163. protektif

958 80 16
                                        

Rony masih memeluk istrinya erat bahkan setelah tangis mereka perlahan reda.

Mukanya masih nyender di bahu Salma, tangannya melingkar hati-hati di pinggang perempuan itu seolah takut kalau dilepas sedikit aja Salma bakal hilang lagi.

Sedangkan Salma terus ngelus rambut belakang kepala suaminya pelan, pelan banget.

Kayak dulu, kayak malam-malam waktu Rony pulang kerja capek lalu rebahan di pangkuannya sambil minta dielus sampai ketiduran.

Dan ternyata bahkan setelah semua ini Rony masih Rony yang sama. Pria itu pelan-pelan menggesek pipinya ke leher Salma manja tanpa malu.

"Mas..." Salma ketawa kecil serak sambil ngusap rambutnya lagi.

"Hm..."

"Kamu berat."

"Biarin."

Salma akhirnya senyum kecil beneran.

Rony makin mendekat lalu merebahkan kepalanya di dada istrinya pelan banget, hati-hati sama kondisi tubuh Salma.

"Tetep elus..." gumamnya lirih dengan mata terpejam.

Hati Salma langsung anget sekaligus nyeri. Karena sesakit apa pun hidup mereka sekarang ternyata laki-laki ini masih nyari tenang di dirinya.

Masih pulang ke dia.

Salma terus mengelus rambut Rony pelan sampai napas pria itu mulai lebih tenang.

"Mau tidur lagi?" tanyanya lembut.

Rony geleng kecil tanpa buka mata. "Enggak."

"Terus?"

"Mau gini aja."

Salma ketawa kecil lagi sambil nyeka sisa air mata di bawah mata suaminya pakai ibu jarinya. "Manja."

"Iya emang" jawab Rony cepet tanpa malu sedikit pun.

Salma menggeleng pelan gemas.

Beberapa menit mereka cuma diam. Cuma saling nempel sambil menikmati tenang yang udah lama banget rasanya hilang.

Sampai akhirnya Salma menggigit bibir pelan lalu berbisik kecil, "Mas..."

"Hm?"

"Aku mau ke kamar mandi, bantuin"

Dan detik itu juga Rony langsung bangun, refleks banget.

"Kenapa gak bilang dari tadi?" dia langsung turun dari ranjang buru-buru.

Salma cuma ketawa kecil lihat perubahan ekspresinya yang langsung siaga total.

Rony mendekat ke sisi ranjang lalu tanpa banyak ngomong langsung nyelipin satu tangan ke punggung istrinya dan satu lagi ke bawah lututnya.

"Mas aku bisa pake kursi roda.."

"Dingin lantainya." potong Rony cepat.

Detik berikutnya tubuh Salma udah terangkat pelan ke pelukan suaminya.

Automatis, seolah tubuh itu memang tempat paling biasa buat Salma.

Salma refleks melingkarin tangannya ke leher Rony pelan sambil ngelihat wajah suaminya dari dekat.

Masih keliatan capek, masih keliatan kurang tidur tapi sekarang lebih tenang.

Rony ngebawa istrinya ke kamar mandi hati-hati banget, pelan gak ada gerakan kasar sedikit pun.

Begitu sampai dia bahkan udah lebih dulu ngecek lantainya licin atau enggak.

"Pegang aku ya," bisiknya lembut.

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang