Happy Reading.
🍂
Chris memukul bola golf dengan perasaan kesal. Pria berumur 60 tahun itu menoleh ke arah sekertarisnya dan mengisyaratkan pada sekertaris itu untuk menghampiri nya.
"Kaivan tidak membalas pesanku?" tanya Chris dengan nada jengkel.
"Tidak tuan, tuan muda Kaivan tidak membalas." Sahut sekertaris Chris. Chris tersenyum sinis, Kaivan benar-benar mengabaikannya.
"Anak itu bagaimana, masih sering bersama Kaivan?" Tanya Chris membuat Henry sekertarisnya mengangguk.
"Saya sudah mencari tahu, tuan muda Kaivan sedang tinggal satu apartment dengan Hope."
Chris meremas tongkat golfnya menahan amarah yang tiba-tiba ingin meledak. Kaivan dan Hope tinggal bersama?!
Benar-benar parasit. Hope adalah racun bagi Kaivan dan tentu baginya. Kalau begini bisa saja dia benar-benar kehilangan cucu berharganya sekaligus pewarisnya.
"Grania dimana sekarang?"
"Di butik tuan."
"Panggil dia sekarang!"
🍂
Kaivan tersenyum kepada Hope yang sedang mengeringkan rambutnya saat ini menggunakan handuk. Kaivan baru saja selesai mandi karena sudah mandi keringat habis main basket tadi.
Mereka saat ini berada di ruang ganti High Class, namun disini ruang ganti milik pria tetapi karena hanya Kaivan yang disini, Kaivan menyuruh Hope untuk masuk juga.
"Cantik banget sih." Puji Kaivan sambil mengusap kepala Hope membuat cewek itu mengernyit.
"Cantik? pucet gini dibilang cantik." kekeh Hope membuat Kaivan menggeleng.
"Enak aja bilang pacar gue pucet, lo cewek ternatural dan yang tercantik yang pernah gue lihat. Gak perlu make up tebel-tebel udah cantik pake banget." Ucap Kaivan dengan senyuman manisnya.
Hope tersenyum tipis. "Gue pake sunscreen sama lip balm. Gue gak se-natural itu." ucap Hope jujur membuat Kaivan melihat ke arah bibir Hope.
"Mau cium boleh gak?" tanya Kaivan membuat Hope memukul bibir cowok itu.
"Sengaja bawa gue kesini buat cabulin gue?" Tanya Hope bercanda membuat Kaivan melotot kemudian mengecup cepat bibir yang dipakaikan lip balm itu.
Hope menggelengkan kepalanya melihat keberanian Kaivan. Cowok itu benar-benar gila, kalau ketahuan sekolah bisa gawat mereka.
Eh? bukannya pemilik sekolah ada disini. Hope menghela nafasnya, dia lupa sejenak siapa Kaivan sebenarnya.
"Ayo, kelas musik mau dimulai. Lo paling suka kan kelas musik?" Ucap Kaivan menyadarkan lamunan Hope membuat cewek itu segera berjalan melewati Kaivan dan menuju kelas.
"Tungguin dong sayang!"
Baru saja Kaivan akan menyusul Hope, ponselnya bergetar membuat cowok itu mengecek notifikasi yang masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
The High Class
Ficção Adolescente"We didn't choose to live like this." - Hopely Janetta Selamat datang di kisah seorang gadis remaja yang memiliki kehidupan yang berat, bahkan dia mengalami kemalangan sejak dari dia dilahirkan. Saat tumbuh beranjak dewasa tanpa kasih sayang dan per...
