Happy Reading
🍂
Fay menatap punggung ibunya yang sedang duduk di sofa apartemen nya. Fallerie terlihat tenang namun Fay tahu, wanita itu pasti akan meledak.
"Duduk Fay." Sahut Fallerie membuat Fay berjalan pelan dan duduk di samping ibunya.
"Kenapa gak bilang apa-apa sama mama? tiba-tiba kamu ngilang, untung aja ada Barbara yang ngasih tau kalau kamu ada disini."
Barbara sialan! sejak kapan dia tahu kalau Fay sudah pindah ke apartemen. Fay mengepalkan tangannya yang mulai berkeringat dingin.
"Aku gak pengen repotin mama, mau mandiri." Ujar Fay membuat Fallerie tertawa pelan.
"Omong kosong!" kekeh Fallerie, dia menatap rendah anaknya yang sedang menunduk saat ini.
Fay tidak ingin terlihat lemah di depan ibunya, Fay harus melawan apapun yang terjadi. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Fallerie dengan tatapan tegas.
"Ini hidup aku, mama gak berhak ngatur terus." ucap Fay dengan nada bergetar, walaupun mencoba untuk tegas dia sangat takut saat ini. Berharap seseorang membawanya kabur sekarang juga.
Mereka dilanda keheningan, setelah Fay mengatakan itu Fallerie diam dan hanya menatapnya.
Tiba-tiba Fallerie tersenyum tipis kemudian mengelus rambut Fay. "Yaudah kalau kamu mau hidup mandiri, mama gak bakal maksa lagi kok." ucap Fallerie membuat Fay terdiam, ibunya sudah merelakan nya?
"Beneran?" Fay mulai merasa senang.
Fallerie tersenyum dan mengangguk, "Mama gak akan paksa kamu lagi, mama janji." Fay tiba-tiba tersenyum dia memeluk Fallerie dan berterima kasih.
"Makasi ma, Fay janji bakal jadi anak baik." Fay tidak tahu apa yang membuatnya mengatakan itu tetapi yang Fay rasa saat ini, mamanya telah membebaskannya dan ini sangat membuatnya senang.
Fallerie tersenyum dan memeluk Fay, dengan tatapan kosong dia berkata, "Iya, kamu bebas sekarang Fay. Mama gak akan paksa kamu lagi."
🍂
"Benar begitu Darlene? kamu mau kan jadi cucu kakek?"
Hope merasakan tubuhnya yang lemas, rasa panik, cemas, takut mulai melandanya. Apalagi saat Kaivan sudah jauh dari padanya lebih dari 2 langkah.
Kaivan meninggalkannya lebih dari satu detik, dan Hope hanya bisa menatap punggung yang membelakanginya saat ini.
Orang-orang mulai antusias bercerita akan perjodohan Kaivan dan Darlene.
Hope mulai merasa rendah diri, Hope berpaling dia ingin meninggalkan acara saat ini juga, namun suara Kaivan membuat tubuhnya berhenti.
"Hope!"
Hope terdiam, bahkan saat tangan Kaivan sudah berada di pinggangnya. Hope mematung dia merasakan tubuhnya meremang saat tangan Kaivan telah berada di pinggangnya.
"Tujuan saya disini bukan itu, saya ingin memperkenalkan pacar saya sekaligus tunangan saya, Hopely Janetta benar begitu Kakek?" Hope terkejut setengah mati, dia pikir Kaivan telah meninggalkannya.
"Kenapa pergi sih, belum aja gue kenalin udah maen pergi aja, mana ga ngajak lagi." bisik Kaivan dengan wajah kesalnya.
Hope tidak bisa berkata-kata lagi, dia merasa rendah diri berada di posisi saat ini tetapi saat Kaivan menatapnya menyebut namanya, Hope selalu hilang kendali, dia menjadi lupa diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
The High Class
Teen Fiction"We didn't choose to live like this." - Hopely Janetta Selamat datang di kisah seorang gadis remaja yang memiliki kehidupan yang berat, bahkan dia mengalami kemalangan sejak dari dia dilahirkan. Saat tumbuh beranjak dewasa tanpa kasih sayang dan per...
