87. hangat

2.7K 221 12
                                        

 Suara pagar dibuka pelan, disusul mobil nadira masuk halaman rumah lalu langkah kaki ringan mendekati pintu depan. Tak lama, daun pintu terbuka, dan masuklah Nay, masih dengan apron toko bunga tergantung di lengannya, rambut dicepol seadanya, dan wajah sedikit lelah tapi tetap manis.

"Assalamu'alaikuuuumm..."

Salma yang sedang duduk di sofa langsung nengok dan berdiri, senyumnya sumringah. "Wa'alaikumussalam! Kakak Nay pulang nih!" teriaknya

Dari lantai, El yang masih selonjoran sambil ngemil biskuit langsung teriak, "Naaaayy, kamu pulang cepat bener hari ini? Toko kebakaran?"

Nadira yang tadinya asyik nonton TV langsung berdiri, nyeret selimut kecilnya dan lari ke arah pintu, nyaris nyandung karpet. "Kak Naaaay!! Kak Nay bawa bunga engga??"

Nay tertawa sambil buka sepatu. "Bawa diri aja udah syukur, dek!"

Nadira udah meluk kakinya sambil celoteh, "Kak Nay baunya kayak toko bunga. Tapi campur es krim. Aneh!"

Salma mendekat, bantu Nay bawa tas kain berisi beberapa bungkus kertas craft. "hari ini Pulang lebih cepat kak?"

"iya bun, tadi sepi pas sore . Jadi tutup aja jam setengah empat. Capek juga, tadi sempat delivery buat acara lamaran orang," jelas Nay sambil melonggarkan ikat rambutnya.

El bangkit, ambil segelas air buat Nay, "Nih, minum dulu. Terus sana bersih-bersih, nanti bantuin Bunda di dapur. Biar aku lanjut ngemil."

Nay nyengir, "Kerja samamu janggal, Bang."

Nadira ngangkat tangan, "Kak Nay, habis mandi turun lagi yaa! adek mau cerita soal gambar bunga yang miring keluar garis tapi kata Bunda itu ekspresip!"

"Ekspresif," koreksi Salma sambil cekikikan.

Nay elus kepala adiknya, "Oke, nanti kita bahas teori seni modern ya. Sekarang kakak mandi dulu, sebelum bau toko bunga beneran nempel di sofa."

 Setelah mandi dan ganti baju santai, Nay turun lagi ke dapur, rambutnya kini dikuncir rapi dan wajah segar. Di dapur, Salma sudah sibuk menyiangi sayur, dan aroma ayam goreng mulai tercium dari penggorengan.

"Aku motongin timun aja deh, Bun," kata Nay sambil ambil pisau kecil.

"Boleh. Di kulkas ada tomat juga buat lalapan."

El lewat sambil nyanyi-nyanyi, ngelirik ke dapur. "Wah, dua generasi koki nih. Makan malam dijamin sukses."

"Bang El, kamu bantu apaan?" tanya Nay.

"Aku bantu makan. Itu kerja penting," jawab El santai lalu jalan ke ruang TV.

Nadira ikut nimbrung ke dapur sambil bawa boneka, "Kak Nay, nanti ayamnya buat adek tiga ya."

"Tiga? Kamu mau tanding makan sama Bang El?"

"Engga, satu buat adek, satu buat boneka kelinci, satu buat cadangan kalau rasa ayamnya enak banget!"

Salma dan Nay tertawa bareng. "Dira udah kayak manajer logistik," goda Nay.

 Nay sibuk memotong timun dan tomat di talenan, sementara Salma sedang mengaduk tumisan bumbu di wajan. Aroma bawang putih dan serai mulai memenuhi udara, berpadu dengan bau ayam goreng yang renyah di rak saringan.

"Bun, tadi ada pelanggan langganan yang mau pre-order bunga buat acara syukuran anaknya. Dia bilang suka banget rangkaian bunga kita yang tema pastel itu," cerita Nay sambil motong timun rapi.

Salma menoleh sebentar, matanya berbinar bangga. "Wah, bagus dong. Berarti usaha kamu makin mantap, Nay. Bunda seneng banget."

"Alhamdulillah. Tapi ya itu... tanganku pegel, Bun. Dari pagi megang gunting bunga terus padahal ada yang bantu tapi masih kerasa pegel." Nay pura-pura merintih.

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang