Happy Reading.
🍂
Hope memasuki kamarnya, dia dan Kaivan memang tinggal bersama namun Hope tidak mengizinkan mereka untuk berada di satu kamar yang sama walaupan Kaivan memaksa.
Cewek itu meletakan tas sekolahnya di sofa dan merebahkan diri di kasur tanpa mengganti seragamnya.
Mereka baru selesai berkunjung pada Fay di rumah sakit. Hope menatap langit-langit kamarnya.
Sejenak dia merenung, mendadak terpikir hidupnya, Hope bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa gue harus hidup kayak gini?
Kenapa gue gak bisa hidup normal?
Kenapa gue harus punya masalah yang gak wajar?
Banyak pertanyaan memenuhi kepalanya membuatnya merasa hampa. Kenapa dia harus terlahir dari pasangan yang gila?
Kenapa dia harus tumbuh dengan tidak adil, memangnya dia barang yang bisa dititipkan begitu saja?
Kenapa harus dia yang menanggung semua penyiksaan itu. Ibu kandungnya ternyata bukan Hela, lantas kenapa dia harus menderita mengikuti gaya hidup Hela?
Kenapa Rian harus menjadi ayahnya? Kenapa dia harus sendirian lagi tanpa keluarga sedarah disisinya?
Seandainya dia lahir di keluarga yang baik, kaya dan mengurusnya dengan baik apakah dia tidak akan direndahkan?
Kenapa harus dia yang merasakan keluarga yang berantakan ini, kenapa harus dia yang menerima hal ini semua?
Kenapa?
"Hope..." Panggilan lembut Kaivan membuat Hope tersadar lamunannya. Hope menoleh ke arah pintu kamarnya.
Kaivan berdiri di pintu kamarnya sambil tersenyum. "Gue panggil udah tiga kali loh." ucap Kaivan
Hope segera bangun dan mengelus dahinya. "Sori, gak kedengaran. Kenapa?" tanya Hope membuat Kaivan menghampirinya.
"Kita belum makan, mau makan apa?" Tanya Kaivan membuat Hope memikirkan sesuatu.
"Lo masakin gue aja, gamau makanan luar." Ucap Hope membuat Kaivan tersenyum geli dan mengelus rambutnya.
"Pengen dimasakin calon suami nih?" goda Kaivan
Hope ikut tersenyum dan mengangguk, Kaivan mencubit gemas pipi Hope dan mengecupnya gemas.
"Mau makan apa?"
"Apa aja."
Kaivan mengangguk, "Oke, mandi dulu sana. Selesai mandi makanan pun selesai."
Hope pun segera mandi setelah Kaivan keluar dari kamarnya. Menghabiskan 15 menit lebih di kamar mandi Hope segera keluar dan berpakaian.
Cewek itu segera turun dan langsung mencium aroma sedap. Sepertinya Kaivan masih memasak.
Hope menatap punggung cowok itu yang masih sibuk dengan acara masaknya. Kaivan laki-laki yang bisa apa saja ini sedang tinggal bersamanya dan sedang memasak untuknya.
Hope memutuskan untuk menghampiri Kaivan, dia menengok melihat masakan Kaivan.
"Harum banget, masak apaan?" tanya Hope membuat Kaivan sedikit terkejut.
"Cepet banget mandinya, gue belum selesai masak." Seru Kaivan sambil memasang raut kesal.
"Sengaja mandi cepet, biar liat lo lagi masak." Ucap Hope jujur membuat Kaivan salah tingkah.
"Oke sayang, perhatikan baik-baik ya. masakan gue ini penuh cinta dan kasih!"
"Alay."
Kaivan tertawa dan segera mencium dahi Hope. "Duduk disana aja, nanti kena ciprat minyak goreng." ucap Kaivan membuat Hope mengangguk.
Hope duduk sambil memperhatikan dengan seksama pacarnya yang sedang memasak. Tiba-tiba Hope bersyukur karena Tuhan mengirimnya Kaivan disisinya.
Inikah hasil dari cobaan yang dia alami? Hope menghadapi masalahnya yang begitu rumit, namun dia mendapatkan Kaivan di sisinya.
Sosok yang mau menyayanginya, melindunginya, memberikan perhatian dan menjaganya, dan itu seharusnya dia dapatkan dari keluarganya tapi tidak bisa, namun Kaivan bisa memberikannya.
Apakah dia masih di sayang Yang Maha Kuasa sehingga Dia mau mengirim Kaivan dihidupnya? Hope tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Sudah lama dia tidak merasakan kasih sayang sebesar ini. Sedari kecil dia tidak pernah mendapatkan perlakuan hangat dari siapapun.
Bisa dibilang dia adalah anak yang tidak diinginkan, lahir dari perselingkuhan dan harus tumbuh dengan pribadi yang kaku dingin dan hampir tidak memiliki perasaan.
Begitu banyak pikiran bunuh diri di kepalanya, namun sejak bertemu Kaivan cowok itu benar-benar memenuhi isi kepalanya.
Ya, Kaivan si cowok galak yang sangat tampan dan pintar serta kaya raya itu adalah orang yang jatuh cinta padanya,
Perempuan yang tidak punya apa-apa selain hidup yang berantakan, kepribadian buruk, dan masa depan yang tidak jelas.
Apakah Hope sedang masuk ke dalam cerita dongeng yang mengisahkan gadis miskin dan pria kaya?
Hope tertawa sendiri dan terkejut Kaivan sudah didepannya sambil memegang piring berisikan hasil masakannya.
"Eh? udah selesai?"
Kaivan mengangguk dia menunjukkan masakannya. "Semoga suka, gue masak pake cinta soalnya." kekeh Kaivan kemudian menaruhnya didepan Hope.
Hope tersenyum geli, dia bertanya-tanya Kaivan masak apa karena cowok itu begitu serius didapur.
Ternyata Ayam goreng bumbu balado dan kentang goreng. "Makasi Kaivan, keliatan enak." Puji Hope membuat Kaivan tersenyum manis.
"Yakali ayam gaenak, gue pilih masak ayam karena kalo digoreng ayam tetep bakalan enak." kekeh Kaivan
Hope memakan sepotong paha ayam dan melotot. "Kok enak beneran?" ucapnya sambil memakan ayam itu lagi.
Kaivan tersenyum dan menyuapkan kentang pada Hope. "Ini juga enak."
"Buat kentang juga? keren."
Kaivan menggeleng sambil tersenyum dia mengangkat kentang goreng di tangannya. "Kalo ini tinggal goreng aja, soalnya udah jadi. beli di supermarket." ucap Kaivan jujur
Hope tersenyum. "Tapi tambah enak kalo lo yang masakin."
Kaivan tambah salah tingkah. "Bisa aja, kalo di masakin Gafriel masih enak gak?"
Hope mengubah wajahnya menjadi datar. "Gak, basi rasanya." ucapnya datar membuat Kaivan tertawa lepas dia mengelus sisa makanan di sudut bibir Hope dan menyodorkan air dingin.
"Minum dulu sayang, air ini gue ambil pake cinta juga."
"Jangan bikin gue muntahin makanannya sekarang."
Kaivan kembali tertawa lepas, sangat suka menggoda Hope yang reaksinya begitu sarkas dan kejam namun memabukkan dan candu.
Dasar bulol.
🍂
Thanks.
KAMU SEDANG MEMBACA
The High Class
Fiksi Remaja"We didn't choose to live like this." - Hopely Janetta Selamat datang di kisah seorang gadis remaja yang memiliki kehidupan yang berat, bahkan dia mengalami kemalangan sejak dari dia dilahirkan. Saat tumbuh beranjak dewasa tanpa kasih sayang dan per...
