11. Restrained taste

654 50 2
                                        

Happy reading.

🍂

"Nih anak lagi ngapain sih." Kaivan melempar asal ponselnya ke atas ranjang miliknya. Mendadak merasa kesal karena Hope tak kunjung mengangkat panggilan telepon darinya.

Kaivan mengetuk meja dengan telunjuknya, seolah memikirkan sesuatu.

Setelah lama berpikir, Kaivan melirik jam tangannya. Sudah pukul sepuluh malam. Kira-kira sedang apa Hope saat ini. Rasa penasaran langsung menghinggapi Kaivan.

"Kalau gue ke rumah dia jam segini, dikira aneh gak ya?" tanya Kaivan pada dirinya sendiri.

"Ah bodo lah." ucap Kaivan kemudian langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk itu.

"Ngapain juga gue ke rumah dia." gumam Kaivan kemudian menutupi wajahnya dengan bantal.

🍂

Hope menyentuh tangan Hela yang begitu dingin. Lidahnya begitu kelu untuk mengucapkan sebuah kata, entah harus berbuat apa dan berekspresi seperti apa. Hope hanya bisa diam dan menahan apa yang dia rasakan saat ini.

Hope mengelus tangan Hela yang begitu pucat, dan dingin. "Kalau mau pergi kenapa harus terang-terangan?" tanya Hope dengan wajah tanpa ekspresi nya.

"Kenapa gak kayak papa, pergi diem-diem supaya aku gak tahu."

Dokter Zia mengamati Hope dari belakang gadis itu dengan tatapan iba.

"Mama gak ninggalin hutang atau apapun itu kan? Aku gak mau urusin masalah mama." ucap Hope kemudian meremas pelan tangan Hela.

Dokter Zia terlihat terkejut mendengar perkataan Hope untuk mamanya yang baru saja meninggal. Apakah itu terdengar wajar?

"Hope." panggil dokter Zia. Hope hanya melirik lewat ekor matanya.

"Kalau belum siap, tenangkan diri kamu setelah itu kalau udah siap, kamu bisa lihat mama ka-"

"Gak perlu dok, saya udah mau pergi." ucap Hope dengan senyuman tipis, sangat kecil membuat dokter Zia tak mengerti.

"Hope kamu ada masalah?" tanya dokter Zia.

"Saya boleh minta tolong?" tanya Hope, membuat Dokter Zia mengangguk saja.

"Saya gak bisa urus pemakamannya, saya gak punya waktu. dokter bisa mengurusnya?" Saat ini dokter Zia rasanya ingin menampar dan memarahi Hope melihat betapa kurang ajarnya Hope saat ini.

Namun, saat mengamati dengan baik tatapan Hope saat ini, dokter Zia yakin Hope benar tidak baik-baik saja. Hope terlihat menyembunyikan sesuatu yang sedari tadi ingin keluar.

Dokter Zia mengelus rambut Hope dengan lembut. "Iya, dokter akan urus pemakaman mama kamu, jadi Hope pulang terus istirahat ya?" Hope mengangguk kemudian berbalik badan dan berjalan.

"Kalau perlu bantuan lagi, jangan sungkan untuk minta bantuan sama dokter ya Hope." ucap dokter Zia.

Hope hanya diam dan kembali berjalan menjauh. Dokter Zia memandang punggung gadis itu. Dia rasa, Hope benar tidak baik-baik saja. Hope bahkan tidak menangis. apa sebenarnya yang membuat Hope begitu menahan rasa itu.

🍂

Kaivan berjalan melewati koridor, sambil memasang wajah datar dan cueknya. Memandang sinis orang-orang yang tersenyum dan menyapanya dengan ramah.

The High Class Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang