126. bully

1K 76 21
                                        

 Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik, tapi aroma telur gulung keju dan nasi goreng sosis sudah memenuhi dapur rumah keluarga aksara. Salma bergerak lincah di antara kompor dan meja makan, tangannya cekatan membungkus bekal Nadira dalam kotak makan berwarna pastel bergambar kelinci.

"Nasi goreng bentuk hati, telur gulung pipih, dan potongan buah naga bentuk bintang..." gumam Salma, tersenyum puas melihat hasil kreasinya. Ia tahu Nadira senang jika makan siangnya berwarna-warni.

Dari balik pintu, suara langkah kecil terdengar. Nadira berdiri di ambang, memakai seragam dengan dasi yang sedikit miring dan rambut dua kuncir yang mulai lepas. Wajahnya datar. Tidak ada senyum pagi seperti biasanya.

"Nadira sayang, yuk sini. bunda udah siapin bekalnya," ujar Salma ceria, menepuk kursi di sebelahnya.

Nadira berjalan pelan. Duduk. Tapi tak bersuara. Matanya memandangi meja, jemarinya memainkan ritsleting tas.

Salma melirik. Alisnya sedikit berkerut. Ada yang tidak biasa. "adek?" panggilnya pelan. "Kenapa? Hari ini ulangan? Atau PR kamu belum selesai?"

Gadis kecil itu menggeleng pelan, tapi masih tak berkata apa-apa. Baru setelah Salma menyentuh tangan mungilnya, Nadira bersuara. Pelan. Hampir seperti bisikan yang takut terdengar oleh udara.

"bunda... boleh nggak... hari ini adek nggak bawa bekal?"

Salma terdiam sejenak. "Lho, kenapa? Kamu kan biasanya senang banget bawa bekal. Katanya pengen makanan yang lucu-lucu kayak di YouTube itu?"

Nadira menunduk lebih dalam. Matanya mulai berkaca. Tapi ia menahannya. Dengan keras.

"Temen-temen bilang... bekal adek norak," lirihnya.

Salma terdiam. Tangannya yang tadinya sibuk memasukkan sendok kecil ke dalam kotak kini berhenti. Ditatapnya wajah anaknya dengan perlahan.

"Maksudnya... siapa yang bilang?"

"Kay," jawab Nadira cepat. "Dan temen-temennya. Katanya aku manja, kayak bayi. Tas baruku katanya norak. Terus... waktu aku cerita soal bekal bentuk beruang kemarin, dia malah ketawa dan bilang aku sok pamer."

Salma duduk. Ia menggenggam tangan Nadira erat.

"Sayang... kamu denger bunda, ya. Bekal yang bunda siapkan itu karena bunda sayang. Bukan buat kamu pamer. Dan kamu... Nadira, nggak salah karena suka hal-hal lucu. Itu bagian dari siapa kamu."

"Tapi kenapa mereka nggak suka adek, bun?" bisik Nadira. Air matanya akhirnya jatuh satu-satu, membasahi pipi. "Adek nggak pernah ganggu mereka... adek cuma pengen teman..."

Salma menarik napas dalam, menahan emosi yang mulai mendidih. Bukan pada Nadira. Tapi pada dunia. Dunia kecil yang ternyata bisa sama kejamnya dengan dunia orang dewasa.

"Kadang," katanya sambil mengelus kepala putrinya, "orang bisa merasa terganggu bukan karena kamu salah, tapi karena mereka belum tahu cara bahagia dengan diri sendiri. Kadang, mereka melihat hal lucu atau cerah... dan merasa gelap di dalam diri mereka makin kelihatan."

Nadira tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepala ke lengan ibunya.

"bunda... kalau bekel adek nggak lucu-lucu lagi, apa mereka mau jadi temanku?" tanyanya lirih.

Salma terdiam sejenak. Lalu menatap anaknya, memastikan kata-katanya jelas, utuh, dan tertanam dalam.

"Dira... teman yang baik, akan suka kamu apa adanya. Kamu nggak perlu berubah supaya mereka mau dekat. Dan bunda janji... kamu nggak akan sendirian. Kalau kamu merasa takut atau sedih, bunda sama ayah akan selalu jadi tempat pulang."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang