Happy Reading!
🍂
Grania menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, dia sudah lelah berdebat dengan Chris yang tidak ada henti-hentinya.
"Papa, Kaivan bahagia. Aku belum pernah lihat dia sebahagia itu kalau sama orang lain." Grania sudah berkaca-kaca, Ayahnya sangat keras kepala ingin menjauhkan Hope dengan Kaivan.
"Jangan ganggu mereka, aku tahu Hope bakal keluar negeri karena ancaman papa."
Chris berdecak kesal. "Kamu tidak akan mengerti Grania. Untuk apa aku mendidik Kaivan dengan sempurna kalau hanya akan memberikan dia pada perempuan rendahan!"
Grania mengusap wajahnya frustasi, saat ini mereka sedang berada di ruang kerja ayahnya. Sedari tadi berdebat mengenai Kaivan dan Hope.
"Kamu gak akan mengerti menjadi aku! Sekarang jangan membela lagi, aku akan melakukan apa saja untuk membuat cucuku bahagia."
Grania muak! Dia sangat lelah berdebat dengan Chris yang memiliki pemikiran yang sangat menyebalkan.
"Kaivan itu milik aku, hidupnya punyaku! Dia gak akan bisa lepas dariku. Bahkan, perempuan rendahan itu tidak akan pernah bisa merampasnya!"
Grania sudah tidak tahan lagi, dia benci semua ini. Ayahnya tidak waras lagi. Grania muak!
"PAPA!" Bentakan Grania membuat Chris terkejut. Sejak kapan anak perempuannya berani membentak?
"Hidup Kaivan punya Kaivan! Aku ngelahirin Kai didunia ini, bukan untuk jadi babu papa!"
"Grania kamu ber—"
"Bahagia? Papa mau Kaivan bahagia?" Grania tertawa getir, dia benar-benar tidak tahan lagi dengan ayahnya.
"Bahagia bagaimana kalau papa udah merenggut semua kebahagiaan Kaivan?" Grania meneteskan air matanya.
Grania telah menahan sakit bertahun-tahun melihat anaknya diperalat oleh Chris. Dan kini, setelah melihat Kaivan menemukan kebahagiaannya, Chris malah seperti ini.
"Selama dia tinggal bersama papa, apakah pernah lihat Kaivan tertawa lepas? Pernah mendengar Kaivan cerewet? Dia hanya hidup dalam ketegangan dan keseriusan, dan diajarkan untuk selalu serakah terhadap sesuatu."
"Letak bahagia Kaivan dimana papa?"
Chris mengepalkan tangannya, perkataan Grania tidak mempan padanya. Tetap saja, Kaivan adalah penerusnya yang sempurna, dan selamanya akan seperti itu.
"Kalau kamu hanya akan membela si miskin itu mending kamu pergi Grania. Aku tetap pada pendirianku!"
"Kaivan tidak akan pernah bersama perempuan miskin itu!"
Grania menatap Ayahnya tidak percaya. Tentu saja kecewa. Chris adalah ayah yang buruk, tidak pernah menunjukkan belas kasihan. Kejam, dan tidak memiliki perasaan.
"Sebaiknya jangan menghalangiku. Aku pun tidak bisa berjanji untuk tidak bertindak kalau kamu ikut menghalangi jalanku Grania."
See? Apakah seorang Ayah pantas mengatakan hal itu pada anak perempuannya? Chris tidak waras lagi.
Dengan berani Grania mengangkat wajahnya dan menatap Chris tak kalah tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
The High Class
Tienerfictie"We didn't choose to live like this." - Hopely Janetta Selamat datang di kisah seorang gadis remaja yang memiliki kehidupan yang berat, bahkan dia mengalami kemalangan sejak dari dia dilahirkan. Saat tumbuh beranjak dewasa tanpa kasih sayang dan per...
