Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

94. Tempat Kembali

1.8K 154 4
                                        

Pagi itu langit Jakarta tampak biasa saja biru pudar, sedikit awan tipis, dan matahari yang mulai hangat menyentuh genteng rumah keluarga Aksara. Tapi di dalam rumah, hati Salma tak tenang.

Ia duduk terpaku di sofa ruang keluarga. Daster biru langitnya tampak lecek karena ia belum sempat bersiap. Di pangkuannya, ponsel menyala dengan berita terbaru dari sebuah portal hiburan besar 

"Elvano Tertangkap Kamera Bersama Wanita Misterius di Malam Hari!"

Foto buram menampilkan sosok pria berhoodie hitam dengan masker, berjalan berdekatan dengan seorang perempuan muda berambut panjang. Keterangan di bawahnya membubuhkan waktu dan tempat dini hari tadi, di depan salah satu hotel mewah ibukota.

Salma membaca ulang berita itu berkali-kali, seolah berharap maknanya berubah. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia tahu dunia hiburan kejam ia pernah melihatnya saat Rony dulu  Tapi kali ini, itu anaknya. Anaknya yang ia besarkan sendiri dengan penuh cinta, yang ia dampingi sejak pertama kali belajar menyanyi, yang ia tunggui sampai tengah malam sepulang manggung Elvano.

"Ya Allah...," lirihnya pelan. Tangan Salma gemetar saat meletakkan ponsel ke meja. Ia memejamkan mata, lalu berdiri.

Rony muncul dari dapur dengan dua cangkir teh hangat. Baru saja ia hendak tersenyum, tapi wajah istrinya membuatnya urung. Ia langsung duduk di samping Salma.

"Ada apa sayang?" tanyanya lembut.

Salma hanya menyodorkan ponsel. Rony membaca cepat. Matanya mengerut sedikit, tapi tidak kaget.

"Berita lagi?" gumamnya, setengah nada getir.

Salma mengangguk, suaranya pecah, "Mas... mereka nulis seolah-olah El itu playboy... pulang dari klub... dan perempuan itu aku bahkan nggak tahu siapa. Aku takut, Mas... kalau ini beneran jadi bahan omongan se-Indonesia..."

Rony menghela napas. "Aku ngerti. Tapi... kamu juga tahu, ini risiko dari dunia dia sekarang. Paparazzi, framing, headline melebih-lebihkan. Kita gak bisa kontrol itu."

"Tapi kita bisa kontrol siapa yang kita percaya," ujar Salma dengan suara serak. "Dan aku... aku percaya El. Tapi aku takut dia nyembunyiin sesuatu karena takut kita kecewa."

Rony memegang tangan istrinya. "Kita panggil dia nanti sore. Biar dia cerita sendiri. Tapi sekarang... tarik napas dulu. Ingat, kamu ibu dari penyanyi paling bersinar tahun ini. Tapi kamu juga tetap ibu dari anak yang... kadang cuma butuh dipeluk, bukan diinterogasi."

Salma mengangguk pelan. Matanya berkaca, tapi ia tidak menangis. Belum. 

***

El pulang sore harinya. Ia menjejak lantai rumah pelan-pelan, seperti seseorang yang tahu ia sedang jadi pusat badai.

Ia berjalan menuju ruang tengah. Salma sudah duduk di sana. Wajahnya tenang, tapi ada sorot lelah di matanya. Rony duduk di sampingnya, dengan ekspresi netral tapi siaga.

El berdiri tegak di depan mereka. "Bunda... Ayah... kalian udah lihat?"

Salma tidak langsung menjawab. Ia berdiri, menghampiri putranya, dan memeluknya. Lama. Tanpa kata-kata. El diam, tubuhnya sedikit menegang, tapi kemudian pelan-pelan ia membalas pelukan itu.

"bunda percaya sama kamu," bisik Salma akhirnya.

El menarik napas. "difoto Itu memang abang bun. Tapi bukan seperti yang mereka tulis. Abang habis take vokal bareng partner duetku namanya liona. Studio kelar jam dua pagi, dia mau pulang tapi susah dapet mobil. Abang antar pakai mobil ke hotel tempat dia nginap. Udah. Nggak ada yang lain."

Rony menatapnya tajam, bukan dengan curiga, tapi dengan kehati-hatian. "Kamu yakin kamu nggak bohong, bang? Kita bisa hadapi media, netizen, bahkan haters... tapi kita gak bisa hadapi ketidakjujuran."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang