Happy Reading!
🍂
Hope menatap Fay yang sedang terdiam, matanya memang menatap layar lebar dihadapan mereka, tetapi pikirannya tidak disitu.
Hope bisa tahu kalau Fay sedang tidak baik-baik saja.
"Are u okay?" Bisik Hope pada Fay membuat Fay tersadar dan menggeleng dengan senyuman tipis.
Mereka sedang sibuk menonton film horror di ruang nonton, dalam vila Kaivan. Ada beberapa yang sibuk menutupi wajah karena takut, dan ada juga beberapa yang terlihat penasaran akan wujud hantu di film tersebut.
Gafriel yang sedang duduk bersebelahan dengan Barbara menatap Fay yang terlihat tidak berekspresi. Sepertinya Gafriel telah berbuat salah besar.
"Gaf..." Barbara memanggil Gafriel membuat cowok itu menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Keluar bentar, aku mau ngomong sesuatu." Ucap Barbara kemudian berdiri lebih dahulu dan berjalan keluar dari ruangan itu. Gafriel pun mengikuti saja.
Itu semua tak luput dari pandangan Fay. Hope yang menyadari segera memegang lengan Fay dan mengelusnya lembut.
Fay tersenyum sinis, kemudian segera mengambil popcorn dan segera memakannya kemudian bersandar pada bahu Hope.
"Kenapa Bar?" Tanya Gafriel saat mereka sudah diluar. Barbara tersenyum tipis, dia menatap ke arah pemandangan pantai. Disini tempat Gafriel dan Fay berbincang tadi, dan itu semua diketahui Barbara.
"Aku lihat kamu gak fokus nonton, mending keluar kan." Ucap Barbara membuat Gafriel terdiam, sepertinya Barbara menyadari sikapnya.
"Gafriel, kamu inget gak? Pas kita kecil, kamu pernah nolongin aku karena jatuh dari sepeda, sampe kamu bujuk pake ice cream?" Barbara tersenyum tulus mengingat kenangan indah itu.
Gafriel tersenyum paksa. "Lo gak berhenti nangis, gue bingung mau gimana. Jadi ya gitu,"
Barbara tertawa kecil, namun bukan tawa bahagia, tetapi dia merasa sesak didadanya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Barbara membalikan badannya dan menatap Gafriel yang kini sedang menatapnya.
"Gaf, aku sayang kamu. Sayang banget, sejak awal pertemuan kita sejak kecil. Tapi, aku gak pernah ada dihatimu kan? Aku gak pernah jadi pilihan kamu."
Barbara mendekat pada Gafriel kemudian memeluk cowok itu. "Aku akan pergi Gafriel, aku gak akan ganggu kamu lagi."
"Aku gak akan muncul di hadapan kamu lagi."
Gafriel hanya diam, enggan membuka suara.
"Tapi ada syaratnya,"
Barbara melepaskan pelukannya, kemudian menyeka air matanya sendiri. Dia tersenyum tulus dengan hati yang sakit.
"Kamu harus bahagia, aku mau lepas kamu asal kamu benar-benar bahagia ya Gaf. Aku gak mau kamu gak bahagia."
"Karena, pas sama aku kamu gak pernah bahagia, jadi kalau udah gak sama aku, pastikan kamu bahagia ya Gafriel."
"Maaf kalau selama ini selalu buat kamu risih, benci, dan gak nyaman karena rasa sayang aku. Maaf kalau sempat terobsesi untuk memiliki kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The High Class
Ficção Adolescente"We didn't choose to live like this." - Hopely Janetta Selamat datang di kisah seorang gadis remaja yang memiliki kehidupan yang berat, bahkan dia mengalami kemalangan sejak dari dia dilahirkan. Saat tumbuh beranjak dewasa tanpa kasih sayang dan per...
