikirkan hal itu" jawab Haruhi yang tentu saja Rin sudah menduga jawaban itu. Meskipun begitu, ia sedikit kecewa.
"Kalau Rin? Siapa yang kau inginkan?" tanya Haruhi penasaran.
Bodoh.
Rin mengikis jarak di antara mereka secara perlahan. Ia menempelkan kening mereka hingga ujung hidung mereka ikut bersentuhan. Tatapannya tak lepas sedikitpun dari manik ruby sang gadis. Jemarinya mengelus lembut pipi menggemaskan itu.
"Kau."
Satu kata yang diucapkan dengan suara baritone itu berhasil membuat tubuh Haruhi berjengkit. Ia seolah merasakan aliran listrik di tubuhnya kala suara itu masuk ke indra pendengarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Thief] Blue Lock x Female
FanfictionHaruhi, perempuan yang mulai menyukai sepak bola karena kagum dengan permainan seseorang. Namun ia tidak diperbolehkan ikut bertanding di klub sekolah hanya karena dia seorang perempuan. Haruhi juga sangat menyukai karuta. Telinganya sangat tajam da...
![[Thief] Blue Lock x Female](https://img.wattpad.com/cover/329789978-64-k875870.jpg)