61. Always You

415 31 7
                                        

Happy Reading!

🍂

Suasana kantin High Class saat ini terlihat begitu menegangkan. Padahal mereka sudah terbiasa dengan sikap Kaivan, tetapi tetap saja mereka selalu merinding ketika Kaivan bertindak.

Entah kenapa, aura Kaivan tidak hanya mendominasi, tetapi Kaivan memang terlihat orang yang menakutkan dan berbahaya.

Apalagi, cowok itu memiliki segalanya. Uang? Koneksi? Bahkan keluarganya terkenal di kalangan atas.

Karena asal-usul keluarga Kaivan, membuat mereka segan padanya dan sekaligus tunduk. Kaivan memang terlihat galak dan cuek.

Tetapi, mereka tahu. Siapa saja yang berani mengusik hidupnya pasti tidak akan tenang. Di usia remaja ini saja dia sudah terlihat begitu berkuasa, apalagi saat dia dewasa dan memegang semua kekuasaan Kakeknya.

Intinya mereka tidak berani mengganggu seorang Kaivan. Siapa yang mau hidup tidak tenang, silahkan coba saja mengusik cucu pertama dari keluarga itu.

Darlene merinding, dia segera menurunkan tangannya yang hendak menampar Hope.

Kaivan membuang sapu tangan yang dipakainya tadi untuk membersihkan seragam Darlene. Dia segera mengambil tisu basah antiseptik yang ada di meja kantin dan mengelap tangannya.

Padahal tadi Kaivan terlihat membersihkan seragam Darlene, kini dia menyeka tangannya dengan tisu basah.

Sungguh, eskpresi Darlene saat ini benar-benar membuat mereka ingin tertawa.

Hope tersenyum pada Darlene menunjukkan bahwa dia yang menang saat ini. Fay segera menariknya, mengajaknya untuk keluar dari kantin.

Hope dan Fay pun meninggalkan kantin.

"Maafin aku kak." Ujar Darlene, dia takut ditatap seperti itu oleh Kaivan.

Kaivan tersenyum sinis. "Masih mau gangguin Hope lagi?"

Darlene menggeleng, dia tidak berani menentang Kaivan.

"Tapi kenapa Kak Kaivan baik tadi, bantuin bersihin seragam aku?"

Kaivan kemudian membuang tisu basah di tempat sampah, dan berbalik kemudian berbisik pada Darlene.

"Gue penasaran. Kalo gue kayak gitu, Hope cemburu gak ya?"

Sialan, Darlene hanya dipermainkan. Di hati Kaivan, selalu hanya ada Hope, Hope, dan Hope.

Darlene menunduk, dia mengepalkan tangannya. Dia pikir Kaivan sudah mulai menyukainya, tapi ternyata dia memang hanya halusinasi.

Darlene berlari keluar dari kantin dengan perasaan sedih dan kesal, meninggalkan temannya Violet yang masih berdiri berhadapan dengan Kaivan.

Violet menatap Kaivan yang kini menatapnya, tatapan cewek itu menyipit. Dia heran dengan perbuatan Kaivan barusan.

"Ngapain kayak gitu sih?" Bisik Violet pada Kaivan saat cowok itu akan melewati nya.

Kaivan terkekeh, dia mengacak-acak rambut Violet dengan gemas.

"Anak kecil gak boleh ikut campur." Ucap Kaivan kemudian berlalu pergi dari kantin.

The High Class Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang