Happy Reading!
🍂
Fara tersenyum remeh setelah mendengar perkataan Hope yang begitu menusuk, dia mengambil air putih yang dipegang Hope kemudian meminumnya.
"Thanks, kebetulan gue haus." Fara tersenyum kemudian pergi dari hadapan mereka.
Hope menatap kepergian Fara, sepertinya Fara memang mencari masalah dengannya. Begitulah manusia, awal memendam setelah dirinya merasa hebat pasti akan memberontak.
Namun yang Hope bingung, kenapa Fara mengamuk padanya, mencampuri urusan cewek itu saja dia tidak pernah. Hope pun segera duduk kembali ketika dia dipanggil teman-temannya.
"Emang sinting ya, gangguan jiwa kali tu anak." Cibir Vincent sambil bergidik.
Fay terkekeh, "Mau nantangin Hope? Lihat aja siapa yang bakal lari terbirit-birit." Hope menghela nafasnya, sebenarnya dia malas berurusan dengan orang lain.
Kaivan yang menyadari itu menyentuh tangan Hope, "Mau keluar bentar? Atau mau pulang aja?" Tanya Kaivan dengan lembut.
Hope tersenyum tipis. "Keluar aja, nyari angin." Bisik Hope kembali membuat Kaivan mengangguk dan segera berdiri sambil menarik lembut tangan Hope.
"Kita keluar bentar." Ucap Kaivan singkat pada orang-orang yang duduk bersama mereka.
Fay mengangguk, dia mengerti perubahan mood Hope yang memburuk akibat Fara. "Maaf ya Hope, seharusnya dia ngejar gue. Tapi gue juga bingung kenapa tiba-tiba kayak gitu ke lo."
Hope tersenyum tipis, "Ngapain minta maaf, lo gak salah, gue juga gak begitu terganggu. Keluar dulu ya bentar." Ucap Hope dan diangguki lainnya.
Kaivan menggenggam tangan Hope terang-terangan didepan banyak orang, saat berjalan melewati kerumunan dan dihadapan petinggi-petinggi Luxurious serta guru-guru.
Benar-benar tanpa malu, dan sangat berani!
Sudah bukan rahasia melihat Kaivan yang begitu terang-terangan menunjukkan rasa sayangnya pada Hope. Hope benar-benar dicintai secara ugal-ugalan oleh Kaivan.
Hope tidak melihat sekitarnya, dia hanya fokus melihat tangannya yang digenggam Kaivan dan punggung cowok itu.
"Pelan-pelan Kai, gue kayak diseret keluar." Ucap Hope bercanda dengan nada datarnya.
Kaivan menyamakan langkah mereka, "Takut lo gak nyaman sama tatapan orang-orang, are you okay with that?"
Hope mengangguk, toh dia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian orang-orang, sudah terbiasa menjadi bahan pembicaraan mereka. Jadi, Hope tidak memperdulikan dan sudah kebal.
"Mau ke rooftop? Lihat city light dari atas bagus." Tanya Kaivan setelah dia berhenti berjalan.
Hope menggeleng, dia sudah menghabiskan banyak waktu di rooftop. Di sekolah dan Apartemen, dia terlalu banyak merenungkan banyak hal di atas sana.
Tak sedikit pun pemikiran untuk melompat dan mengakhiri hidupnya dari lantai paling atas itu. Hope menjauhi rooftop ketika dia memiliki banyak pikiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
The High Class
Fiksi Remaja"We didn't choose to live like this." - Hopely Janetta Selamat datang di kisah seorang gadis remaja yang memiliki kehidupan yang berat, bahkan dia mengalami kemalangan sejak dari dia dilahirkan. Saat tumbuh beranjak dewasa tanpa kasih sayang dan per...
