85. Strange Feeling

1.4K 203 17
                                        

PRANGG!! BRAKK!! DUAGH!!!

"DASAR TIDAK BERGUNA!!"

Terdengar suara botol miras yang pecah akibat diayunkan sekuat tenaga pada anak kecil berambut blonde. Berbagai umpatan, bahkan sampai pukulan dan tendangan juga dilemparkan pada anak kecil itu tanpa merasa berdosa. Darah merah mengucur dari pelipis sang anak, tak luput juga memar yang memenuhi tubuh kecil itu. Sungguh ayah yang keji.

Sang anak pun berpikir, kenapa ia tidak bisa mendapatkan cinta orang tuanya? Kenapa ia harus menerima perlakuan seperti ini?  Padahal, dia hanya seorang anak yang ingin dicintai.

"Apa kau terluka?"

Suara lembut nan hangat yang penuh dengan afeksi itu masuk ke dalam relung mimpinya. Memberikan secercah cahaya dan sebuah harapan yang membuatnya buta dari masa lalunya yang kelam.

"Haah... Mimpi itu lagi..." Kaiser menghela nafas begitu terbangun dari tidurnya. Beberapa saat kemudian, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk kurva kecil. "Tapi, kali ini rasanya lebih ringan..."

༶•┈┈⛧┈♛♛┈⛧┈┈•༶

Seperti biasa, sehari setelah pertandingan Haruhi akan pergi ke tempat Barou untuk menelpon Shiho bersama-sama.

"A-NI-KI!!!" seru Haruhi begitu mendobrak ruang yoga dan mengganggu ketenangan Barou. Kali ini dia bertemu Niko di jalan yang menemaninya kesini.

"Woah~ kau punya nyali juga datang kesini, wahai lawan kami selanjutnya~" ujar Aiku kala melihat kedatangan Haruhi di stratum Ubers.

"Aku menantikan pertandingan kita part 2, tapi aku tidak ingin jadi bek" ujar Haruhi pada Aiku sambil mengungkit pertandingan mereka saat pertandingan exhibition.

"Haha, kalau begitu kau akan menjadi lawan abangmu. Barou, jangan lengah meskipun dia adikmu" ujar Aiku sambil merangkul Barou yang memasang wajah merengut kayak cewek PMS.

Barou menepis tangan Aiku dengan kasar. "Huh, di lapangan dia bukan adikku."

"Apa? Kau ini tega sekali. Haruhi-chan, mending kau jadi adikku saja" ujar Aiku.

Tapi, Aiku salah.

Itu adalah pujian. Haruhi tau itu. Barou mendukungnya dan menghadapinya sebagai sesama striker. Hal itu membuat Haruhi senang karena kakaknya itu menaruh perhatian pada keinginannya. Berbeda dengan orang lain yang menyuruhnya untuk undur diri dan membusuk di dalam rumah.

Haruhi melompat-lompat kecil mendatangi Barou karena senang. "Onii-chan, ayo kita telpon Shiho~"

"Hm." Barou hanya berdehem pelan mengiyakan. Haruhi memang selalu memanggilnya Aniki kecuali di beberapa situasi. Yaitu, saat Haruhi terlampau bahagia, dan saat Haruhi sangat terpuruk, seperti di rumah sakit saat itu. Barou senang karena alasan kali ini adalah karena adik kecilnya itu merasa bahagia.

Barou berjalan keluar ruang yoga dengan Haruhi yang berjalan sambil melompat-lompat kecil di sampingnya. Aiku dan yang lain terheran-heran melihat itu.

Haruhi dan Barou bertukar kabar dengan adik bungsu mereka yang masih SMP itu tinggal sendirian di rumah. Sebenarnya dua kakak ini merasa bersalah, namun ego mereka sudah tak terbendung lagi.

Setelah puas bertukar kabar dengan Shiho, Barou pun menyimpan handphone-nya dan fokus menatap adiknya yang berada di dekatnya.

"Kenapa, Aniki? Ada sesuatu di wajahku?" tanya Haruhi.

Barou terdiam cukup lama sampai akhirnya membuka suara. "Kalau kau membutuhkan sesuatu, apapun itu, datang kesini atau telpon aku."

Haruhi memiringkan kepalanya bingung. Kenapa tiba-tiba Barou bilang kayak gini? Kesambet apa?

[Thief] Blue Lock x Female Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang