93. bangga

2K 182 7
                                        

 pagi itu, rumah keluarga Aksara udah lebih rame dari biasanya. Salma lagi duduk di meja makan sambil ngecek ulang isi tas Nadira bedak, sisir, pita rambut, dan sepatu panggung warna emas yang baru dibeli dua hari lalu.

Rony keluar dari kamar sambil bawa kemeja batik warna terang. "Sayang, ini batik aku kejauhan gak ya warnanya? Kayak... host kuis 90-an gitu."

Salma noleh sambil cekikikan, "Mas, kamu mau nonton pentas anak TK, bukan jadi MC lomba karaoke. Ganti deh, yang abu-abu aja."

Nadira muncul dari balik pintu, pakai kostum panggungnya rok tutu warna kuning, kaos putih dengan bintang di dada, dan topi kecil bertabur glitter.

"BUUNDAAA! Kakiku dingin, boleh pakai kaus kaki warna pink enggak?"

Salma senyum lebar, langsung nyamperin dan jongkok di depan putri bungsunya. "Boleh dong. Yang penting kamu nyaman. Hari ini adek jadi bintang di panggung, kan?"

Nadira manggut-manggut, matanya semangat banget, tapi wajahnya sedikit tegang.

"adek grogi nak?" tanya Rony sambil ganti baju di tangga.

Nadira bisik pelan, "Iya ayah. Takut lupa gerakan."

Salma pegang kedua tangan kecilnya. "Gak usah takut. Liat penonton aja, ada Bunda dan Ayah duduk paling depan. Senyum ke kita , dan joget kayak di rumah."

Nadira nyengir, "Kalau aku joget kayak di rumah, nanti panggungnya goyang semua."   

Tiba-tiba dari arah dapur, terdengar suara ketawa. Nay muncul sambil bawa gelas smoothie setengah penuh.

"Ya ampun, Dek! Panggungnya goyang semua? Jangan-jangan yang joget bukan kamu, tapi gempa."

Nadira langsung manyun kecil. "Kak Nay jahat."

"Tapi jahatnya penuh cinta," Nay nyengir dan mencium ubun-ubun Nadira. "Nanti Kakak gak bisa ikut nonton karena ada banyak pesanan di toko, ada kursus juga. Tapi Kakak minta videonya ya! Harus semangat, harus tampil paling kece!"

Nadira senyum-senyum kecil, mulai keliatan makin percaya diri.

Tak lama kemudian, El nongol dari kamarnya. Rambutnya masih awut-awutan, satu mata masih merem setengah.

"Ada yang bikin gaduh dari jam tujuh pagi... oh, ternyata sang bintang kita hari ini." El menguap, tapi langsung duduk di lantai depan Nadira, dan senyum lebar.

"Kamu nervous, ya?" Nadira pelan-pelan angguk.

El tepuk tangan sekali, "Berarti adek normal. Semua orang besar nervous sebelum tampil."

"Termasuk bang El?" tanya Nadira sambil duduk di depannya.

"Termasuk. Tapi bedanya..." El ambil tangan Nadira dan pura-pura bisik rahasia, "...abang gak pernah tunjukin itu ke orang lain. Kamu juga bisa, Dek."

Rony yang dari tadi nguping sambil ganti baju nyeletuk, "ayah kamu juga pernah nervous. Waktu mau nikahin Bunda. Tangannya dingin kayak ikan beku."

Salma ketawa. "Dan dia sampe tiga kali balik ke mobil karena kelupaan bawa cincin."

Nadira tertawa geli, lalu berdiri tegak, tangan di pinggang. "Oke! Adek siap tampil!"

Nay kasih toss. "Pokoknya kalau kamu tampil keren, nanti Kakak traktir es krim."

El juga angkat tangan, "Kalau kamu gak nangis di panggung, abang beliin stiker kelinci yang kamu suka."

Nadira mendadak mata berbinar. "Yess! Deal!"

Rony angkat alis. "Kalau gitu Ayah kasih hadiah juga. Kalau kamu bisa bikin semua orang tepuk tangan keras, Ayah izinin kamu nonton satu episode Paw Patrol malam ini."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang