Pagi itu, nama Nay tiba-tiba berseliweran di mana-mana. Foto dirinya yang dipajang di billboard besar di jalan utama kota jadi spot wajib selfie. Di Instagram, orang-orang nge-tag dia di story, ada yang muji, ada yang cuma numpang rame.
Awalnya Nay senyum-senyum sendiri. Tapi begitu jarinya kebablasan buka kolom komentar, perasaan hangat itu pelan-pelan berubah jadi dingin.
"Ah, paling cuma modal keluarga kaya."
"Biasa aja. Banyak yang lebih cantik."
"Wajahnya polos, karismanya kurang. Nepotisme alert."
Nay menelan ludah. Hatinya seperti diremas. Ia matikan layar ponsel, nyalain lagi, lalu... kebiasaan buruk itu berulang scroll, baca, bandingkan, terluka.
Sore harinya di ruang keluarga, El lagi selonjoran di sofa, headset nyantol sebelah, game di-pause. Nay masuk tanpa suara, meletakkan tas pelan-pelan.
El melirik, senyum jail muncul otomatis.
"Wih, baru pulang. Hati-hati, Nay. Besok-besok kalau jalan keluar harus dikawal, takut fans nyergap minta tanda tangan."
Nay cuma menghela napas dan duduk di ujung sofa lain. "Bang... jangan bercanda dulu."
El langsung menurunkan kakinya, nada suaranya ikut serius.
"Kenapa? Ada apa?" tanyanya serius
Nay ragu sejenak, lalu menyodorkan ponsel. Di layar, komentar-komentar tajam berjejer.
El membaca cepat, alisnya terangkat.
"Ah, beginian mah... skip aja. Netizen emang pinter ngetik, belum tentu pinter mikir."
Nay menggeleng, suaranya rendah.
"Tapi yang mereka bilang itu... sakit, Bang. Kayak... semua usaha nay itu nggak dianggap."
El menatap adiknya, mencoba santai tapi jelas protektif. "Nay, mereka nggak kenal kamu. Mereka cuma lihat permukaan, ngira semuanya gampang. Udah, jangan diambil hati."
Nay menoleh, mata mulai bening.
"Buat Abang gampang ngomong gitu. Abang udah kebal. Abang penyanyi, tembus label, sering dihujat juga mungkin udah biasa. Tapi aku... aku baru banget di sini bang, baru terjun ke dunia ini."
El menghela napas, nada suaranya tak sengaja meninggi sedikit.
"Justru karena baru, jangan ditelan semua nay! Ngapain ngasih ruang ke orang-orang yang nggak penting?"
Nay terdiam, rahangnya mengeras.
"Bagi Abang mungkin 'nggak penting'. Tapi buat aku, itu kata-kata yang nancep. nay manusia, bang el. nay takut... kalau mereka bener? Kalau aku cuma cantik doang dan... kosong?"
Hening menggantung. El menatap adiknya lebih lama, menahan diri untuk tidak mematahkan kalimatnya dengan gurauan.
Salma lewat sambil bawa piring buah, berhenti ketika melihat wajah Nay. "Ada apa, Nak?"
Nay buru-buru menyeka sudut matanya.
"Gpp, Bun... Nay cuma capek."
El menahan helaan napas kedua, memilih diam supaya keadaan nggak meledak. Salma meletakkan piring, menepuk bahu Nay lembut.
"Kalau capek, istirahat ya. Jangan kebanyakan baca komentar. Manusia itu lebih suka berisik daripada berbuat. Makan buah dulu."
Nay mengangguk kecil. Salma berlalu, aura rumah kembali teduh. Tapi sisa tegang di udara masih terasa.
El berdiri, menepuk pelan sandaran sofa.
"Abang bikin susu hangat. Kamu tunggu sini."
Nay bukannya diem malah beranjak dari sana lalu menuju kamar miliknya
Di kamar, lampu meja menyala hangat. Nay duduk memeluk bantal, ponsel tergeletak terbalik. El masuk pelan, menaruh segelas susu di nakas.
"Minum dulu," ucapnya datar, tapi sorot matanya lembut.
Nay mengambil gelas dua tangan, menyesap sedikit.
"Makasi, Bang."
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomanceRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
